Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional, Capaian TPT 73 Persen Jadi Sorotan
Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus secara tegas mendorong Kabupaten Demak, Jawa Tengah, untuk menjadi model penanganan tuberkulosis (TBC) bagi daerah lain di Indonesia. Langkah ini disampaikan Wiyagus dalam sebuah forum koordinasi pada Rabu, 14 Oktober 2026, dengan menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas sektor serta peningkatan kualitas layanan kesehatan. Dorongan agar Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional ini muncul setelah Kabupaten Demak mencatat capaian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) yang signifikan, yakni sekitar 73 persen.
Capaian tersebut dipaparkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dalam forum yang sama. Angka 73 persen itu dinilai sebagai bukti nyata bahwa upaya penanganan TBC di Demak berjalan efektif dan terukur. Wiyagus menyoroti bahwa keberhasilan Demak tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran yang dikucurkan, melainkan juga oleh faktor kepemimpinan kepala daerah dan koordinasi yang solid dari berbagai pihak. “Ini menarik, ternyata anggaran tidak selalu linier dengan capaian. Ini tidak lepas dari kinerja dan kolaborasi antarpemangku kepentingan,” ujar Akhmad Wiyagus.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pendekatan kolaboratif merupakan kunci utama dalam menekan angka penularan TBC. Menurut Wiyagus, model yang dikembangkan di Demak layak untuk direplikasi oleh kabupaten dan kota lain di seluruh Indonesia. Ia berharap agar Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional dapat menjadi pemicu semangat bagi daerah-daerah yang masih menghadapi tantangan serius dalam pengendalian penyakit menular ini.
Peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam Penanganan TBC
Salah satu aspek yang membuat program penanganan TBC di Demak menonjol adalah keterlibatan aktif Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Kedua aparat kewilayahan ini diterjunkan langsung untuk menjangkau warga melalui pendekatan dari rumah ke rumah. Mereka tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong warga yang memiliki gejala TBC untuk segera melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan secara tuntas.
Pendekatan door to door ini dinilai sangat efektif karena mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit diakses oleh layanan kesehatan formal. Dengan kehadiran Babinsa dan Bhabinkamtibmas, stigma terhadap penderita TBC perlahan dapat dikurangi. Masyarakat menjadi lebih terbuka untuk memeriksakan diri dan mengikuti terapi pencegahan yang dianjurkan.
Selain itu, sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan tenaga kesehatan menciptakan ekosistem penanganan TBC yang komprehensif. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pendataan, penyuluhan, hingga pendampingan pasien selama masa pengobatan. Model inilah yang membuat Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional semakin relevan untuk diadopsi di berbagai wilayah.
Pertukaran Pengalaman Antar Daerah
Wiyagus menyatakan bahwa model penanganan TBC dari Demak akan didorong untuk diterapkan oleh kabupaten lain melalui mekanisme pertukaran pengalaman dan koordinasi antarpemerintah daerah. Ia menilai bahwa pembelajaran antar daerah merupakan cara yang paling efektif untuk mempercepat replikasi praktik baik. Dengan begitu, daerah yang belum berhasil dapat belajar langsung dari pengalaman Demak.
Ia juga mengingatkan bahwa penanganan TBC membutuhkan komitmen jangka panjang, bukan sekadar program sesaat. Kepala daerah didorong untuk menjadikan penanggulangan TBC sebagai prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah. Dukungan anggaran tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kepemimpinan yang kuat dan koordinasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Dalam berbagai kesempatan, Wiyagus menegaskan bahwa Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional bukanlah sekadar wacana. Pemerintah pusat akan memfasilitasi pertemuan antar daerah, menyediakan panduan, serta memantau implementasi model tersebut di lapangan. Harapannya, semakin banyak daerah yang mampu mencapai target eliminasi TBC sesuai dengan agenda nasional.
Data dan Tantangan Penanganan TBC
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut beberapa indikator capaian penanganan TBC di Demak yang menjadi sorotan:
| Indikator | Capaian |
|---|---|
| Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) | Sekitar 73 persen |
| Pendekatan penjangkauan | Rumah ke rumah oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas |
| Faktor pendorong | Kepemimpinan kepala daerah dan kolaborasi lintas sektor |
| Rencana tindak lanjut | Replikasi model ke kabupaten lain |
Meski capaian Demak tergolong menggembirakan, tantangan masih membentang. Beberapa daerah menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan, akses geografis yang sulit, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dini. Oleh karena itu, keberadaan model Demak diharapkan dapat menjadi solusi yang aplikatif dan mudah diadaptasi.
Wiyagus juga menekankan bahwa keberhasilan penanganan TBC harus diukur dari penurunan angka kesakitan dan kematian, bukan hanya dari capaian administratif. Dengan demikian, setiap daerah perlu memiliki data yang akurat dan sistem pelaporan yang transparan. Kolaborasi antara Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan target tersebut.
Kesimpulan
Dorongan Wamendagri Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC Nasional mencerminkan pendekatan baru dalam penanggulangan penyakit menular di Indonesia. Keberhasilan Demak mencapai capaian TPT sekitar 73 persen membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor, kepemimpinan kepala daerah, serta keterlibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas mampu memberikan hasil nyata. Model ini diharapkan dapat direplikasi oleh daerah lain melalui pertukaran pengalaman dan koordinasi antarpemerintah daerah. Dengan komitmen bersama, target eliminasi TBC nasional bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
