Guncangan Politik AS: Gelombang Kandidat Progresif Anti-Israel Ancam Hegemoni Dukungan Bipartisan Washington
Kalimantan Update – 03 November 2026 | Politik Amerika Serikat tengah memasuki babak baru yang menempatkan Israel di pusat pusaran kontroversi. Menjelang pemilihan sela pada Selasa mendatang, gelombang kandidat progresif dari Partai Demokrat yang mengecam keras kebijakan militer Israel di Gaza bersiap menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives). Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam di Israel mengenai masa depan dukungan bipartisan yang selama puluhan tahun menjadi pilar hubungan kedua negara.
Sejumlah nama mencuat sebagai wajah baru perlawanan terhadap kebijakan pro-Israel. Salah satunya adalah Brad Lander, mantan pengawas keuangan Kota New York yang mencalonkan diri di distrik kongres ke-10 New York. Lander bahkan sempat ditahan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bersama sekitar 60 aktivis saat mengikuti panen zaitun bersama Rabbis for Human Rights di kawasan yang dinyatakan sebagai zona militer tertutup di Tepi Barat. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyebut apa yang disaksikannya sebagai “pembersihan etnis” dan menegaskan bahwa rumah-rumah warga Palestina dibakar satu per satu.
“Itu bukan nilai-nilai yang saya pelajari. Ketika kita mengatakan ‘Never Again’, kami berarti tidak akan pernah lagi terjadi pada siapa pun, di mana pun,” ujar Lander, mengutip tradisi Yahudi dalam frasa “Bakesh shalom v’rodfehu” yang berarti kejar dan raihlah perdamaian.
Lander tidak sendirian. Di distrik kongres ke-13 Michigan, Donovan McKinney secara terbuka menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida dan menyatakan dukungan untuk menghentikan bantuan militer AS jika tuduhan tersebut terbukti. Sejumlah analis memperkirakan setidaknya tujuh anggota kongres baru akan bergabung dengan tujuh anggota yang kini membentuk kelompok progresif “The Squad”, memperkuat blok kritis terhadap Israel di parlemen.
Pergeseran ini paling terlihat di Michigan, yang menjadi episodik kemenangan Abdul El-Sayed atas kandidat pro-Israel, Haley Stevens, dalam pemilihan pendahuluan Senat Demokrat. Meski menghadapi gelontoran dana lebih dari 30 juta dolar AS dari AIPAC dan komite aksi politik United Democracy Project, pesan anti-perang El-Sayed justru menggema di seluruh negara bagian. Kemenangan itu dianggap sebagai cermin pergeseran seismik opini publik Amerika terhadap kebijakan AS di Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan program “60 Minutes”, El-Sayed mempertahankan kritiknya yang tajam terhadap Israel dibandingkan negara-negara Timur Tengah lain. Ia menyinggung skala pengeluaran AS, skala kejahatan perang, dan dampaknya terhadap politik domestik. “Apakah Anda benar-benar berpikir ada entitas yang mewakili pemerintah Saudi yang sekuat AIPAC mewakili pemerintah Israel?” tanyanya retoris. Data OpenSecrets menunjukkan entitas terkait Saudi mengeluarkan sekitar 421,9 juta dolar AS untuk aktivitas pelobian antara 2016 dan 2025, sementara entitas terkait Israel sekitar 214,6 juta dolar AS. Namun, El-Sayed menekankan bahwa pengeluaran kampanye AIPAC senilai 33 juta dolar AS dalam satu pemilihan merupakan intervensi yang luar biasa besar.
Dampak dari pertarungan ini merembes hingga ke tingkat personal. Haley Stevens, yang kalah dari El-Sayed, membuat keputusan mengejutkan dengan mendukung kandidat Partai Republik, Mike Rogers, dalam pemilihan Senat. Langkah itu menuai kecaman keras dari jajaran Demokrat, termasuk Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer yang menyebutnya “pengkhianatan yang tercela”. Ketua Partai Demokrat Michigan, Curtis Hertel, bahkan menyatakan Stevens bukan lagi anggota partai.
Di komunitas Yahudi Michigan, perdebatan mengenai Israel dan El-Sayed menjadi perbincangan hangat di sinagoga, kelompok komunitas, hingga meja makan keluarga. Perpecahan ini mencerminkan jurang generasi dalam pandangan terhadap kebijakan AS terhadap Israel, terutama sejak perang di Gaza.
Sementara itu, dinamika politik internal Israel juga menunjukkan warna baru. Yoav Segalovitz, seorang mantan polisi Yahudi dan Zionis, mengejutkan banyak pihak dengan bergabung ke Partai Ra’am, partai Arab-Islam yang memenangkan delapan kursi dalam pemilu Israel. Ia menegaskan tujuannya adalah membangun koalisi lintas ras dan agama. “Dia Arab, saya Yahudi. Saya sekuler, dia religius. Tapi kita semua warga negara Israel,” ujarnya. Partai-partai Arab memenangkan 19 kursi bersejarah di Knesset, berpotensi menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan koalisi.
Keseluruhan perkembangan ini menandai babak baru dalam lanskap politik global, di mana isu Israel tidak lagi sekadar kebijakan luar negeri, melainkan telah menjadi medan pertempuran ideologis yang menentukan arah kepemimpinan politik di Amerika Serikat dan sekutunya. Bagi Israel, tantangan terbesarnya bukan hanya suara-suara kritis di Kongres, tetapi pesan politik yang akan diwariskan kepada generasi kepemimpinan Demokrat berikutnya menjelang pemilihan presiden mendatang.
