Kabut Asap Selimuti Mahakam, Nakhoda Diminta Kurangi Kecepatan dan Waspadai Tabrakan

Foto: Istimewa

Kabut Asap Selimuti Mahakam, Nakhoda Diminta Kurangi Kecepatan dan Waspadai Tabrakan

Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Kemunculan Kabut Asap di Sungai Mahakam Nakhoda Kapal Diminta Batasi Kecepatan dan Tingkatkan Kewaspadaan menjadi perhatian serius bagi otoritas pelayaran di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Dinas Perhubungan (Dishub) Kukar mengimbau seluruh nakhoda kapal yang beroperasi di Sungai Mahakam dan perairan lainnya untuk menyesuaikan kecepatan serta meningkatkan kewaspadaan lantaran kabut asap masih membatasi jarak pandang. Imbauan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dishub Kukar, Ahmad Junaidi, pada Kamis (15/10/2026), menyusul laporan kondisi asap yang cukup pekat di sejumlah wilayah.

Junaidi menjelaskan ada empat faktor utama yang menentukan keselamatan pelayaran. Pertama, sumber daya manusia (SDM) atau nakhoda dan awak kapal. Kedua, kondisi kapal yang harus laik laut. Ketiga, lingkungan atau cuaca yang tidak bisa dikendalikan. Keempat, sarana pendukung navigasi yang memadai. “Keselamatan pelayaran itu ada empat faktor utama. Pertama SDM, kedua kondisi kapal, ketiga lingkungan atau cuaca, dan keempat sarana pendukung navigasi,” kata Junaidi.

Dalam situasi jarak pandang terbatas akibat Kabut Asap di Sungai Mahakam Nakhoda Kapal Diminta Batasi Kecepatan dan Tingkatkan Kewaspadaan, nakhoda diwajibkan mengendalikan kecepatan kapal sesuai kondisi perairan. Mereka juga harus memperhitungkan keberadaan kapal lain untuk mengantisipasi potensi tabrakan. Kewaspadaan ekstra diperlukan bagi pengguna kapal kecil seperti ces dan ketinting yang banyak beraktivitas di wilayah hulu Kukar. Ukuran kapal yang relatif kecil membuatnya lebih sulit terlihat oleh kapal lain ketika perairan diselimuti kabut asap.

Risiko juga muncul ketika kapal kecil berpapasan dengan kapal besar, seperti tongkang pengangkut material. Kapal besar memiliki kemampuan manuver yang lebih terbatas sehingga membutuhkan ruang untuk mengubah arah atau menghindari objek di depannya. “Kalau jarak pandang terbatas, tentu kecepatan juga harus menjadi perhatian. Ini yang perlu diperhatikan, terutama oleh pengguna kapal kecil seperti ces atau ketinting yang beraktivitas di wilayah hulu,” jelasnya.

Selain mengatur kecepatan, nakhoda perlu memastikan kapal dalam kondisi layak beroperasi dan perlengkapan keselamatan tersedia. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting untuk mengantisipasi risiko selama perjalanan, khususnya ketika kondisi lingkungan berubah. Junaidi juga mengingatkan pentingnya sarana pendukung navigasi, seperti kompas, alat komunikasi, dan lampu. Peralatan tersebut perlu tersedia dan berfungsi dengan baik agar dapat menunjang operasional kapal serta membantu nakhoda mengenali situasi di sekitarnya.

Penggunaan lampu menjadi perhatian khusus ketika kapal beroperasi pada malam hari dalam kondisi berkabut. Junaidi menilai pemilihan lampu perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan agar keberadaan kapal lebih mudah diketahui pengguna transportasi lainnya. “Apalagi kalau malam hari, kapal harus menggunakan lampu. Lampunya pun harus menggunakan lampu yang bisa menembus kabut, yaitu lampu berwarna kuning. Kalau warna putih, biasanya tidak bisa menembus kabut,” ujarnya.

Kabut asap sendiri dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah Kukar dengan tingkat kepekatan yang berbeda. Berdasarkan laporan yang diterima Dishub, Kecamatan Muara Muntai menjadi salah satu wilayah dengan kondisi asap cukup pekat pada pagi hari. “Berdasarkan laporan kawan-kawan yang melaporkan setiap pagi, kondisi yang cukup pekat itu berada di Kecamatan Muara Muntai. Tadi pagi kondisinya hampir tidak kelihatan, tetapi sekitar pukul 10.00 Wita sudah mulai membaik,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi di Muara Jawa, Anggana, dan Kutai Lama dilaporkan tidak terlalu pekat. Aktivitas pelayaran di Muara Jawa dan Anggana pun masih dalam kondisi aman berdasarkan laporan yang diterima. Meski kondisi kabut asap dapat membaik seiring waktu, Junaidi mengingatkan nakhoda tetap perlu memperhatikan perubahan jarak pandang sebelum dan selama berlayar. Pengemudi kapal harus mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi perairan dinilai membahayakan.

Imbauan terkait Kabut Asap di Sungai Mahakam Nakhoda Kapal Diminta Batasi Kecepatan dan Tingkatkan Kewaspadaan ini juga berlaku bagi pengguna transportasi darat yang melintasi wilayah terdampak kabut asap. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. “Kewaspadaan tersebut tidak hanya berlaku bagi nahkoda kapal, tetapi juga pengguna transportasi darat yang melintasi wilayah terdampak kabut asap. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan,” pungkasnya.

Dengan adanya imbauan ini, diharapkan seluruh pengguna transportasi, baik air maupun darat, dapat lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan selama kondisi kabut asap masih melanda. Koordinasi antara nakhoda, awak kapal, dan otoritas terkait menjadi kunci untuk meminimalisir risiko kecelakaan di perairan Kukar.

Tags: