Asap Kebakaran Hutan Indonesia Tersedot Topan Champi, BRIN Peringatkan Dampak pada Hujan
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi sorotan. Kali ini, asap dari kebakaran hutan dilaporkan terbawa hingga masuk ke dalam sirkulasi Topan Champi di kawasan Pasifik barat. Visual pemantauan atmosfer yang beredar menunjukkan sebaran karbon monoksida (CO) dari Indonesia bergerak ke arah utara, memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap cuaca ekstrem.
Ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, menyoroti kemungkinan dampak polusi karhutla terhadap pembentukan hujan. “Polutan CO dari karhutla Indonesia tersedot ke Taifun Champi. Salah satu efeknya bisa meningkatkan intensitas hujan karena aerosol tersebut bakal jadi inti kondensasi awan,” ujarnya. Asap kebakaran hutan mengandung berbagai polutan, termasuk gas karbon monoksida dan partikel aerosol yang dapat terbawa angin hingga jauh dari lokasi kebakaran.
Fenomena ini menjadi perhatian setelah akun X @BackpirchCrew membagikan animasi pemantauan atmosfer pada Kamis (22/10/2026). Visual yang disebut bersumber dari Windy itu memperlihatkan konsentrasi CO di kawasan Indonesia dan pergerakannya menuju sistem sirkulasi Topan Champi. Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut polutan CO dari kebakaran hutan yang meluas di Indonesia tertarik ke dalam sirkulasi badai tropis tersebut.
Sementara itu, dampak kebakaran hutan juga dirasakan hingga ke negara tetangga. Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, dilaporkan dipenuhi asap kiriman dari karhutla Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa asap tidak mengenal batas wilayah dan menjadi masalah regional yang serius.
Di dalam negeri, kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan, Sumatra, dan Papua telah berlangsung lebih dari satu bulan. Api dan asap yang mengepung langit belum kunjung padam. Kesulitan pemadaman terjadi karena api dapat membara di dalam tanah, muncul di titik baru, dan pemadaman harus dilakukan hingga malam hari.
Berbagai pihak pun turun tangan. Sejumlah artis dan influencer, seperti Sherina Munaf, Zaskia Mecca, Riyuka Bunga, Ratna Galih, Indadari, Tasya Nur Medina, dan Jerhemy Owen, terjun langsung sebagai relawan untuk membantu memadamkan api di Kalimantan, terutama di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah. Mereka juga menggalang dukungan melalui media sosial dan menyoroti dampak asap bagi warga serta isu lingkungan terkait.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan fleksibilitas mekanisme Tes Kemampuan Akademik (TKA) susulan bagi peserta di wilayah terdampak karhutla. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menyatakan bahwa kebijakan ini untuk menjamin hak asesmen para siswa. “Dengan dinamika yang ada di lapangan, pergerakan dari kebencanaan ini mungkin harian. Kami memberikan fleksibilitas untuk tetap bisa ikut utama, tetapi apabila berhalangan kemudian tidak hadir, akan masuk dalam data rekonsiliasi calon peserta susulan,” ujarnya.
Secara ilmiah, kebakaran hutan ekstrem dapat membentuk awan pyrocumulonimbus yang mampu mengangkat asap, karbon hitam, dan aerosol organik hingga stratosfer. Studi yang terbit dalam jurnal Science pada 2023 menyebutkan bahwa asap dari badai akibat kebakaran hutan dapat menyumbang partikel ke stratosfer bawah dan bertahan lebih lama. Namun, belum ada bukti ilmiah bahwa asap karhutla dapat meninggalkan atmosfer Bumi. Dalam skenario hipotetis jika asap mencapai Bulan yang berjarak 384.400 kilometer, partikel tidak akan membentuk kabut karena atmosfer Bulan sangat tipis.
Kesimpulannya, kebakaran hutan di Indonesia tidak hanya menimbulkan dampak lokal berupa polusi udara dan gangguan kesehatan, tetapi juga memengaruhi atmosfer global dan cuaca ekstrem. Fenomena tersedotnya asap ke Topan Champi menjadi pengingat bahwa masalah lingkungan ini bersifat lintas batas dan memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak.
