Barcelona Tumbang di El Clasico, Pedri Blak-blakan Sebut Kesalahan Bodoh dan Soroti Ketajaman Arda Güler
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Gelandang Barcelona, pedri, menjadi sorotan usai El Clasico edisi ke-193 yang berlangsung di Spotify Camp Nou, Senin (26/10/2026) dini hari WIB. Dalam laga bertajuk La Liga pekan ke-10 itu, Barcelona harus mengakui keunggulan Real Madrid dengan skor 1-2, sekaligus menelan kekalahan kedua secara beruntun dalam lima hari setelah sebelumnya takluk 2-4 dari PSG di Liga Champions.
Kekalahan ini terasa pahit karena menjadi kemenangan pertama Real Madrid di Camp Nou di ajang liga setelah jeda lima tahun lebih. Dua gol Los Blancos diborong Kylian Mbappe pada menit ke-41 dan ke-87, sementara satu-satunya gol Barcelona lahir dari kaki Raphinha pada menit ke-61.
Pedri Akui Barcelona Tak Tampil Seperti Biasanya
Selepas pertandingan, pedri tampil dengan sikap kritis terhadap rekan-rekannya sendiri. Ia menilai Barcelona gagal menunjukkan performa terbaik, terutama pada babak pertama, dan menyoroti buruknya penguasaan bola serta lambatnya sirkulasi di lini tengah.
“Secara keseluruhan kami tidak bermain bagus. Di babak pertama kami tidak menjadi diri kami sendiri, ada banyak hal yang seharusnya bisa kami lakukan dengan lebih baik,” ujar pedri kepada DAZN.
Gelandang asal Kepulauan Canaria itu menegaskan bahwa kesalahan-kesalahan mendasar menjadi biang keladi kekalahan. Menurutnya, terlalu banyak bola yang hilang dengan cara yang tidak perlu, dan hal semacam itu sangat mahal harganya ketika berhadapan dengan tim seefisien Real Madrid.
“Di babak pertama kami kekurangan ritme, kami sangat lambat, kami kehilangan banyak bola secara bodoh, dan hal-hal seperti itu terhadap tim ini akan dihukum. Di babak kedua kami menyamakan kedudukan, lalu mereka mencetak gol kedua lewat serangan balik yang kami tahu bisa mereka lakukan, tetapi kami tidak bertahan dengan baik,” lanjut pedri.
Momen Ketenangan Pedri yang Hampir Berbuah Gol
Meski secara kolektif tampil di bawah standar, pedri tetap menunjukkan kelasnya pada momen gol penyama kedudukan. Ketika Barcelona mulai tampak tergesa-gesa pada menit ke-60, ia justru memilih menenangkan permainan. Berawal dari sepak pojok yang dipaksakan lewat serangkaian penetrasi di sisi sayap, bola cepat diarahkan kepadanya. Alih-alih langsung melepaskan tembakan seperti kebanyakan pemain, pedri mengangkat kepala, melakukan satu gerakan tambahan, lalu melepas umpan terobosan yang membuka peluang tembak jelas bagi rekan setimnya.
Umpan ekstra yang menurut banyak pengamat tak akan diberikan pemain lain itu menjadi bukti bahwa ketenangan juga bisa menjadi pembeda dalam laga seketat El Clasico. Namun, kontribusi individu tersebut belum cukup menyelamatkan Barcelona dari kekalahan.
Arda Güler Jadi Mimpi Buruk di Lini Tengah
Di sisi lain, media Spanyol menyoroti penampilan gemilang gelandang muda Real Madrid, Arda Güler, yang bermain sejak menit awal hingga menit ke-90+4 sebelum digantikan Trent Alexander-Arnold. Marca menulis bahwa pemain asal Turki itu “seperti merangkai pedri di atas tali”, sebuah kiasan atas dominasinya dalam duel-duel di lini tengah, termasuk saat merebut bola dengan cepat dan berlari kencang menerobos pertahanan.
Marca juga mencatat sinergi apik Arda dengan Federico Valverde, kemampuan keduanya saling memahami dan membagi ruang, serta beberapa peluang yang lahir dari tembakan Arda di sekitar kotak penalti yang memaksa kiper Barcelona, Joan García, bekerja keras. AS menambahkan bahwa setiap kali bola menyentuh kaki Arda, serangan Real Madrid selalu terasa berbahaya. Bahkan catatan Marca memberi nilai 9 untuk performa Arda pada babak pertama.
Meski begitu, Arda juga sempat melakukan kesalahan, termasuk kehilangan bola berbahaya yang nyaris dimanfaatkan Barcelona, andai kiper Andriy Lunin tidak sigap. Hal ini menunjukkan bahwa laga berjalan ketat dan penuh dinamika dari kedua kubu.
João Cancelo: Kami Lebih Superior, tapi Madrid Lebih Efektif
Bek sayap Barcelona, João Cancelo, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai timnya secara keseluruhan lebih unggul, tetapi Real Madrid mampu mencetak gol dengan peluang yang minim. Cancelo juga menyoroti pentingnya pengelolaan penguasaan bola, termasuk kemampuan menahan tempo dan memutar bola lebih sabar untuk meredam transisi lawan.
“Kami harus bereaksi dan melihat kesalahan yang kami buat. Kami tim yang rendah hati dan akan bekerja untuk meraih kemenangan atas Alavés,” ujar Cancelo penuh keyakinan.
Senada dengan pedri, Cancelo menegaskan bahwa kekalahan ini tidak boleh dibesar-besarkan karena liga masih panjang. Barcelona disebut tetap bertekad bangkit pada laga berikutnya.
Makna Kekalahan bagi Persaingan Gelar
Kekalahan di El Clasico tentu berdampak pada peta persaingan gelar La Liga. Meski pedri menegaskan bahwa liga tidak ditentukan di laga ini, hasil tersebut menjadi peringatan serius bagi Barcelona untuk segera memperbaiki kualitas penguasaan bola dan konsistensi performa. Di sisi lain, Real Madrid membuktikan efisiensi mereka di depan gawang, dengan Mbappe sebagai eksekutor utama dan Arda Güler sebagai motor serangan di lini tengah.
Bagi pedri pribadi, laga ini menjadi cermin bahwa kualitas individu yang gemilang belum cukup tanpa kerja sama tim yang rapi. Sikap kritisnya terhadap rekan setim menunjukkan kepemimpinan yang tumbuh, sekaligus harapan bahwa Barcelona mampu bangkit dan kembali ke jalur kemenangan pada pekan-pekan mendatang.
