Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya, Wamenkeu Ingatkan Tiga Ancaman Utama
Kalimantan Update – 28 Oktober 2026 | Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Nurkholisoh Ibnu Aman mengajak seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya. Ajakan tersebut disampaikan dalam seminar series Artificial Intelligence (AI) bertema “Living Side by Side with AI: The Good and The Bad” yang digelar di Jakarta, Senin (26/10), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Oeang ke-80.
Dalam paparannya, Wamenkeu menekankan bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar tren teknologi, melainkan peluang strategis untuk meningkatkan produktivitas pegawai dan memperkuat pelaksanaan tugas Kemenkeu. Namun, di balik peluang itu, ia mengingatkan bahwa Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya harus berjalan seiring, bukan dipilih salah satu.
AI Dinilai Mampu Perkuat Seluruh Siklus APBN
Dari sisi belanja, AI dapat digunakan untuk menganalisis manfaat anggaran yang diterima masyarakat dari berbagai sumber, baik melalui bantuan sosial, pemerintah daerah, maupun kementerian dan lembaga. Dengan begitu, Kemenkeu diharapkan memperoleh perspektif yang lebih komprehensif dalam menilai manfaat APBN.
“Di sisi belanja, AI bisa membantu memastikan bahwa setiap rupiah yang kita alokasikan, yang kita anggarkan itu berhasil benar-benar bermanfaat,” jelas Wamenkeu.
Sementara pada sisi pembiayaan, AI dapat membantu mengidentifikasi dan memprediksi risiko pembiayaan negara. Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan pembiayaan negara agar lebih adaptif terhadap dinamika dan risiko ekonomi global.
Tiga Risiko Utama yang Harus Diwaspadai
Meski menawarkan banyak manfaat, Wamenkeu mengingatkan adanya tiga risiko utama yang menyertai penggunaan AI. Ketiga risiko tersebut dirangkum dalam poin berikut:
- Tertipu. Perkembangan teknologi deepfake mampu memanipulasi gambar, video, dan suara sehingga menyerupai kondisi atau pernyataan asli. Risiko ini menjadi ancaman nyata bagi instansi yang mengandalkan komunikasi digital.
- Terlena. Ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, mengingat, dan memahami informasi. Pegawai dituntut tetap menjaga kompetensi intelektualnya.
- Tersebar. Kebocoran informasi akibat memasukkan data rahasia ke aplikasi AI yang tidak memiliki perlindungan atau otorisasi sesuai kebutuhan organisasi.
Wamenkeu menegaskan bahwa berbagai risiko tersebut bukan alasan untuk menolak perkembangan AI. Justru, semangat Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya menjadi kunci agar transformasi digital di lingkungan Kemenkeu berjalan aman dan bertanggung jawab.
AI Bukan Pengganti Penilaian Manusia
Dalam kesempatan itu, Wamenkeu juga menekankan bahwa penggunaan AI tidak mengalihkan tanggung jawab pejabat atas keputusan maupun dokumen yang disetujui dan ditandatangani. AI berfungsi sebagai alat bantu untuk memberikan informasi dan petunjuk, bukan sebagai pengganti penilaian manusia.
“AI itu sekali lagi memberi tanda, memberi petunjuk, membantu kita, tapi tetap manusia yang memutuskan. Tetap pemeriksa pajak di lapangan yang memutuskan. Tetap pejabat, bapak ibu pejabat, termasuk saya yang menandatangani, yang mengambil tanggung jawab,” pungkas Wamenkeu.
Dengan demikian, prinsip Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya menjadi pedoman penting bagi setiap pegawai dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kendali atas keputusan strategis. Melalui pemahaman yang seimbang, AI diharapkan dapat mendorong efisiensi kerja sekaligus menjaga integritas pengelolaan keuangan negara.
Kesimpulan
Pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan Kemenkeu membuka peluang besar untuk memperkuat siklus APBN, mulai dari penerimaan, belanja, hingga pembiayaan. Namun, Wamenkeu mengingatkan bahwa Manfaatkan AI Sekaligus Waspadai Risiko Penggunaannya harus menjadi sikap dasar setiap pegawai. Tiga risiko utama, yakni tertipu, terlena, dan tersebar, perlu dimitigasi melalui kewaspadaan dan tata kelola data yang baik. Pada akhirnya, AI tetap merupakan alat bantu, sementara keputusan dan tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan manusia.
Sumber Berita: Siaran Pers Kemenkeu melalui updatekaltim.com | Editor: Tri Widodo | Penulis: Syaifullah
