Gas Air Mata hingga Aksi Greta Thunberg: Gelombang Protes Pendidikan Guncang Albania dan Prancis
Kalimantan Update – 14 Oktober 2026 | Gas air mata mengepul di udara Tirana ketika polisi antihuru-hara Albania membubarkan ratusan mahasiswa yang mengepung Kementerian Pendidikan, Selasa (13/10/2026). Aksi unjuk rasa yang berlangsung ricuh itu menjadi babak terbaru dari gelombang protes pendidikan yang kini menjalar ke sejumlah negara Eropa, dari Balkan hingga Prancis. Polisi tak hanya melepaskan tembakan gas air mata, tetapi juga menyemprotkan meriam air ke arah demonstran yang melemparkan batu bata dan balok beton ke gedung kementerian.
Menurut keterangan kepolisian, sedikitnya enam petugas dan seorang jurnalis perempuan mengalami luka-luka, sementara 23 orang ditahan. Massa disebut terus menyerang aparat dengan bom molotov, petasan, batu, dan benda keras lainnya meskipun polisi telah meminta mereka menghentikan aksi. Para pengunjuk rasa menyatakan kemarahan mereka bukan sekadar soal biaya kuliah, melainkan juga ketimpangan sosial dan kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai memihak kelompok kaya.
“Yang Albania butuhkan adalah revolusi, perubahan, penggulingan sistem secara total karena keadaan tidak bisa terus seperti ini,” ujar Luljeta Kola, salah satu demonstran. Ia menegaskan jurang sosial antara si kaya dan si miskin di negaranya semakin melebar.
Wakil Perdana Menteri Albania, Albana Kociu, merespons lewat unggahan di Facebook. Ia menegaskan kekerasan bukanlah jalan keluar dan menilai pelemparan batu, penyerangan terhadap institusi serta polisi negara, dan perusakan fasilitas publik bukanlah cara kaum muda menyampaikan aspirasi. Ibu kota Albania sendiri telah dilanda rangkaian protes antigovernment sejak Mei, yang awalnya dipicu proyek pariwisata mewah yang dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Tuntutan mahasiswa Albania mencakup kondisi kampus yang memadai, biaya pendidikan tinggi yang lebih terjangkau, dukungan finansial, hingga prospek kerja setelah lulus. Namun gelombang unjuk rasa serupa juga meledak di Prancis dengan skala jauh lebih besar. Sebanyak 161.500 orang tercatat turun ke jalan di seluruh Prancis pada hari yang sama, termasuk 41.500 di Paris, menurut data Kementerian Dalam Negeri setempat.
Yang menarik perhatian dunia, aktivis iklim Greta Thunberg ikut bergabung dalam aksi di Prancis. Perempuan 23 tahun asal Swedia itu muncul di luar sebuah sekolah menengah di Saint-Denis, utara Paris, mendampingi pelajar yang menuntut penambahan guru, fasilitas lebih baik, dan jam sekolah yang lebih pendek. Ia menyebut respons polisi terhadap demonstran sebagai tindakan yang “sangat brutal”.
“Kami terinspirasi oleh kaum muda yang menuntut hak-hak dasar mereka,” kata Thunberg kepada wartawan. Sejak protes dimulai pada September, lebih dari 6.800 orang telah ditahan di Prancis. Demonstran membakar sejumlah kendaraan, mendirikan barikade, dan berhadapan dengan polisi antihuru-hara di berbagai kota, meski banyak aksi lain berlangsung damai. Kementerian Pendidikan Prancis mencatat 214 sekolah terpaksa ditutup.
Di sisi lain, pasar energi global juga ikut terguncang. Pasokan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah yang terhambat dilaporkan membalikkan dinamika pasar gas dunia. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahkan memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak melonjak hingga 2,6 juta barel per hari pada 2027, sementara Korea Selatan tengah mengkaji ulang kontrak pasokan senilai 22,3 miliar dolar AS. Ketegangan geopolitik di kawasan itu membuat harga gas dan minyak semakin sulit diprediksi.
Isu keselamatan gas juga mencuat di Wales, Inggris. Sejumlah surat kabar setempat melaporkan dugaan kegagalan keselamatan terkait gas beracun di fasilitas industri Tata, yang menjadi sorotan otoritas setempat. Kasus ini menambah panjang daftar kekhawatiran publik terhadap standar keselamatan industri dan pengelolaan gas berbahaya.
Pengamat menilai lonjakan protes di Albania dan Prancis menandakan kekecewaan generasi muda terhadap sistem pendidikan dan ketimpangan ekonomi yang kian akut. Di Albania, mahasiswa menuntut perubahan struktural; di Prancis, pelajar menuntut reformasi ruang kelas. Keduanya berbagi akar persoalan yang sama: rasa diabaikan oleh negara.
Dari kepulan gas air mata di Tirana hingga barikade yang membara di jalanan Prancis, pesan kaum muda kian sulit dibendung. Pemerintah di kedua negara menghadapi ujian kredibilitas: merespons tuntutan dengan dialog dan reformasi, atau bersandar pada kekuatan aparat yang justru berisiko memperbesar gelombang perlawanan. Selama ketimpangan dan ketidakpastian ekonomi tak terjawab, gas air mata hanyalah awal dari gejolak yang lebih panjang.
