Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun, Pangeran S Pandiangan Pimpin Satgas Karhutla

Foto: Istimewa

Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun, Pangeran S Pandiangan Pimpin Satgas Karhutla

Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | KUALA KAPUAS — Aksi heroik kembali ditunjukkan jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas. Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun menjadi sorotan publik setelah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S Pandiangan, tidak sekadar memantau dari balik meja, melainkan ikut terjun ke lapangan bersama petugas dan relawan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Jalan Saka Purun, Kelurahan Selat Dalam, Kecamatan Selat.

Peristiwa tersebut berlangsung pada Jumat siang. Kobaran api yang disertai kepulan asap tebal membuat proses pemadaman berlangsung dalam kondisi yang cukup sulit. Lokasi kebakaran yang berada dekat dengan kawasan pemukiman warga menambah tingkat urgensi penanganan, karena potensi perluasan api dapat mengancam keselamatan masyarakat sekitar.

Satgas Induk Karhutla Bergerak Cepat ke Titik Api

Begitu laporan diterima, Kalak BPBD Kapuas bersama Satgas induk Karhutla langsung bergerak menuju sejumlah titik api. Mereka tidak menunggu instruksi berjenjang, tetapi mengambil langkah cepat agar kobaran api tidak semakin meluas. Aksi Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun pun menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah hadir di tengah kesulitan warga.

Di tengah kondisi panas menyengat, asap pekat, serta medan yang cukup menantang, seluruh unsur bahu-membahu mengendalikan api. Pompa, selang, dan berbagai peralatan pemadam dikerahkan secara maksimal. Petugas dan relawan saling bahu-membahu memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.

“Panas tidak mengenal jabatan, asap tidak membedakan pangkat. Kita semua berada dalam satu barisan dengan tujuan yang sama, yaitu memadamkan api, mencegahnya meluas, serta melindungi masyarakat dan lingkungan,” ujar Pangeran S Pandiangan di sela-sela proses pemadaman.

Pernyataan tersebut menegaskan semangat gotong royong yang menjadi roh dalam penanganan bencana. Bagi Pangeran, jabatan bukanlah penghalang untuk turun langsung ke lokasi dan merasakan beratnya perjuangan petugas di lapangan.

Penyisiran Titik Bara dan Dukungan Logistik bagi Personel

Setelah kobaran api berhasil dikendalikan, tim gabungan terus menyisir lokasi untuk mencari titik bara yang masih menyala. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya kebakaran ulang, terutama saat angin bertiup kencang dan cuaca masih panas. Penyisiran dilakukan secara menyeluruh dengan mengandalkan pompa, selang, dan peralatan pendukung lainnya.

Di tengah kerasnya penanganan Karhutla, Satgas Karhutla dan relawan juga mendapatkan dukungan berupa susu, vitamin C, air mineral, serta obat-obatan. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjaga kondisi fisik personel selama menjalankan tugas pemadaman yang menguras tenaga.

“Dukungan semua pihak sangat berarti. Ini bukan hanya soal peralatan, tetapi juga soal menjaga stamina dan kesehatan rekan-rekan yang bertugas di lapangan,” tambahnya.

Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Lahan Terbakar

Pangeran S Pandiangan menegaskan bahwa penanganan Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat. Menurutnya, Karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Dampaknya juga dirasakan masyarakat melalui asap, terganggunya aktivitas, kerusakan lingkungan, hingga ancaman terhadap kesehatan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Praktik membakar lahan dinilai sangat berbahaya, terutama pada musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino yang membuat kemarau lebih panjang dan kering.

“Jangan menganggap kecil api yang kita nyalakan, karena kita tidak pernah tahu seberapa jauh dampaknya ketika api kehilangan kendali,” pesannya.

Peringatan tersebut menjadi relevan mengingat beberapa waktu sebelumnya, Satgas Karhutla juga harus memadamkan empat titik api di wilayah Kapuas. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman Karhutla masih nyata dan memerlukan kewaspadaan bersama.

Bentuk Tanggung Jawab Pemerintah kepada Masyarakat

Kalak BPBD Kapuas juga menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di tengah penanganan Karhutla merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga turun langsung melihat kondisi di lapangan, mendengar kendala petugas, serta mengambil langkah yang diperlukan untuk mempercepat penanganan.

Aksi Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun menjadi cermin kepemimpinan yang responsif. Kehadiran seorang kepala pelaksana di lokasi kebakaran memberikan semangat tersendiri bagi petugas dan relawan yang berjuang di garis depan.

Masyarakat pun diingatkan bahwa menjaga Kabupaten Kapuas dari ancaman Karhutla merupakan tanggung jawab bersama demi menjaga lingkungan, kesehatan, dan keselamatan generasi mendatang. Kolaborasi antara pemerintah, petugas, relawan, dan warga menjadi kunci utama dalam mencegah bencana yang lebih besar.

Kesimpulan

Kisah Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun memberikan pelajaran penting tentang kepemimpinan yang hadir di tengah kesulitan. Pangeran S Pandiangan membuktikan bahwa pemimpin tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi juga ikut merasakan panasnya api dan tebalnya asap bersama petugas serta relawan.

Keberhasilan penanganan Karhutla di Jalan Saka Purun tidak lepas dari kerja sama semua pihak. Namun, upaya pemadaman tidak akan cukup jika masyarakat masih membuka lahan dengan cara membakar. Oleh karena itu, kesadaran kolektif untuk tidak membakar lahan menjadi langkah paling efektif dalam mencegah Karhutla.

Dengan semangat kebersamaan, Kabupaten Kapuas diharapkan mampu menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Kalak BPBD Kapuas Turun Langsung Padamkan Api di Saka Purun hendaknya menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk selalu hadir dan bergerak cepat dalam melindungi masyarakat dan lingkungan.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Kanal Kalimantan