IHSG Sempat Menguat, Tapi Berakhir Keok di Level 5.373: Ada Apa di Baliknya?
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Setelah pekan sebelumnya mencatatkan penguatan signifikan, indeks harga saham gabungan hari ini justru harus berakhir di zona merah dengan pelemahan 66,16 poin atau 1,22 persen ke level 5.373. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi, sejumlah analis masih memprediksi indeks harga saham gabungan berpotensi melanjutkan kenaikan.
Pelemahan tersebut terbilang kontras dengan capaian pekan lalu. Sepanjang periode 19-23 Oktober 2026, indeks harga saham gabungan ditutup di level 5.439 atau naik 4,90 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Meski demikian, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih atau outflow sebesar Rp8 triliun di pasar reguler, menandakan masih adanya tekanan jual yang membayangi penguatan indeks.
Tekanan Global dan Domestik Membayangi Pasar
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan bahwa penguatan indeks pada pekan sebelumnya ditopang sejumlah sentimen global dan domestik. Dari sisi global, kondisi pasar moneter relatif terjaga setelah The Fed, ECB, dan BoJ menaikkan suku bunga acuan. The Fed menaikkan suku bunganya ke kisaran 3,75-4,00 persen. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih kuat turut menopang dolar AS, sementara pelaku pasar mulai mencermati kestabilan yield US Treasury jangka panjang.
Dari dalam negeri, kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan pergerakan rupiah menjadi perhatian utama. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Kebijakan buyback saham tanpa RUPS yang diperpanjang hingga Juni 2027 juga menjadi katalis positif yang dinantikan pasar.
Namun, sentimen negatif datang dari bursa Wall Street yang kompak melemah seiring beralihnya aksi jual investor dari sektor teknologi ke sektor lain. Harga minyak mentah WTI naik 3,8 persen menjadi US$103,27 per barel dan Brent menguat 3,1 persen ke level US$116,72 per barel, dipicu kekhawatiran kembali terjadinya konflik militer antara Amerika dan Iran. Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah terhadap Iran, sementara Teheran dilaporkan siap melakukan pembalasan yang berpotensi menyasar Israel dan Uni Emirat Arab.
Seluruh Sektor Kompak Melemah
Pada penutupan perdagangan hari ini, seluruh sektor saham tercatat melemah. Sektor infrastruktur mengalami pelemahan paling dalam sebesar 2,47 persen, diikuti sektor energi 2,36 persen, teknologi 2,06 persen, perindustrian 1,87 persen, transportasi 1,58 persen, barang baku 1,57 persen, barang konsumen non-primer 1,53 persen, kesehatan 1,07 persen, barang konsumen primer 1,01 persen, properti 0,99 persen, dan keuangan 0,56 persen.
Meski indeks harga saham gabungan tertekan, sejumlah saham justru mencatatkan penguatan. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menguat 1,79 persen ke harga Rp1.425. Saham KREN hingga MKNT bahkan melonjak 16 persen sampai 26 persen dan masuk jajaran top gainers. Secara keseluruhan, sebanyak 174 saham naik, 542 saham turun, dan 247 saham stagnan, dengan total nilai transaksi di bursa mencapai Rp14,7 triliun.
Rekomendasi Analis dan Proyeksi ke Depan
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut bahwa jika indeks harga saham gabungan bertahan di atas level 5.350, indeks berpeluang melanjutkan kenaikan hingga 5.500 dalam jangka pendek. Level support berada di 5.350-5.400 dan resistance di 5.500-5.550. Sementara itu, riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai secara teknikal indeks berhasil ditutup positif, dengan potensi menuju resistance 5.520 dan 5.607-5.631 jika mampu bertahan di atas 5.424.
CGS International Sekuritas Indonesia memprediksi indeks bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.360-5.280 dan resistensi 5.520-5.600. Dimulainya musim laporan keuangan emiten kuartal III-2026, buyback emiten, serta komitmen Danantara masuk ke pasar menjadi katalis positif. Sejumlah rekomendasi saham pun bermunculan, mulai dari INET, AMMN, CUAN, EMAS, DEWA, TOBA dari BNI Sekuritas, hingga BTPS, MAPI, TLKM, EXCL, ANTM, dan TINS dari CGS International. IPOT merekomendasikan UNTR, BDMN, PGEO, serta reksa dana Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa harga energi yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat dan memperkuat ekspektasi suku bunga bertahan tinggi. Investor juga menantikan keputusan The Fed pekan ini untuk memperoleh petunjuk arah suku bunga AS yang dapat memengaruhi pergerakan dolar, arus modal global, dan daya tarik aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara keseluruhan, pergerakan indeks harga saham gabungan hari ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Meski demikian, fundamental domestik yang terjaga, kebijakan buyback yang diperpanjang, serta musim rilis laporan keuangan emiten memberikan ruang bagi indeks untuk kembali menguat. Investor disarankan tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, serta menunggu konfirmasi lanjutan sebelum melakukan akumulasi lebih agresif. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pemantauan terhadap arus keluar dana asing dan pergerakan rupiah akan menjadi kunci dalam menentukan arah indeks harga saham gabungan pada perdagangan hari-hari berikutnya.
