Harga Emas Antam Terjun Bebas Rp20.000, Sinyal Buyback Anjlok dan Proyeksi Pekan Depan yang Menegangkan
Kalimantan Update – 01 November 2026 | Harga emas Antam pada Minggu, 1 November 2026, ditutup stagnan di level Rp2.526.000 per gram setelah sebelumnya turun Rp20.000 pada akhir pekan. Penurunan ini menjadi sorotan pasar logam mulia di tengah gejolak ekonomi global yang masih belum mereda. Sepanjang sepekan, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat melemah Rp14.000 atau 0,55 persen dibandingkan posisi awal pekan.
Berdasarkan pantauan di situs resmi Logam Mulia, pergerakan harga emas Antam selama sepekan terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Pada Senin (26/10/2026), harga emas Antam stagnan di Rp2.540.000 per gram. Selanjutnya, Selasa (27/10) naik Rp10.000 menjadi Rp2.550.000, dan Rabu (28/10) kembali melonjak Rp20.000 ke Rp2.570.000 per gram. Namun, tren berbalik pada Kamis (29/10) dengan penurunan Rp11.000 menjadi Rp2.559.000, Jumat (30/10) turun Rp13.000 menjadi Rp2.546.000, dan Sabtu (31/10) anjlok Rp20.000 menjadi Rp2.526.000. Harga tersebut bertahan hingga Minggu (1/11/2026).
Penurunan harga emas juga berdampak pada harga buyback Antam yang turun Rp59.000 atau 2,53 persen menjadi Rp2.276.000 per gram. Harga buyback ini belum termasuk potongan PPh 22. Perbedaan antara harga beli dan harga buyback sering menjadi pertanyaan masyarakat. Menurut pengamat, selisih harga atau spread tersebut digunakan untuk menutup biaya transaksi sekaligus margin keuntungan penjual. Faktor lain yang memengaruhi adalah fluktuasi harga emas di pasar global, kondisi fisik dan keaslian emas, jenis dan merek, biaya operasional, kebijakan penjual, serta permintaan dan penawaran lokal.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada pekan depan. Jika kembali terkoreksi pada perdagangan Senin (2/11/2026), harga emas bisa turun ke US$3.818 per troy ounce. Dalam sepekan hingga Sabtu, penurunan bisa mencapai level US$3.737 per troy ounce. Meski demikian, ada peluang kenaikan terbatas. Apabila harga emas dunia pada Senin naik, prediksinya berada di US$3.951 per troy ounce, dan jika menguat dalam sepekan bisa menuju US$4.003 per troy ounce.
Ibrahim menjelaskan, penurunan harga emas dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh gejolak geopolitik yang belum menunjukkan tanda akhir di Timur Tengah hingga Eropa Timur. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinegosiasi oleh Pakistan, serta serangan AS terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz, menambah ketegangan. Iran juga melakukan serangan balik terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Selain itu, ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan turut mewarnai pasar Asia.
Kebijakan bank sentral AS (The Fed) juga menjadi faktor penting. Menyusul rilis inflasi yang cukup tinggi, ada ruang untuk menaikkan suku bunga. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bahwa jika harga minyak terus naik dan harga solar di Amerika terdampak, ada kemungkinan bank sentral menaikkan suku bunga pada November atau Desember. Spekulasi kenaikan suku bunga ini membuat investor mengalihkan dana dari emas ke dolar AS maupun yield obligasi.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang ingin membeli atau menjual emas perlu mencermati perkembangan global. Harga emas yang cenderung melemah bisa menjadi peluang bagi pembeli, namun bagi pemilik emas yang ingin menjual, penurunan harga buyback tentu mengurangi keuntungan. Penting untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga emas agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat.
Secara keseluruhan, harga emas Antam pada awal November 2026 berada di level Rp2.526.000 per gram, turun Rp20.000 dari posisi sebelumnya. Fluktuasi harga emas dipengaruhi oleh faktor global seperti geopolitik, inflasi, dan kebijakan suku bunga. Investor disarankan untuk terus memantau informasi terkini dan mempertimbangkan risiko sebelum bertransaksi.
