Masterplan IAD HSU 2026 2030 Buka Peluang Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekosistem Rawa
Kalimantan Update – 04 November 2026 | Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) resmi memulai tahap konsultasi publik untuk Masterplan IAD HSU 2026 2030 Buka Peluang Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekosistem Rawa. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengubah potensi ekosistem rawa dan lahan basah menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Forum lintas pemangku kepentingan digelar di Aula Dr KH Idham Chalid, Amuntai, Selasa (3/11/2026), dengan melibatkan berbagai pihak dari pemerintah, lembaga internasional, akademisi, hingga kelompok usaha perhutanan sosial.
Wakil Bupati HSU Hero Setiawan menegaskan bahwa karakteristik wilayah HSU yang didominasi rawa dan lahan basah menyimpan kekayaan alam luar biasa. Mulai dari perikanan rawa, kerbau rawa, kerajinan purun, hingga itik Alabio, semua potensi ini dapat dikembangkan secara terpadu melalui pendekatan Integrated Area Development (IAD). “Pendekatan IAD dirancang agar pengembangan perhutanan sosial tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga terintegrasi dengan penguatan ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur, kemitraan usaha, serta perluasan akses pasar,” ujar Hero Setiawan dalam sambutannya.
Masterplan IAD HSU 2026 2030 Buka Peluang Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekosistem Rawa ini juga disinergikan dengan sejumlah program unggulan daerah, seperti OVOC, OPOP, PROLANDA, Kayuh Jukung, SITANI, konservasi kerbau rawa, KAPLINGAN, DESTANA, dan PERAK. Semua program tersebut sejalan dengan visi HSU Bangkit yang menargetkan wilayah ini menjadi agrominapolitan penopang logistik Kalimantan Selatan dengan semangat “Bangkit Bersama, Berbakti Gasan Banua”.
Data menunjukkan saat ini HSU memiliki delapan persetujuan perhutanan sosial seluas 16.521 hektare yang dikelola oleh 17 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Namun, sebagian kelompok tersebut masih belum berkembang optimal. Oleh karena itu, pemerintah daerah memprioritaskan penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan kapasitas usaha, pengolahan hasil produksi, serta akses permodalan dan pasar. Hero Setiawan juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem rawa dan gambut, termasuk mitigasi banjir, serta meminta Bapperida mengoordinasikan integrasi program lintas perangkat daerah.
Konsultasi publik ini menghadirkan narasumber lintas tingkat pemerintahan dan lembaga internasional. Di antaranya Ir Nur Dwiyanti dari Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Dr Ir Suprapti Tri Astuti dari Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan, Eko Nopriadi dari BPS Kalsel, serta Stepi Hakim dari Global Green Growth Institute (GGGI). Acara juga dihadiri Sekretaris Daerah HSU Adi Lesmana, Kepala Kantor Kementerian Agama HSU, pejabat Pemkab HSU, camat, dan kepala desa se-Kabupaten HSU.
Wakil Bupati HSU menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan, GGGI, PT Orien Spasia Ecoscape, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan dokumen masterplan. Keberhasilan IAD membutuhkan dukungan berkelanjutan dari instansi kehutanan, pemerintah desa, kelompok usaha, dunia usaha, perguruan tinggi, dan mitra pembangunan. Indikator keberhasilan program nantinya ditandai dengan kemandirian kelompok perhutanan sosial, peningkatan pendapatan masyarakat, perluasan pasar produk unggulan daerah, serta terjaganya kelestarian lingkungan.
Dengan adanya Masterplan IAD HSU 2026 2030 Buka Peluang Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekosistem Rawa, diharapkan masyarakat HSU dapat memanfaatkan potensi rawa secara optimal tanpa merusak lingkungan. Pendekatan terpadu ini tidak hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan ekosistem yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci suksesnya implementasi masterplan ini di lapangan.
Sebagai penutup, Masterplan IAD HSU 2026 2030 Buka Peluang Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekosistem Rawa merupakan strategi jangka panjang yang komprehensif. Jika dijalankan dengan konsisten, HSU berpotensi menjadi contoh daerah lain dalam mengelola ekosistem rawa secara produktif dan lestari. Partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat akan menentukan tercapainya visi HSU Bangkit sebagai agrominapolitan yang berdaya saing.
