Riyadh di Bawah Bayang-Bayang Rudal: Bandara Lumpuh, 86% Penerbangan Terganggu, dan Serangan Balasan Koalisi Saudi
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Ibu kota Arab Saudi, Riyadh, kembali menjadi pusat ketegangan di Timur Tengah setelah milisi Houthi yang didukung Iran mengklaim serangan baru terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, hanya sehari setelah otoritas setempat membuka kembali sebagian terminal bandara tersebut. Klaim itu disampaikan pada Senin (26/10) dan disertai ancaman terhadap infrastruktur minyak Saudi, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan penghasil minyak terbesar dunia itu.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Turki al-Maliki, melalui akun X menyatakan bahwa pertahanan udara kerajaan berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan milisi Houthi ke arah Riyadh. Ia menyebut kelompok tersebut sebagai “milisi teroris Houthi” yang terus mengancam keselamatan warga sipil. Otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim serangan terbaru Houthi terhadap bandara maupun fasilitas minyak.
Bandara Riyadh Lumpuh: 86% Keberangkatan Terganggu
Data penerbangan yang dirilis Gulf News pada 26 Oktober, mengutip perhitungan Cirium, menunjukkan bahwa Bandara Internasional King Khalid mencatat gangguan terhadap 4.071 dari 4.736 keberangkatan terjadwal antara 8 hingga 25 Oktober, atau sekitar 86%. Angka tersebut mencakup penerbangan yang dibatalkan maupun yang tercatat sebagai “no-fly”, klasifikasi yang lebih luas. Reuters melaporkan angka Riyadh yang sama sebagai pembatalan penerbangan.
Secara nasional, Arab Saudi mencatat 7.802 keberangkatan terdampak dari 17.299 jadwal, atau 45,1%, dalam periode 18 hari yang sama. Angka kumulatif ini tidak mengukur proporsi penerbangan yang beroperasi setelah pembukaan kembali bandara pada Minggu (25/10), dan tidak menjelaskan penyebab setiap gangguan yang terjadi.
Bandara Riyadh secara resmi dibuka kembali sebagian pada Minggu, dengan penerbangan domestik kembali beroperasi dari Terminal 1 dan maskapai nasional diizinkan melayani penerbangan internasional dari Terminal 2. Otoritas bandara mengimbau penumpang untuk memastikan status penerbangan kepada maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Maskapai Asing Masih Menahan Diri
Meski bandara telah dibuka kembali, sejumlah maskapai internasional tetap menangguhkan penerbangan ke Riyadh. KLM mencatat seluruh penerbangan ke Riyadh dan Dammam dijeda hingga 31 Oktober. Lufthansa menangguhkan penerbangan ke Riyadh hingga 18 November. Delta Air Lines bahkan menunda peluncuran penerbangan langsung Atlanta–Riyadh hingga Maret 2027, dengan alasan perkembangan situasi di kawasan.
Dampak terhadap jaringan maskapai nasional Saudia juga sangat besar. Mulai 25 Oktober hingga akhir November, Saudia memindahkan sebagian besar layanan Riyadh ke Dammam, Gassim, dan Madinah. Berdasarkan perbandingan jadwal, operasi Riyadh dipangkas dari 5.814 keberangkatan satu arah menjadi 1.223, atau pengurangan sekitar 79% penerbangan penumpang. Sejumlah rute internasional dialihkan, seperti Riyadh–Beijing ke Dammam, Riyadh–Frankfurt ke Dammam, serta Riyadh–Bangkok dan Riyadh–Islamabad ke Madinah. Beberapa rute domestik juga dipangkas drastis, termasuk Riyadh–Jeddah dari 922 menjadi 316 penerbangan, Riyadh–Dammam dari 438 menjadi 88, dan Riyadh–Abha dari 333 menjadi 46. Rute Riyadh–Gizan, Riyadh–Muscat, dan Riyadh–Nejran dibatalkan sepenuhnya.
Serangan Balasan Koalisi dan Ancaman terhadap Minyak
Koalisi pimpinan Saudi melancarkan operasi militer balasan terhadap target Houthi di Yaman pada Senin. Menurut al-Maliki, operasi tersebut menghancurkan empat peluncur rudal balistik, sebuah gudang rudal, serta sejumlah terowongan yang digunakan milisi. Operasi itu, katanya, “difokuskan untuk memutus jalur pasokan milisi Houthi antarwilayah yang mereka kuasai”.
Houthi mengklaim telah menyerang stasiun pompa minyak mentah pipa Timur–Barat Saudi dan bandara Riyadh. Mereka juga mengaku menargetkan pipa Timur–Barat, stasiun pompa, fasilitas Aramco di Yanbu, serta kilang Rabigh pada Sabtu lalu. Pipa sepanjang 1.200 kilometer itu sempat ditutup sementara pada September sebagai tindakan pencegahan setelah serangan drone yang menurut Riyadh dan Baghdad berasal dari Irak.
Serangan paling mematikan terjadi awal bulan ini, ketika gelombang serangan Houthi terhadap Bandara King Khalid menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Itu merupakan serangan paling fatal di kerajaan tersebut dalam lebih dari satu dekade. Ledakan juga mengguncang Riyadh, dan otoritas mengirim pesan teks kepada warga yang memperingatkan adanya “ancaman udara musuh” terhadap kota.
Diplomasi di Tengah Ketegangan
Di tengah eskalasi, pejabat tinggi negara-negara Pakta Mekah—Arab Saudi, Turki, dan Pakistan—dijadwalkan bertemu pejabat Iran di Teheran pada Senin untuk membahas koordinasi regional. Pertemuan itu akan menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara Iran dan seluruh anggota blok tiga negara tersebut sejak Arab Saudi menghadapi serangan meningkat dari Houthi.
Situasi di Riyadh kini menjadi sorotan dunia karena menghubungkan konflik Yaman dengan stabilitas pasokan energi global. Penutupan sebagian Selat Hormuz telah menjadikan pipa Timur–Barat sebagai jalur vital ekspor minyak Timur Tengah, sehingga ancaman terhadap infrastruktur tersebut berpotensi mengguncang pasar energi internasional.
Dengan bandara yang baru dibuka kembali namun masih dilanda gangguan, maskapai asing yang menahan penerbangan, dan klaim serangan yang terus berdatangan, Riyadh berada dalam fase paling rawan dalam lebih dari satu dekade. Keberhasilan diplomasi regional dan kemampuan pertahanan udara Saudi akan menentukan apakah ketegangan ini mereda atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Masyarakat internasional kini menanti langkah konkret dari semua pihak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengancam perdamaian dan perekonomian global.
