ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060: Konsumsi Energi Diproyeksi Melonjak 4 Kali Lipat
Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060 menjadi sorotan utama dalam peluncuran laporan 9th ASEAN Energy Outlook (AEO9) oleh ASEAN Centre for Energy (ACE). Laporan tersebut menguraikan proyeksi kebutuhan energi, pilihan kebijakan, dan strategi kerja sama regional untuk menghadapi lonjakan konsumsi energi yang diprediksi terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Dalam laporan itu, ACE menempatkan efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, integrasi jaringan listrik, dan koordinasi antarnegara sebagai pilar penting untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan impor energi.
Berdasarkan Baseline Scenario (BAS), konsumsi energi final ASEAN diproyeksikan meningkat drastis dari sekitar 485 juta ton setara minyak (million tonnes of oil equivalent/Mtoe) pada 2025 menjadi 2.047 Mtoe pada 2060. Kenaikan ini tidak terlepas dari pertumbuhan industri, transportasi barang, kebutuhan pendinginan bangunan, urbanisasi, serta perkembangan layanan digital dan pusat data yang semakin masif. Situasi tersebut menuntut respons cepat dan terencana dari seluruh negara anggota ASEAN agar ketahanan energi tetap terjaga.
ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060 juga menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi. Ketergantungan pada bahan bakar fosil dinilai semakin berisiko di tengah ketidakpastian harga global dan komitmen pengurangan emisi karbon. Oleh karena itu, pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, air, dan biomassa menjadi prioritas. Integrasi jaringan listrik antarnegara di kawasan juga dianggap kunci untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan energi, terutama ketika satu negara mengalami surplus atau defisit.
Dalam laporan tersebut, ACE memetakan sejumlah skenario kebijakan yang dapat diadopsi negara-negara ASEAN. Pertama, peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan bangunan melalui teknologi hemat energi dan standar kinerja yang lebih ketat. Kedua, percepatan penetrasi energi terbarukan dengan insentif fiskal dan regulasi yang mendukung investasi. Ketiga, pengembangan infrastruktur jaringan listrik regional yang terintegrasi, termasuk interkoneksi lintas batas. Keempat, penguatan kerja sama riset dan pengembangan teknologi energi bersih antarnegara anggota.
ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060 menegaskan bahwa tanpa langkah strategis, lonjakan konsumsi energi dapat membebani anggaran negara, meningkatkan emisi gas rumah kaca, dan memperlebar ketimpangan akses energi di kawasan. Proyeksi peningkatan hingga 2.047 Mtoe pada 2060 menjadi peringatan bahwa business as usual tidak lagi relevan. Negara-negara ASEAN perlu mengadopsi pendekatan yang lebih ambisius dan terkoordinasi, termasuk menetapkan target energi terbarukan yang mengikat dan memperkuat tata kelola energi di tingkat regional.
Selain itu, transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru. Investasi di sektor energi terbarukan diprediksi menciptakan lapangan kerja hijau, mendorong inovasi teknologi, dan meningkatkan daya saing industri ASEAN di pasar global. Namun, tantangan pembiayaan dan kesenjangan kapasitas antarnegara tetap menjadi kendala yang harus diatasi melalui mekanisme kerja sama, seperti pendanaan bersama dan alih teknologi.
ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060 menjadi rujukan penting bagi para pembuat kebijakan di kawasan. Laporan ini tidak hanya menyajikan data proyeksi, tetapi juga menawarkan kerangka kerja untuk merancang kebijakan energi yang berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang erat, ASEAN berpotensi menjadi kawasan yang tangguh dalam menghadapi tantangan energi global sekaligus berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim.
Sebagai kesimpulan, lonjakan konsumsi energi ASEAN hingga 2060 menuntut strategi transisi yang komprehensif dan terintegrasi. Efisiensi energi, energi terbarukan, integrasi jaringan, dan kerja sama regional adalah empat pilar utama yang harus dijalankan secara konsisten. Tanpa itu, ketahanan energi kawasan akan terancam. ACE Petakan Strategi Transisi Energi ASEAN hingga 2060 menjadi peta jalan yang harus diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh setiap negara anggota.
