Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen, Dermaga Wisata Rp82,6 Miliar Dikejar Rampung Akhir 2026
Kalimantan Update – 22 Oktober 2026 | Progres Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen, sebuah capaian yang menjadi sorotan di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Dermaga kawasan wisata di pinggiran Sungai Kapuas, tepatnya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Kuala Kapuas ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2026, dan kini telah memasuki tahap pertengahan pekerjaan. Capaian Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas, Teras, pada Rabu (21/10/2026) di Kuala Kapuas.
“Sepanjang perjalanan sampai saat ini, progres pembangunan Dermaga Waterfront City sudah kurang lebih 50 persen,” kata Teras kepada awak media. Ia menegaskan bahwa laju pekerjaan terus berjalan mengikuti tahapan yang telah direncanakan dalam dokumen kontrak. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan kerja keras tim pelaksana di lapangan meski menghadapi berbagai tantangan alam yang tidak ringan.
Anggaran Rp82,6 Miliar dan Target Kontrak Desember 2026
Proyek strategis ini menelan anggaran sekitar Rp82,6 miliar dan ditargetkan selesai sesuai jadwal kontrak, yakni pada akhir Desember 2026. Dengan capaian Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen, sisa waktu yang tersedia menuntut percepatan sekaligus ketelitian agar mutu pekerjaan tetap terjaga. Teras berharap pembangunan dapat diselesaikan tepat waktu dengan tetap memperhatikan kualitas pekerjaan serta aspek keselamatan konstruksi di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara penyedia jasa, pengawas, dan pemerintah daerah agar setiap tahapan dapat dievaluasi secara berkala. Pengawasan yang ketat dinilai krusial mengingat proyek ini menggunakan dana publik yang besar dan menjadi bagian dari penataan kawasan tepian sungai yang ikonik bagi masyarakat Kuala Kapuas.
Kendala Cuaca Panas dan Air Sungai Asin
Meski progres terus berjalan, pelaksanaan pembangunan masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan utama datang dari kondisi cuaca yang sangat panas serta air Sungai Kapuas yang surut dan terasa asin. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kebutuhan air untuk pekerjaan pengecoran, yang menjadi salah satu tahap vital dalam konstruksi dermaga.
“Kendala sekarang cuaca yang sangat panas, air sungai surut dan juga air sungai asin. Sehingga untuk pengecoran, air harus didatangkan yang memenuhi syarat,” ujar Teras. Pasokan air untuk pengecoran pun harus didatangkan dari sumber lain agar memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan, sehingga menambah kompleksitas dan biaya operasional di lapangan.
Selain persoalan air, dari total 26 segmen dermaga yang direncanakan, masih terdapat tujuh segmen yang belum terpasang. Sisa segmen ini menjadi fokus utama pekerjaan pada tahap berikutnya. Teras berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditetapkan sehingga dermaga tersebut bisa segera dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Dermaga Wisata, Bukan Bongkar Muat Barang
Yang menarik, Dermaga Waterfront City dirancang sebagai kawasan wisata, bukan sebagai tempat bersandar kapal niaga maupun untuk aktivitas bongkar muat barang. Konsep ini menjadikan kawasan tepian Sungai Kapuas sebagai ruang publik yang ramah bagi warga dan wisatawan. Meski demikian, dalam kondisi darurat, dermaga tersebut dirancang dapat dilalui kendaraan penumpang maupun ambulans, sehingga tetap memiliki fungsi sosial yang penting bagi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kapuas menilai kehadiran kawasan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya sektor pariwisata dan usaha mikro di sekitar Jalan Jenderal Sudirman. Penataan kawasan tepian sungai diharapkan mampu mengubah wajah kota menjadi lebih tertata, nyaman, dan menarik bagi pengunjung.
Harapan dan Pengawasan Mutu
Dengan capaian Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen, publik menaruh harapan besar agar proyek ini tidak sekadar selesai secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat nyata jangka panjang. Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas berkomitmen mengawal setiap tahapan, mulai dari penyediaan material, pengecoran, hingga pemasangan segmen dermaga yang tersisa.
Transparansi progres juga menjadi perhatian, mengingat proyek ini menggunakan anggaran daerah yang bersumber dari uang rakyat. Evaluasi berkala diharapkan mampu mengantisipasi potensi keterlambatan akibat faktor cuaca ekstrem maupun kendala teknis lainnya.
Secara keseluruhan, capaian Pembangunan Waterfront City Kapuas Capai 50 Persen menjadi sinyal positif bagi pembangunan infrastruktur di Kalimantan Tengah. Jika seluruh target terpenuhi, kawasan ini berpotensi menjadi ikon baru Kuala Kapuas yang memadukan fungsi wisata, ruang publik, dan kesiapsiagaan darurat dalam satu kawasan terpadu di tepian Sungai Kapuas.
