Juventus di Persimpangan: Alajbegovic Bersinar di Ballon d'Or, Boniek Ragukan Kualitas Skuad, Spalletti di Ujung Tanduk
Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Juventus f.c. kembali menjadi sorotan dalam panggung sepak bola Eropa, namun kali ini sorotan itu datang dari dua arah yang bertolak belakang: prestasi individual seorang talenta muda di atas panggung Ballon d’Or, dan kritik tajam dari legenda klub yang meragukan kualitas kolektif skuad asuhan Luciano Spalletti. Di tengah tekanan yang kian membara, Juventus f.c. berupaya menyeimbangkan antara harapan masa depan dan realitas yang tak selalu berpihak.
Alajbegovic, Harapan Masa Depan Juventus
Dalam gelaran Ballon d’Or di London, penyerang muda Juventus f.c., Kerim Alajbegovic, menorehkan pencapaian membanggakan dengan menempati posisi ketujuh dalam peringkat Kopa Trophy 2026, penghargaan bagi pemain terbaik dunia di bawah usia 21 tahun. Penghargaan yang kini resmi berganti nama menjadi Men’s Young Talent of the Year Award itu dimenangkan oleh Lamine Yamal dari Barcelona untuk ketiga kalinya secara beruntun. Alajbegovic menjadi satu-satunya wakil Serie A dalam daftar sepuluh nominasi yang dipilih oleh para mantan pemenang Ballon d’Or.
Pemain berusia 19 tahun asal Bosnia dan Herzegovina itu meraih nominasi berkat musim terobosan saat dipinjamkan ke RB Salzburg dari Bayer Leverkusen. Performa impresif tersebut meyakinkan Juventus f.c. untuk merekrutnya pada musim panas dengan nilai transfer sekitar 35 juta euro. Ia juga tampil cemerlang bersama timnas Bosnia di Piala Dunia, mencetak gol dalam kemenangan 3-1 atas Qatar di Seattle. Sejak berseragam Turin, Alajbegovic telah mencatat 10 penampilan di semua kompetisi, mencetak gol pertamanya di Europa League melawan NEC pada September, dan menjadi bagian reguler skuad Spalletti di tengah krisis cedera yang melanda.
Kemenangan atas Lecce, Oase di Tengah Badai
Di level domestik, Juventus f.c. akhirnya mengakhiri penantian 35 hari tanpa kemenangan di Serie A. Bermain di kandang Lecce, Weston McKennie dan Douglas Luiz mencetak gol pada babak pertama untuk membawa kemenangan 2-0, sekaligus mengangkat posisi tim ke peringkat ketujuh dengan 14 poin. Kemenangan ini menjadi respons yang dibutuhkan setelah kekalahan dari Lazio dan hasil imbang 2-2 yang menguras tenaga melawan Rennes di kompetisi Eropa.
Jurnalis Italia, Maurizio Pistocchi, menilai performa lini tengah Juventus f.c. sebagai titik terang dalam laga tersebut. Ia menyebut McKennie tampil baik sebagai gelandang yang selalu siap terlibat, sementara Douglas Luiz menjadi yang terbaik bukan hanya karena golnya. Namun, ia juga menyoroti masalah mendasar: tim ini memiliki sedikit pemain yang benar-benar berperan sebagai gelandang nomor delapan murni, sehingga keterbatasan individu hanya bisa diatasi jika tim berkembang secara kolektif.
Kritik Pedas Boniek
Kemenangan atas Lecce tak serta-merta meredam kritik. Legenda Juventus f.c., Zbigniew Boniek, menilai klub berada dalam situasi yang rumit dan terkompromi, serta tak lagi menjadi penantang gelar Scudetto. Kepada Radio Anch’io Sport, ia menyatakan tidak melihat tim berisi para juara, melainkan hanya pemain-pemain bagus. Baginya, perbedaan antara pemain bagus dan juara itulah yang menentukan segalanya. Ia bahkan meremehkan kemenangan di Lecce, menyebut gol pertama lahir dari tendangan bebas yang agak kebetulan dan menegaskan tim tidak mendominasi pertandingan.
Boniek, yang meraih Scudetto dan Piala Eropa bersama Juventus pada era 1980-an, juga menyoroti kesulitan tim di kompetisi Eropa. Hubungannya dengan klub sendiri sempat merenggang sejak era Calciopoli, dan ia mengungkit kembali insiden pencabutan bintang di Stadion Juventus pada 2010 silam. Pernyataannya menegaskan bahwa kritik yang ia lontarkan bukan sekadar soal performa di lapangan, melainkan juga soal identitas dan kualitas yang dirasa memudar.
Tantangan Berikutnya dan Bayang-Bayang Sanksi
Juventus f.c. kini mengalihkan fokus ke laga tengah pekan melawan Genoa di Stadion Luigi Ferraris. Genoa asuhan Daniele De Rossi datang dengan kepercayaan diri baru setelah kemenangan 1-0 atas Venezia, dengan Mikael Ellertsson sebagai ancaman utama di sisi lapangan. Di kubu Juventus, Pierre Kalulu diandalkan untuk menjaga stabilitas pertahanan di sisi kanan, sementara Teun Koopmeiners dan Douglas Luiz akan mengendalikan tempo di lini tengah.
Menariknya, laga melawan Napoli di Turin pada akhir pekan nanti dipastikan tanpa kehadiran Massimiliano Allegri di pinggir lapangan. Pelatih Napoli itu dijatuhi hukuman larangan mendampingi tim selama dua pertandingan serta denda 10.000 euro akibat ujaran kasar terhadap wasit dan sikap agresif di dalam ruang ganti. Napoli menyatakan akan mengajukan banding atas sanksi tersebut.
Jalan Panjang Menuju Stabilitas
Bagi Juventus f.c., persoalan sesungguhnya bukan sekadar satu kemenangan atau satu kekalahan. Klub membutuhkan stabilitas jangka panjang, dan posisi Spalletti masih berada di bawah tekanan meski kemenangan atas Lecce sedikit meredakan situasi. Kombinasi antara talenta muda seperti Alajbegovic, perbaikan di lini tengah, dan konsistensi di lini belakang akan menjadi kunci. Selama ketimpangan antara potensi individu dan kualitas kolektif belum terjembatani, pertanyaan seperti yang dilontarkan Boniek akan terus menghantui Bianconeri. Ujian melawan Genoa dan Napoli dalam sepekan ke depan akan menjadi indikator nyata apakah Juventus f.c. mampu bangkit atau justru terus terpuruk dalam ketidakpastian.
