Xavi Espart, Permata Baru La Masia yang Bersinar di Panggung Eropa
Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Parc des Princes, Paris — La Masia kembali membuktikan dirinya sebagai tambang emas sepak bola dunia. Pada laga dramatis antara Paris Saint-Germain dan Barcelona di ajang Liga Champions, nama Xavi Espart mencuat ke permukaan. Meski Barcelona harus menelan pil pahit kekalahan, penampilan gemilang bek muda jebolan La Masia itu menjadi sorotan utama. Gol yang ia cetak ke gawang Safonov pada menit ke-55 tidak hanya memperkecil kedudukan menjadi 1-1, tetapi juga menandai gol pertamanya di kompetisi Eropa bersama tim utama.
Lahir dan dibesarkan dalam sistem pendidikan sepak bola Barcelona, Espart adalah bukti hidup bahwa La Masia selalu mampu melahirkan talenta berkualitas. Pelatih Hansi Flick, yang kehilangan Jules Kounde dan Eric Garcia karena cedera, mengambil keputusan berani dengan menurunkan Espart sebagai starter di posisi bek kanan. Kepercayaan itu dibayar lunas. Espart tampil disiplin, cerdas membaca permainan, dan sukses membungkam salah satu winger paling berbahaya di Eropa, Khvicha Kvaratskhelia.
Bukan hanya Kvaratskhelia yang dibuat frustrasi. Ketika PSG mencoba mengubah tempo melalui Doué, Espart kembali menunjukkan ketenangan dan kecerdasan posisinya. Ia nyaris tidak memberi ruang bagi lawan untuk berkreasi. Dalam laporan pertandingan, Espart disebut sebagai salah satu pemain terbaik Barcelona malam itu, bersama Joan Garcia dan Pedri. Kombinasi antara visi bermain, determinasi, dan ketenangan dalam mengambil keputusan membuatnya pantas disejajarkan dengan para seniornya.
Perjalanan Espart musim ini memang luar biasa. Ia telah menggeser posisi Balde dan berbagi menit bermain dengan Cancelo di sisi kiri pertahanan. Fleksibilitasnya—mampu bermain sebagai bek kiri, bek kanan, hingga gelandang—membuat Flick memiliki banyak opsi. Bahkan, sang pelatih sempat menyamakan gaya bermain Espart dengan legenda Jerman, Philipp Lahm, yang dikenal sebagai bek sayap paling lengkap dalam sejarah. Pujian itu bukan tanpa alasan. Kemampuan Espart membaca situasi dan menempatkan diri di lapangan adalah anugerah yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Fenomena Espart bukanlah hal baru bagi La Masia. Sebelumnya, nama Cubarsí mencuat ketika ia berhasil meredam Victor Osimhen dalam laga melawan Napoli. Pola yang sama terulang: pemain muda didikan La Masia tidak gentar menghadapi tekanan di laga besar. Mereka justru tumbuh dan menunjukkan kelasnya. Inilah DNA sepak bola Barcelona yang telah tertanam sejak usia dini—memahami permainan, bukan sekadar bermain.
Di sisi lain, bursa transfer musim dingin mulai menghangat. Menurut laporan dari Inggris, Juventus dikabarkan mengirim pemandu bakatnya untuk memantau Espart. Klub-klub besar Eropa seperti Aston Villa, Arsenal, Borussia Dortmund, dan Tottenham Hotspur juga disebut tengah mengikuti perkembangan pemain berusia 19 tahun tersebut. Namun, Barcelona disebut tidak memiliki niat sedikit pun untuk melepasnya, kecuali ada tawaran fantastis di atas 80 juta euro. Angka itu menunjukkan betapa berharganya Espart di mata manajemen Blaugrana.
Sementara itu, La Masia terus melahirkan generasi baru. Nama Alex Campos, bek tengah berusia 18 tahun asal Aitona, Lleida, menjadi bukti lain betapa dalamnya lumbung talenta Barcelona. Campos, yang bergabung pada 2021 dari Atletic Segre, bahkan ikut dibawa ke Paris untuk laga melawan PSG meski belum diturunkan. Tinggi 1,85 meter, ia memiliki keunggulan dalam duel udara, kemampuan tackling, dan penguasaan bola yang baik—kualitas yang cocok dengan filosofi permainan Barcelona. Flick disebut terkesan dengan perkembangan Campos dan memberinya kesempatan berlatih bersama tim utama sejak Oktober 2024.
Kisah sukses La Masia juga tak lepas dari sosok Lamine Yamal, yang kini menjadi bintang utama Barcelona dan kandidat kuat Ballon d’Or 2026. Mantan direktur akademi, Xavi Martín, mengenang bagaimana Yamal masuk ke La Masia pada usia tujuh tahun dari La Torreta. Pada usia dua belas tahun, Yamal menjadi satu-satunya anak lokal yang diberi hak tinggal penuh di asrama La Masia—sebuah privilégio langka. Keputusan itu diambil karena faktor keluarga dan kebutuhan akan kedisiplinan, seperti pola makan, mengerjakan PR, dan tidur lebih awal. Martín menilai Yamal sebagai anak yang matang dan bertanggung jawab, jarang membuat ulah, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Keberhasilan Yamal, Espart, Cubarsí, dan Campos adalah mata rantai yang tak terputus. La Masia bukan sekadar akademi, melainkan sebuah filosofi hidup. Setiap pemain yang lulus dari sana tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman taktis dan mentalitas baja. Itulah sebabnya ketika laga besar tiba, para pemain didikan La Masia tidak pernah gentar. Mereka tahu apa yang harus dilakukan karena telah menjalani pendidikan sepak bola yang sama selama bertahun-tahun.
Bagi Flick, penampilan Espart melawan PSG menjadi sinyal kuat menjelang laga El Clásico melawan Real Madrid di Spotify Camp Nou akhir pekan ini. Nama Espart kini masuk dalam perhitungan untuk tampil sejak menit pertama. Jika ia kembali dipercaya, bukan tidak mungkin ia akan kembali membuktikan bahwa La Masia selalu punya jawaban di setiap generasi. Parc des Princes mungkin menjadi saksi malam pertama dari banyak malam gemilang Xavi Espart. Dan bagi Barcelona, itu adalah jaminan bahwa masa depan tetap cerah selama La Masia masih berdiri.
Pada akhirnya, kisah Xavi Espart adalah pengingat bahwa sepak bola tidak melulu soal uang dan transfer mahal. Ada nilai yang lebih abadi: pembinaan, kesabaran, dan kepercayaan pada pemain muda. La Masia telah membuktikannya berkali-kali, dan Espart adalah bukti terbaru. Kini, tugas Barcelona adalah merawatnya, memberi ruang bertumbuh, dan memastikan bahwa permata dari La Masia ini tidak hilang ditelan gemerlap pasar. Sebab, di tengah derasnya arus modernisasi sepak bola, La Masia tetaplah rumah bagi masa depan.
