Kabut Asap Selimuti Mahakam, Nakhoda Diminta Waspadai Jarak Pandang

Foto: Istimewa

Kabut Asap Selimuti Mahakam, Nakhoda Diminta Waspadai Jarak Pandang

Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Kepala Dinas Perhubungan Kutai Kartanegara, Ahmad Junaidi, mengimbau para nakhoda kapal yang beroperasi di perairan Sungai Mahakam dan sekitarnya untuk membatasi kecepatan serta meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Imbauan ini disampaikan pada Kamis (15/10/2026) di Tenggarong, menyoroti risiko kecelakaan pelayaran akibat terbatasnya jarak pandang. Kabut Asap di Sungai Mahakam Nakhoda Kapal Diminta Batasi Kecepatan dan Tingkatkan Kewaspadaan menjadi perhatian utama mengingat padatnya aktivitas pelayaran di jalur tersebut.

Junaidi menegaskan bahwa keselamatan pelayaran tidak hanya bergantung pada kemampuan nakhoda, tetapi juga pada empat faktor utama: sumber daya manusia, kondisi kapal, lingkungan atau cuaca, serta sarana pendukung navigasi. “Keselamatan pelayaran itu ada empat faktor utama. Pertama SDM, kedua kondisi kapal, ketiga lingkungan atau cuaca, dan keempat sarana pendukung navigasi,” ujarnya. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, pengendalian kecepatan kapal sesuai kondisi perairan menjadi langkah krusial untuk mengantisipasi potensi tabrakan.

Kewaspadaan ekstra diperlukan bagi pengguna kapal kecil seperti ces dan ketinting yang banyak beraktivitas di wilayah hulu Kukar. Ukuran kapal yang relatif kecil membuatnya lebih sulit terlihat oleh kapal lain ketika perairan diselimuti kabut. Risiko meningkat saat kapal kecil berpapasan dengan kapal besar seperti tongkang pengangkut material, yang memiliki kemampuan manuver terbatas dan membutuhkan ruang lebih untuk mengubah arah. “Kalau jarak pandang terbatas, tentu kecepatan juga harus menjadi perhatian. Ini yang perlu diperhatikan, terutama oleh pengguna kapal kecil seperti ces atau ketinting yang beraktivitas di wilayah hulu,” jelas Junaidi.

Selain mengatur kecepatan, nakhoda wajib memastikan kapal dalam kondisi layak beroperasi dan perlengkapan keselamatan tersedia. Sarana pendukung navigasi seperti kompas, alat komunikasi, dan lampu juga harus berfungsi dengan baik. Junaidi menyoroti pentingnya penggunaan lampu kuning yang mampu menembus kabut, terutama saat beroperasi malam hari. “Apalagi kalau malam hari, kapal harus menggunakan lampu. Lampunya pun harus menggunakan lampu yang bisa menembus kabut, yaitu lampu berwarna kuning. Kalau warna putih, biasanya tidak bisa menembus kabut,” terangnya.

Berdasarkan laporan Dishub Kukar, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah dengan tingkat kepekatan berbeda. Kecamatan Muara Muntai dilaporkan memiliki kondisi asap cukup pekat pada pagi hari, hampir tidak terlihat, namun mulai membaik sekitar pukul 10.00 Wita. Sementara itu, kondisi di Muara Jawa, Anggana, dan Kutai Lama tidak terlalu pekat, dan aktivitas pelayaran di Muara Jawa serta Anggana masih aman. Meski demikian, Junaidi mengingatkan nakhoda untuk terus memantau perubahan jarak pandang sebelum dan selama berlayar.

Imbauan serupa juga berlaku bagi pengguna transportasi darat yang melintasi wilayah terdampak kabut asap. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Kabut Asap di Sungai Mahakam Nakhoda Kapal Diminta Batasi Kecepatan dan Tingkatkan Kewaspadaan kembali ditegaskan sebagai pengingat bersama akan pentingnya keselamatan di perairan. Dishub Kukar berharap seluruh pengguna transportasi, baik air maupun darat, dapat mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi dinilai membahayakan.

Sebagai penutup, kondisi kabut asap yang fluktuatif menuntut adaptasi cepat dari para nakhoda dan pengguna jalan. Dengan mematuhi imbauan untuk membatasi kecepatan, meningkatkan kewaspadaan, serta melengkapi sarana navigasi, potensi kecelakaan dapat diminimalisir. Koordinasi antara Dishub, nakhoda, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya pelayaran yang aman di Sungai Mahakam dan perairan Kutai Kartanegara.

Tags: