Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa untuk Transformasi Ekonomi Kaltim 2045
Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengambil langkah strategis dalam mendukung transformasi ekonomi Kalimantan Timur menuju 2045. Dalam momentum konsultasi publik yang digelar di Ruang Ruhui Rahayu, Lantai 1 Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa (20/10/2026), Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa sebagai salah satu alternatif pengembangan ekonomi yang dapat disinergikan dengan pemerintah provinsi.
Tawaran tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Bappeda Kukar, Antoni Kusbiantoro, usai menghadiri kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Rencana Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur 2045. Menurutnya, Pemkab Kukar menyambut baik dan mendukung penuh penyusunan rencana transformasi ekonomi tersebut.
“Kukar memberikan alternatif lokasi kepada provinsi untuk dilakukan sinergi terkait dengan transformasi ekonomi,” ujar Antoni dalam keterangannya.
Zonasi Wilayah sebagai Fondasi Pengembangan Ekonomi
Antoni menjelaskan bahwa Pemkab Kukar telah memiliki sejumlah kajian sebagai dasar pengembangan ekonomi daerah, termasuk yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029. Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan studi awal terkait Kawasan Ekonomi Khusus Ketahanan Negara serta kajian pembagian kawasan berdasarkan zona utara, selatan, dan timur.
Dalam kerangka inilah Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa sebagai bagian dari strategi pengembangan zona timur. Kawasan industri hijau, termasuk kawasan Muara Badak, diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan hilirisasi komoditas tersebut.
“Misalnya, di zona timur terdapat kawasan industri hijau, di antaranya kawasan Muara Badak. Salah satu yang kita tawarkan adalah hilirisasi rumput laut. Selain itu, ada pasir kuarsa,” terang Antoni.
Sementara itu, zona utara diarahkan untuk pengembangan sektor pangan dan pariwisata. Salah satu potensi yang telah berjalan terdapat di Kecamatan Kota Bangun, yakni industri pengolahan ikan asin yang produknya sudah menembus pasar ekspor. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk olahan daerah mampu bersaing di pasar internasional.
Sinergi Antardaerah Kunci Optimalisasi Potensi
Antoni menilai, berbagai potensi tersebut dapat menjadi alternatif pengembangan ekonomi yang ditawarkan Kukar kepada pemerintah provinsi. Menurutnya, sinergi antardaerah sangat diperlukan agar potensi yang tersedia dapat dikembangkan secara optimal dalam kerangka transformasi ekonomi Kaltim.
Langkah Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa ini sejalan dengan arah kebijakan Provinsi Kalimantan Timur yang ingin memperkuat hilirisasi industri. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan bahwa provinsi ini memiliki ketersediaan bahan baku yang dapat menjadi modal utama untuk mengembangkan hilirisasi industri.
Bahan baku tersebut antara lain berasal dari sektor perkebunan kelapa sawit, pertambangan batu bara, pertanian, dan peternakan. Pengolahan lebih lanjut di dalam daerah diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi Kaltim.
“Raw material-nya sudah ada semuanya, sawit, kemudian batu bara, dan lain sebagainya. Itu bisa dihilirisasi,” kata Seno Aji.
Hilirisasi sebagai Sumber Pertumbuhan Baru
Seno Aji menyebutkan sejumlah industri telah mulai dikembangkan, termasuk pabrik metanol yang sedang dalam proses pembangunan, pabrik semen, serta industri minyak goreng. Transformasi ekonomi diarahkan untuk memperkuat kontribusi berbagai sektor produktif sehingga pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada kegiatan ekonomi ekstraktif.
“Hilirisasi bukan berarti menghentikan sektor pertambangan, melainkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tambahan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari sektor tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut, kondisi fiskal daerah yang semakin berat akibat penurunan dana transfer ke daerah menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan industri hilir dan sektor produktif lainnya. Seno Aji mengungkapkan bahwa komposisi fiskal daerah turun hampir Rp10 triliun akibat adanya Dana Bagi Hasil (DBH) dan transfer ke daerah yang belum diberikan atau dikurangi oleh pemerintah pusat.
Oleh karena itu, inisiatif Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa menjadi salah satu jawaban atas tantangan fiskal tersebut. Dengan mengembangkan industri hilir berbasis komoditas lokal, daerah dapat menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Potensi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa
Rumput laut merupakan komoditas unggulan sektor kelautan yang memiliki pasar luas, mulai dari bahan baku makanan, kosmetik, hingga farmasi. Hilirisasi rumput laut memungkinkan Kukar tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga memproduksi produk olahan bernilai tambah tinggi seperti agar-agar, karagenan, dan biostimulan pertanian.
Sementara itu, pasir kuarsa memiliki peran strategis sebagai bahan baku industri kaca, keramik, hingga komponen teknologi. Pengembangan hilirisasi pasir kuarsa di kawasan industri hijau Muara Badak berpotensi menarik investasi dan memperluas basis industri pengolahan di Kukar.
Dengan dukungan kajian yang telah disusun, termasuk pembagian zona wilayah, Kukar optimistis bahwa tawaran hilirisasi ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi Rencana Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur 2045.
Secara keseluruhan, langkah Kukar Tawarkan Hilirisasi Rumput Laut dan Pasir Kuarsa mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk mendorong diversifikasi ekonomi yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pelaku usaha menjadi kunci agar potensi daerah dapat dioptimalkan. Transformasi ekonomi yang dirancang hingga 2045 diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif, tetapi juga menciptakan struktur ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing di masa depan.
