Bulog Bentuk Satgas Khusus Usai Temuan Beras Oplosan SPHP, 2.000 RPK Digerebek Mendadak
Kalimantan Update – 01 November 2026 | Perum Bulog mengambil langkah tegas dengan membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk memperketat pengawasan distribusi beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini diambil bulog menyusul temuan dugaan pengemasan ulang beras SPHP menjadi beras premium untuk kepentingan komersial yang mencuat ke publik.
Sebagai tindak lanjut, Bulog menggelar inspeksi mendadak (sidak) secara serentak terhadap 2.000 Rumah Pangan Kita (RPK) di seluruh Indonesia. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan distribusi beras SPHP berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memimpin langsung pemeriksaan salah satu RPK di wilayah Jakarta Timur. Dalam inspeksi tersebut, satgas Bulog mengecek ketersediaan stok, proses pemesanan, hingga mekanisme penjualan beras SPHP kepada masyarakat.
Pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap beras SPHP, tetapi juga produk Bulog lainnya, seperti Minyakita dan gula. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan seluruh produk dijual sesuai standar operasional yang ditetapkan Badan Pangan Nasional.
Salah satu pemilik RPK mitra Bulog, Iding, mengungkapkan bahwa beras dan minyak dari Bulog cukup diminati masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan gudang beras yang diduga melakukan pengoplosan dan pengemasan ulang beras SPHP di kawasan Matraman dan Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena beras SPHP merupakan beras pemerintah yang disalurkan untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Stok 4,5 Juta Ton, Harga Masih di Atas HET
Di sisi lain, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog masih dalam kondisi aman menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Stok beras di gudang Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton hingga akhir Oktober 2026.
Rizal memastikan ketersediaan beras cukup untuk menghadapi peningkatan konsumsi masyarakat di akhir tahun. “Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton,” katanya.
Stok tersebut sempat mencapai puncak 5,4 juta ton pada September 2026 sebelum berkurang karena penyaluran besar-besaran untuk program SPHP, bantuan pangan, serta bantuan korban bencana. Dengan stok 4,5–4,55 juta ton, Bulog masih mampu bertahan sekitar enam bulan ke depan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menjelaskan, total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai sekitar 25 juta ton. Angka tersebut terdiri dari standing crop sekitar 10 juta ton, persediaan di masyarakat dan sektor usaha sekitar 10 juta ton, serta stok Bulog 4,5 juta ton.
“Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, total 25 juta ton itu cukup untuk 10 bulan ke depan. Artinya sampai Juli–Agustus 2027 stok kita aman,” ujar Mentan Amran. Ia menegaskan stok saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Meski stok aman, harga beras di pasar masih menunjukkan tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada pekan keempat Oktober 2026, harga rata-rata nasional beras medium mencapai Rp14.677 per kilogram, naik 0,16 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara beras premium tercatat Rp16.528 per kilogram, juga naik 0,16 persen.
| Jenis Beras | Harga Nasional (per kg) | HET Zona 1 | HET Zona 2 |
|---|---|---|---|
| Medium | Rp14.677 | Rp13.500 | Rp14.000 |
| Premium | Rp16.528 | Rp14.900 | Rp15.800 |
Harga medium tersebut sudah melampaui HET zona 1 dan zona 2, sedangkan harga premium bahkan melebihi HET di seluruh zona.
Penyerapan Gabah dan Penguatan Distribusi Daerah
Di tingkat daerah, Perum Bulog Kantor Cabang Semarang mencatat penyerapan gabah kering panen (GKP) petani sepanjang Januari hingga akhir Oktober 2026 mencapai 188.000 ton. Capaian itu melampaui target penyerapan yang ditetapkan sebelumnya sebesar 120 ribu ton.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Semarang, Yudha Ajipribawa, menyebut realisasi penyerapan gabah setara dengan pengadaan beras sekitar 81.000 ton. Penyerapan dilakukan melalui Tim Jemput Gabah (TJG) yang mendatangi petani saat panen berlangsung.
Sementara itu, Bulog Sentra Penggilingan (SPP) Padi Kendal menggandeng penggilingan padi kecil melalui sistem purchase order (PO) guna menjaga kesinambungan bahan baku produksi beras premium setelah musim panen kedua berakhir. Manajer Operasional Bulog SPP Kendal, M Aziz Latif, menyebut sekitar delapan hingga sepuluh penggilingan kecil dari Kendal dan Demak rutin memasok bahan baku.
Di Kalimantan Selatan, Perum Bulog memperketat pengawasan distribusi beras SPHP melalui pemantauan langsung pasar dan evaluasi mitra. Pemantauan dilakukan di Pasar Antasari Banjarmasin dan Pasar Bauntung Banjarbaru untuk memastikan beras SPHP tersalurkan sesuai ketentuan.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Selatan, Rizal P Sukmaadijaya, menjelaskan setiap mitra RPK rata-rata mengambil beras SPHP sebanyak satu hingga dua ton dalam setiap transaksi sebagai bagian dari mekanisme pengendalian. Bulog Kalsel juga membentuk Satuan Tugas Khusus Penertiban Program Penyaluran CBP untuk memantau jalur distribusi dan mendeteksi potensi penyimpangan sejak awal.
Melalui pembentukan satgas, sidak ribuan RPK, serta penguatan penyerapan gabah dan pengawasan distribusi di daerah, Bulog berupaya memastikan beras SPHP tidak disalahgunakan dan dapat diterima masyarakat sesuai peruntukannya. Ketersediaan stok yang melimpah diharapkan berjalan seiring dengan perbaikan tata kelola distribusi, sehingga program stabilisasi pangan benar-benar melindungi daya beli masyarakat hingga akhir tahun dan seterusnya.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Sukardi
Sumber: Garuda TV, ANTARA
