Mika Godts vs Jeremy Doku: Duel Panas di Liga Champions yang Memicu Perdebatan Sengit di Timnas Belgia
Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Pertemuan antara Manchester City dan Paris Saint-Germain di Liga Champions pada Rabu malam (14/10/2026) menyajikan duel menarik antara dua winger Belgia, Jeremy Doku dan Mika Godts. Laga ini tidak hanya menjadi ajang adu taktik di level klub, tetapi juga memicu perdebatan sengit di Belgia tentang siapa yang layak menjadi pilihan utama di posisi sayap kiri Timnas Belgia. Mika Godts, yang baru bergabung dengan PSG, harus rela melihat Doku tampil sebagai starter, sementara ia memulai laga dari bangku cadangan.
Penampilan Doku saat Manchester City mengalahkan Liverpool akhir pekan lalu mendapat pujian tinggi. Analis Filip Joos menyebutnya “fantastis” dan menyoroti bahwa di Belgia sudah muncul persepsi di kalangan penggemar bahwa Godts tiga kali lebih baik dari Doku. “Tapi tunggu dulu, kawan-kawan,” ujarnya mengingatkan. Sementara itu, mantan pemain internasional Belgia dengan 50 caps, Gert Verheyen, memiliki preferensi jelas terhadap Doku. “Posisi sayap kiri di timnas itu untuk Doku, bukan? Dan jika ada orang lain yang ingin bermain, dia harus bergeser ke kanan. Sejauh itu sudah jelas,” tegas Verheyen.
Meski demikian, Verheyen juga mengakui bahwa ia menikmati penampilan Mika Godts di Liga Nations. “Kami bisa mengatakan bahwa perkenalan dengan Godts sangat menyenangkan. Dia melakukannya dengan baik,” ujar mantan top skor Club Brugge tersebut. Yang paling disukai Verheyen dari Godts adalah kegigihannya untuk terus mencoba melewati lawan di sisi sayap. “Banyak yang gagal melawan Turki, tapi dia terus mencoba. Itu luar biasa,” tambahnya. Namun, ia langsung menambahkan bahwa sifat itulah yang membuat Godts dikritik di Prancis. “Dia kehilangan banyak bola dan mereka tidak terbiasa dengan itu di Paris. Mereka sulit menerimanya.”
Duel antara Doku dan Godts di Liga Champions menjadi sorotan karena keduanya memiliki gaya bermain yang menarik untuk dibandingkan. Menurut pengamat sepak bola Belgia, Alex Teklak, kedua pemain memiliki kesamaan: keduanya kidal, pen-dribble ulung, suka masuk ke tengah, dan masih memiliki potensi besar. “Ada banyak kesamaan di antara mereka. Tapi mereka juga cukup berbeda dalam gaya,” ujarnya. Doku dikenal dengan kekuatan dan ledakan akselerasinya, sementara Godts lebih mengandalkan kelincahan dan kehalusan teknik. “Godts tampak memiliki lebih banyak kepercayaan diri dan kebersihan teknis dibanding Doku di usia yang sama,” kata Teklak.
Thomas Chatelle, yang juga akan menjadi panelis, bahkan memproyeksikan bahwa dalam tiga tahun ke depan, Mika Godts bisa menyamai atau bahkan melampaui level Doku. “Ada aspek permainannya yang tidak dimiliki Doku. Kehalusan, gaya yang lebih cair, dan secara fisik tidak terlalu membebani tubuhnya,” jelasnya. Meski demikian, baik Teklak maupun Chatelle sepakat bahwa saat ini Doku masih memiliki keunggulan besar atas Godts. Doku telah membuktikan kemampuannya mengubah jalannya pertandingan di level tertinggi, seperti yang ia tunjukkan saat melawan Liverpool.
Godts sendiri baru mencatatkan penampilan perdananya sebagai starter untuk PSG melawan Le Mans akhir pekan lalu, dan ia sempat mendapat kritik karena dianggap kehilangan terlalu banyak bola. Namun, pelatih PSG, Luis Enrique, membela pemain mudanya itu. “Kami merekrut pemain untuk jangka panjang dan untuk berbagi jalan panjang bersama mereka. Mika akan sangat penting bagi kami dan dia sudah penting,” tegas Enrique. Mantan pemain Ajax itu mencetak 17 gol dan 15 assist di Eredivisie musim lalu, tetapi Teklak mengingatkan bahwa statistik di liga Belanda harus dinilai dengan hati-hati karena kualitas beknya lebih rendah dibanding Ligue 1.
Perdebatan tentang siapa yang lebih baik antara Doku dan Godts memang masih panjang. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Doku dengan pengalaman dan konsistensinya di level atas, sementara Godts dengan potensi besar dan teknik yang halus. Yang jelas, duel mereka di Liga Champions menjadi awal dari rivalitas yang diperkirakan akan mewarnai sepak bola Belgia selama bertahun-tahun ke depan. Pelatih Timnas Belgia, Mark van Bommel, kini memiliki kemewahan sekaligus pusing tersendiri dalam memilih pemain terbaik untuk lini serang. Apapun keputusannya, persaingan sehat antara Doku dan Mika Godts akan terus menjadi topik hangat di kalangan penggemar dan media Belgia.
Dengan usia yang masih muda, baik Doku (24 tahun) maupun Godts (21 tahun) masih memiliki ruang untuk berkembang. Jika Godts mampu beradaptasi dengan cepat di Ligue 1 dan menunjukkan konsistensi, bukan tidak mungkin ia akan menggeser posisi Doku di timnas. Namun untuk saat ini, Doku masih menjadi pilihan utama. Laga PSG vs Manchester City menjadi bukti bahwa keduanya siap bersaing di level tertinggi, dan sepak bola Belgia patut berbangga memiliki dua talenta sayap kiri sekaliber mereka.
