LIV Golf di Ambang Kehancuran: Jon Rahm Hengkang, Bintang Lain Ikuti Jejak
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Nasib LIV Golf semakin berada di ujung tanduk. Setelah kehilangan dukungan finansial raksasa dari Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF), liga golf kontroversial ini kini menghadapi gelombang kepergian para pemain bintangnya, dimulai dari Jon Rahm yang secara resmi mengonfirmasi hengkang, disusul sejumlah nama besar lain yang dikabarkan tengah menjajaki jalan keluar.
Keputusan Rahm meninggalkan LIV Golf menjadi pukulan telak. Juara dua major tersebut menolak syarat-syarat yang diajukan dalam konsep “LIV Golf 2.0”, versi baru liga yang dirancang tanpa sokongan PIF. Pengacara Rahm, John Beck, dalam sidang kepailitan mengungkapkan bahwa tim manajemennya sedang berada dalam “pembicaraan lanjutan” untuk merampungkan pemutusan kontrak sebelum 15 November. Ironisnya, LIV Golf masih berutang sekitar 150 juta dolar AS kepadanya, meski dalam jadwal kreditur tercatat klaim terpisah senilai 7,5 juta dolar AS.
Rahm bukan satu-satunya. Adrian Meronk dan David Puig juga telah memastikan diri tidak akan menjadi bagian dari proyek LIV Golf 2.0. Agen pemain Lucas Herbert bahkan sudah lebih dulu menghubungi PGA Tour sebagai langkah antisipasi. Sejumlah pejabat di Wentworth, markas DP World Tour, kini tengah bernegosiasi dengan beberapa pemain yang berencana menjadikan tur Eropa tersebut sebagai basis utama mereka musim depan.
Bryson DeChambeau, yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat berikutnya untuk pergi, menjadi sorotan. Para pemain LIV Golf dikabarkan tengah mengejar kesepakatan khusus yang menjamin mereka mendapat waktu bermain di DP World Tour, sebagai bagian dari negosiasi keluarnya mereka dari liga yang berbasis di Arab Saudi itu.
Situasi ini diperparah oleh langkah LIV Golf yang mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat pada bulan lalu, setelah PIF menarik dukungan miliaran dolar mereka pada Maret. Liga juga masih menunggak pembayaran jutaan dolar kepada para pemainnya. Meski demikian, pejabat LIV Golf tetap yakin liga dapat terus berjalan pada 2027, meskipun menghadapi rintangan besar untuk mewujudkan versi baru sirkuit tersebut.
Perusahaan investasi asal London, BC Partners, disebut berminat melanjutkan LIV Golf tanpa PIF dan dilaporkan telah mengamankan potensi pendanaan sebesar 300 juta dolar AS. Namun, masa depan liga sangat bergantung pada komitmen para pemainnya. Semakin banyak pemain yang mencari jalan keluar secepat mungkin.
Di sisi lain, PGA Tour telah menegaskan bahwa pemain yang ingin kembali harus melewati proses melalui DP World Tour. Program Returning Member yang dibuka pada Februari lalu tidak akan dibuka kembali setelah keberhasilan transfer Brooks Koepka sebelum LIV Golf mengajukan kebangkrutan. Program tersebut awalnya memungkinkan Koepka, Rahm, DeChambeau, dan Cameron Smith untuk kembali ke tur utama Amerika.
Xander Schauffele, salah satu bintang PGA Tour, mengaku masih belum yakin dengan sikapnya terkait prospek kembalinya para pemain LIV Golf ke PGA Tour. “Saya masih belum tahu di mana posisi saya,” ujarnya, mencerminkan kompleksitas situasi yang tengah terjadi di dunia golf profesional.
Ketidakpastian ini menciptakan dinamika baru di industri golf global. Para pemain yang tersisa di LIV Golf dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan di liga yang masa depannya tidak menentu, atau mencari jalur kembali ke tur konvensional yang membutuhkan proses panjang dan penuh syarat.
Dengan utang yang menumpuk, dukungan finansial yang menguap, dan eksodus pemain yang terus berlanjut, masa depan LIV Golf berada di titik kritis. Apakah liga ini mampu bangkit dengan wajah barunya, atau justru menjadi catatan sejarah kelam dalam dunia olahraga golf profesional, waktu yang akan menjawabnya.
