14 Guru di Cirebon Keracunan MBG Usai Cicipi Sup Telur Puyuh, 270 Korban Tumbang
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon, Jawa Barat, terus memanjang. Peristiwa yang mencuat pada Selasa, 20 Oktober 2026, itu kini menyeret 14 tenaga pendidik sebagai korban. Kisah Guru di Cirebon keracunan MBG, ikut cicipi menu sebelum dibagikan, curiga dengan sup telur puyuh [titlebase] menjadi sorotan karena para guru sempat mencicipi hidangan sebelum disajikan kepada siswa. Belakangan, muncul kecurigaan bahwa sup telur puyuh dalam menu tersebut menjadi biang keladi munculnya gejala mual, pusing, hingga muntah-muntah.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Cirebon, Eka Novianto, mengungkapkan bahwa 14 guru yang menjadi korban berasal dari SD Kalijaga Permai, SD Taman Kalijaga, dan TK Teratai. Menurutnya, para guru itu sempat mencicipi makanan MBG, bahkan ada yang hanya menyantap dua suap kuah sebelum akhirnya ikut merasakan gejala keracunan. “Bahkan ada yang hanya mencicipi dua suap kuahnya, guru tersebut menjadi korban keracunan juga dan saat ini masih dirawat,” kata Eka di Cirebon, Rabu (21/10/2026).
Eka menuturkan, sejumlah guru sempat pulang ke rumah sebelum akhirnya dilarikan kembali ke rumah sakit karena kondisinya memburuk. Ia menyebut kejadian ini sebagai pukulan pilu bagi dunia pendidikan. “Ini menjadi pukulan yang pilu buat kita ya, guru-guru yang menjadi korban sendiri berasal dari SD Kalijaga Permai, SD Taman Kalijaga, dan juga TK Teratai,” ujarnya. Kasus Guru di Cirebon keracunan MBG, ikut cicipi menu sebelum dibagikan, curiga dengan sup telur puyuh [titlebase] pun kian mendapat perhatian publik.
Ratusan Korban Tumbang, Mayoritas Anak Sekolah
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mencatat total 270 orang terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG. Kepala Dinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, merinci sebanyak 231 korban merupakan siswa TK, SD, dan jenjang setingkatnya, sedangkan 39 lainnya orang dewasa, termasuk dua pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kasus ini dilaporkan terjadi di 28 lembaga pendidikan dan tempat penitipan anak di wilayah Kota Cirebon.
“Ada juga yang dibawa pulang, jadi adiknya dapat MBG, kakaknya ikut makan. Ada juga yang cucunya dapat MBG, neneknya ikut makan,” jelas Siti kepada kontributor Radio Elshinta, Rabu (21/10/2026). Para korban telah mendapatkan penanganan medis di delapan rumah sakit yang tersebar di Kota Cirebon. Data terbaru bahkan menyebut jumlah korban bertambah menjadi 287 orang, dengan 210 pasien menjalani perawatan di rumah sakit.
Untuk mengungkap penyebab pasti, Dinkes Kota Cirebon telah mengamankan sejumlah sampel. Sampel makanan dari SPPG Kalijaga dikumpulkan, disertai sampel biologis dari korban berupa muntahan dan tinja. Seluruh sampel kemudian dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat di Bandung untuk diperiksa lebih lanjut. “Sampel awalnya sudah kami amankan, termasuk muntah dan tinja dari korban, dan tadi pagi sudah dibawa ke Labkesda Provinsi Jawa Barat,” ungkap Siti.
Sekolah Terdampak Diliburkan, Guru Diminta Siaga
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Handi Sugiyanto, menyatakan sekolah yang terdampak meliburkan kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk sementara. Sekolah yang tidak terdampak tetap menjalankan aktivitas belajar seperti biasa. “KBM untuk yang terdampak, hari ini diliburkan. Karena tadi saya sampaikan bahwa guru-guru saya optimalkan untuk menjaga siswanya,” kata Handi di Kota Cirebon, Rabu (21/10/2026).
Sejumlah sekolah terdampak di antaranya SDN Taman Kalijaga, SDN Kalijaga Permai, TK Teratai, dan TK Harapan Bangsa. Para guru diminta tetap siaga mendampingi dan memantau kondisi siswa. Handi juga mengimbau pihak sekolah lebih teliti memeriksa makanan sebelum dikonsumsi. “Kalau misalkan memang ada sayur atau telur yang agak asam, kalau bisa tidak dikonsumsi. Jangan sampai nanti menimbulkan dampak seperti ini, gejala-gejala keracunan,” tuturnya.
Isu Guru di Cirebon keracunan MBG, ikut cicipi menu sebelum dibagikan, curiga dengan sup telur puyuh [titlebase] turut mendorong PGRI menyoroti beban kerja guru dalam program MBG. Eka Novianto menegaskan, guru seharusnya tidak dibebani tugas pengecekan organoleptik, edukasi gizi, hingga pelaporan melalui SIPGN karena itu ranah petugas SPPG. “Kita bukan ahli gizi, kan di SPPG sudah ada ahli gizi, artinya sebelum datang ke sekolah SPPG harus memastikan bahwa makanan tersebut clear untuk dikonsumsi anak-anak,” tegasnya. Ia menyebut PGRI Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat telah menyepakati empat poin utama, salah satunya meminta adanya surat keputusan bersama antara BGN dan Kemendikdasmen.
Hingga kini, penyelidikan masih berjalan menunggu hasil laboratorium. Publik berharap kasus Guru di Cirebon keracunan MBG, ikut cicipi menu sebelum dibagikan, curiga dengan sup telur puyuh [titlebase] menjadi evaluasi serius bagi pengelola MBG. Pengawasan mutu pangan, mulai dari dapur SPPG hingga meja makan siswa, harus diperketat agar peristiwa serupa tak terulang. Kesehatan anak dan guru adalah harga mati yang tidak boleh dipertaruhkan demi kelancaran program.
Penulis: Syaifullah
Editor: Rudi Hamdani
Sumber: Radio Elshinta, Dinkes Kota Cirebon, PGRI Kota Cirebon, Dinas Pendidikan Kota Cirebon
