B.J. Habibie dan Polemik Ijazah Gibran: Warisan Pendidikan yang Tetap Relevan
Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Nama b. j. habibie kembali mencuat dalam diskursus publik nasional. Kali ini bukan karena capaian teknologinya, melainkan karena riwayat pendidikannya dijadikan pembanding dalam polemik keabsahan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Sigit Widodo, menyinggung sosok b. j. habibie melalui akun media sosial X pribadinya sebagai contoh bahwa jalur pendidikan seseorang tidak selalu linier dan tidak bisa dinilai hanya dari selembar ijazah.
Polemik ini bermula dari putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan tidak menerima gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang diajukan mantan Wamenkumham Denny Indrayana bersama sebelas pemohon lainnya. Gugatan tersebut mempersoalkan syarat pendidikan Gibran yang diduga tidak memiliki ijazah SMA/SLTA saat mendaftar pada Pilpres 2024, meski di sisi lain ia mengantongi ijazah S1. Sejumlah pihak pun mendesak Gibran mundur dari jabatan Wapres karena dianggap cacat prosedur sejak awal.
Dalam merespons polemik tersebut, Sigit Widodo mengangkat riwayat pendidikan Presiden ke-3 RI itu. Menurutnya, b. j. habibie sempat menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung, selama sekitar enam bulan sebelum memutuskan melanjutkan studi ke Jerman. Ia tidak menyelesaikan pendidikan sarjana di perguruan tinggi dalam negeri, sehingga secara teknis tidak dapat menunjukkan ijazah S1 dari Indonesia.
“Presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, tidak memiliki ijazah sarjana. Beliau meninggalkan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung setelah hanya kuliah enam bulan dan pindah berkuliah di Jerman,” tulis Sigit dalam unggahannya.
Di Jerman, b. j. habibie menempuh pendidikan di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen. Ia meraih gelar Diplom-Ingenieur yang setara dengan magister (S2), kemudian melanjutkan pendidikan doktoral dan merengkuh gelar Doktor-Ingenieur (S3) di kampus yang sama. Prestasi akademik tersebut menjadi fondasi kariernya sebagai salah satu insinyur paling berpengaruh di Indonesia, termasuk saat memimpin industri strategis nasional dan mencetuskan konsep teknologi penerbangan.
Menurut Sigit, jika logika yang digunakan untuk mempersoalkan ijazah Gibran diterapkan pada riwayat pendidikan b. j. habibie, maka kesimpulan yang muncul akan keliru. Ia mengingatkan agar polemik ini disikapi dengan nalar jernih dan tidak didasari kebencian politik. “Kalau mengikuti logika Denny Indrayana dan sekian banyak buzzer yang tengah dikerahkan untuk mendiskreditkan Mas Gibran, Pak Habibie hanya lulus SMA karena tidak bisa menunjukkan ijazah S1,” ujarnya.
Terlepas dari polemik tersebut, warisan b. j. habibie di dunia pendidikan terus hidup. Anggota Komisi II DPR RI, Dr. H.M. Taufan Pawe, mengungkapkan sejumlah amanah dan impian almarhum terkait pengembangan Institut Teknologi B.J. Habibie (ITH) Parepare. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Aula Kampus ITH Parepare, Sabtu (10/10/2026).
Salah satu cita-cita besar yang belum terwujud adalah keinginan agar mahasiswa ITH berkesempatan mengenyam pendidikan selama satu semester di universitas teknologi di Jerman. “Beliau saat itu bilang ke saya, ‘Taufan, kalau Tuhan masih beri saya umur, saya mau melihat anak-anak ITH berkesempatan kuliah di Jerman.’ Karena itu, saya berharap jejaring Pak Ilham Habibie di Jerman kelak dapat membuka peluang kerja sama akademik bagi mahasiswa ITH,” ujar Taufan.
Selain program pertukaran ke Jerman, b. j. habibie juga mengamanatkan agar setiap kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dapat mengutus sepuluh lulusan SMA/sederajat terbaik untuk berkuliah di ITH, dengan target kapasitas hingga 30.000 mahasiswa. Ia pun berpesan agar ITH menghadirkan program studi teknologi pertanian, yang kini telah terealisasi melalui Prodi Teknologi Pangan dan Bioteknologi.
Rektor ITH Parepare, Prof. Dr. Ir. H. Ansar Suyuti, mengapresiasi peran vital Taufan Pawe sebagai figur di balik lahirnya kampus perguruan tinggi negeri tersebut. Perjuangan selama tujuh tahun sejak 2014 berbuah manis saat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Perpres Nomor 152 Tahun 2014 tentang Pendirian ITH, hingga akhirnya resmi beroperasi pada 2021. Saat ini, ITH Parepare telah membina 19 program studi dan menampung mahasiswa dari 20 provinsi di Indonesia.
Nama b. j. habibie juga diabadikan pada Stadion Gelora B.J. Habibie di Parepare, yang menjadi saksi berbagai pertandingan sepak bola nasional. Pada laga pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026, Borneo FC Samarinda berhasil membalikkan keadaan dan mengalahkan PSM Makassar dengan skor 2-1 di stadion tersebut. Kemenangan itu membuat Borneo menempel ketat Persib di puncak klasemen sementara dengan koleksi 63 poin.
Dari polemik ijazah hingga pengembangan institusi pendidikan dan sarana olahraga, sosok b. j. habibie terus menjadi rujukan dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak semata ditentukan oleh dokumen formal, melainkan oleh dedikasi, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Warisan pemikiran dan impiannya bagi kemajuan pendidikan teknologi Indonesia menjadi pengingat bahwa investasi pada sumber daya manusia adalah fondasi utama pembangunan bangsa.
