Benih Siam Madu Murakata Asal Kalsel Dibawa ke Papua, 50 Kilogram Disiapkan untuk Lahan 2 Hektare
Kalimantan Update – 04 Oktober 2026 | Langkah strategis kembali diambil Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam memperluas pemanfaatan varietas unggul lokal. Kali ini, Benih Siam Madu Murakata Asal Kalsel Dibawa ke Papua sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pertanian sekaligus menjawab kebutuhan pangan masyarakat asal Kalsel yang bermukim di Bumi Cenderawasih.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Dinas Pertanian Provinsi Papua ke Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Provinsi Kalsel, Jumat (2/10/2026). Rombongan dipimpin Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua, Lunanka VML, bersama Kepala Dinas PUPR Provinsi Papua, Natirmalus D Renyaan.
Kedatangan rombongan disambut Kepala BBTPH Provinsi Kalsel, Sigid Sarsanto, didampingi Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Tanaman Pangan, Iwan Ary Buwono, serta Staf Penata Layanan Operasional BBTPH Kalsel, Huda.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Papua mempelajari tata cara budidaya padi Siam Madu Murakata agar dapat dikembangkan di daerah Papua. Pengembangan tersebut juga mempertimbangkan keberadaan masyarakat asal Kalsel yang menetap dan beraktivitas di Papua.
Perbanyakan Benih Sumber Varietas Unggul Lokal
Kepala BBTPH Provinsi Kalsel, Sigid Sarsanto, menjelaskan bahwa pihaknya melalui Seksi Pengembangan Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Tanaman Pangan terus melakukan perbanyakan benih sumber varietas unggul lokal Siam Madu Murakata. Varietas tersebut telah memiliki Tanda Daftar Varietas Tanaman dengan Nomor SK 2009/PVL/2023.
“Pengembangan benih tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan cita rasa lokal Banjar, tetapi juga memastikan benih memiliki standar mutu yang dapat mendukung produktivitas petani,” kata Sigid dikutip dari Media Center Kalsel.
Pengembangan benih sumber varietas unggul lokal ini bertujuan mendukung kelanjutan tradisi cita rasa lokal Banjar sekaligus menjadikannya benih bersertifikat, sehingga kualitas dan mutu benih tetap terjaga.
Pengembangan lintas daerah ini sekaligus menunjukkan bahwa varietas lokal tidak berhenti sebagai kekayaan pertanian suatu wilayah, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan produksi dan ketahanan pangan di daerah lain.
Dorongan Ketahanan Pangan Papua
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua, Lunanka VML, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan produksi pertanian untuk menjaga ketahanan pangan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkenalkan varietas unggul lokal dari Kalimantan Selatan untuk dikembangkan di Papua.
Selain kepentingan produksi, pengembangan Siam Madu Murakata juga memiliki dimensi sosial dan budaya. “Kehadiran varietas tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kerinduan masyarakat asal Kalimantan Selatan yang merantau dan menetap di Papua terhadap komoditas pangan yang memiliki cita rasa khas daerah asal,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, distribusi benih antarpulau tetap mengikuti ketentuan karantina. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan serta Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023 sebagai aturan pelaksanaannya, benih yang dibawa keluar pulau wajib melalui prosedur pemeriksaan laboratorium sesuai persyaratan yang ditetapkan.
Prosedur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga mutu genetik dan memastikan benih yang didistribusikan memenuhi ketentuan karantina sebelum dikembangkan di wilayah tujuan.
Rincian Pengiriman dan Rencana Penanaman
Dalam kunjungan tersebut, Benih Siam Madu Murakata Asal Kalsel Dibawa ke Papua sebanyak 50 kilogram. Benih tersebut diproyeksikan untuk ditanam pada lahan seluas sekitar 2 hektare di Papua sebagai tahap awal pengembangan.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Varietas | Siam Madu Murakata |
| Nomor SK Varietas | 2009/PVL/2023 |
| Jumlah Benih | 50 kilogram |
| Target Lahan Awal | Sekitar 2 hektare |
| Daerah Asal | Kalimantan Selatan |
| Daerah Tujuan | Papua |
Pengembangan Siam Madu Murakata di Papua menjadi bentuk kolaborasi antarpemerintah daerah dalam memperluas pemanfaatan sumber daya genetik tanaman pangan. Langkah ini sekaligus membuka ruang bagi varietas unggul lokal Kalsel untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat di luar daerah.
Sejumlah aspek teknis menjadi perhatian dalam pengembangan ini, antara lain:
- Perbanyakan benih sumber oleh BBTPH Kalsel untuk menjaga kemurnian varietas.
- Sertifikasi benih agar memenuhi standar mutu nasional.
- Pemeriksaan laboratorium sesuai ketentuan karantina tumbuhan.
- Adaptasi agroklimat di wilayah Papua sebelum penanaman skala luas.
- Pendampingan teknis bagi petani setempat dan masyarakat perantau asal Kalsel.
Dengan skema tersebut, Benih Siam Madu Murakata Asal Kalsel Dibawa ke Papua diharapkan tidak sekadar menjadi simbol kerja sama antardaerah, tetapi juga mendorong peningkatan produksi padi di Papua secara berkelanjutan. Keberhasilan tahap awal di lahan 2 hektare akan menjadi tolok ukur untuk perluasan areal tanam pada musim berikutnya.
Bagi masyarakat asal Kalimantan Selatan yang telah lama menetap di Papua, kehadiran varietas ini menghadirkan harapan tersendiri. Cita rasa khas Banjar yang melekat pada Siam Madu Murakata menjadi jembatan budaya yang menghubungkan kampung halaman dengan tanah rantau, sekaligus memperkaya keragaman pangan lokal di Papua.
Ke depan, koordinasi antara Dinas Pertanian Provinsi Papua, BBTPH Kalsel, serta instansi karantina akan terus diperkuat. Sinergi ini penting agar setiap tahapan, mulai dari perbanyakan benih, sertifikasi, pengiriman, hingga penanaman di lapangan, berjalan sesuai koridor regulasi dan standar mutu yang berlaku.
Pada akhirnya, langkah membawa Benih Siam Madu Murakata Asal Kalsel Dibawa ke Papua mencerminkan arah baru pembangunan pertanian yang berbasis potensi lokal dan kolaborasi lintas wilayah. Varietas unggul lokal tidak lagi terbatas menjadi kebanggaan daerah asal, melainkan bertransformasi menjadi solusi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, mempererat hubungan antardaerah, dan merawat identitas budaya masyarakat perantau.
Penulis: Syaifullah | Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Kanal Kalimantan
