Bank di Tengah Badai Global: Dari Rekening Warga Rusia yang Terkunci hingga Rumor Akuisisi BCA
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Dunia perbankan kembali menjadi sorotan ketika berbagai peristiwa besar terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, mulai dari lumpuhnya akses bank di Rusia akibat serangan siber dan serangan fisik, ekspansi kredit agresif sebuah bank besar di India, hingga gejolak saham perbankan di pasar modal Indonesia. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya sekaligus vitalnya sektor perbankan dalam kehidupan modern, baik sebagai penopang ekonomi maupun sebagai target dalam konflik geopolitik.
Di Rusia, serangan Ukraina terhadap pusat data yang dioperasikan perusahaan teknologi Yandex dilaporkan melumpuhkan sejumlah layanan digital penting. Warga kesulitan mengakses rekening bank, memesan taksi, hingga membuka kunci pintu rumah pintar mereka. Seorang blogger asal St Petersburg bernama Irina mengaku kehilangan akses terhadap uangnya tepat saat uang sewa rumahnya jatuh tempo. “Saya berada dalam situasi di mana saya sama sekali tidak punya uang. Uangnya ada, tetapi tidak bisa diakses,” ujarnya. Serangan yang dimulai pada 8 Oktober tersebut dilaporkan merusak tiga dari lima pusat data utama Yandex, memicu keluhan luas di media sosial karena layanan pembayaran digital Yandex Pay ikut terganggu.
Ketika Infrastruktur Digital Menjadi Medan Perang
Peristiwa ini menandai babak baru dalam konflik yang memperluas sasaran ke infrastruktur digital. Sebelumnya, Rusia juga dilaporkan menargetkan pusat data di Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Rusia terus menyerang fasilitas energi dengan rudal balistik dan drone, sementara Kyiv sendiri menghadapi tekanan dari Washington agar menghindari penargetan fasilitas energi Rusia demi menjaga pasokan diesel global. Dampaknya terasa nyata: layanan perbankan digital yang bergantung pada pusat data menjadi titik lemah yang bisa melumpuhkan aktivitas ekonomi warga biasa.
ICICI Bank: Pertumbuhan Kredit dan Disiplin Risiko
Di sisi lain dunia, ICICI Bank menunjukkan bagaimana sebuah bank besar mengelola pertumbuhan sekaligus risiko. Bank asal India ini mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih dari 21.529 crore rupee menjadi 25.339 crore rupee atau tumbuh 17,6 persen secara tahunan, sementara laba bersih naik 21 persen menjadi 17.389 crore rupee. Basis simpanan bank tersebut mencapai 20,5 lakh crore rupee pada akhir September 2026, tumbuh 27,1 persen, sedangkan total kredit dan pinjaman mencapai 18,32 lakh crore rupee atau naik 30 persen.
Menariknya, pertumbuhan ini tetap dibarengi perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah bruto turun dari 1,58 persen menjadi 1,20 persen, dan NPA bersih menyusut dari 0,39 persen menjadi 0,30 persen. Strategi bank ini bertumpu pada basis nasabah yang sudah ada, dengan 90 persen nasabah kredit perumahan dan 70 persen portofolio pinjaman pribadi serta kartu kredit berasal dari nasabah eksisting. Segmen ritel dan pedesaan menyumbang 51,6 persen dari total portofolio kredit, menegaskan peran bank dalam melayani individu dan masyarakat rural.
Tekanan di Pasar Modal Indonesia
Di Tanah Air, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Saham bank tersebut berada di level Rp4.820 per saham, turun Rp355 atau 6,86 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan ini terjadi saat IHSG melemah 4,31 persen ke posisi 4.961,88 dan indeks LQ45 turun 5,52 persen.
Di tengah gejolak tersebut, rumor rencana akuisisi BCA oleh konglomerat asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, kembali mencuat. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa regulator akan menilai setiap transaksi yang berpotensi mengubah pemegang saham pengendali suatu bank sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. OJK menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Perubahan kepemilikan pada bank berskala besar, menurutnya, tidak cukup dinilai hanya dari transaksi jual-beli saham, tetapi juga harus memperhatikan berbagai risiko yang mungkin muncul akibat perubahan pengendalian tersebut.
Dinamika Global yang Saling Terkait
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa isu perbankan tidak pernah berdiri sendiri. Ketegangan geopolitik, serangan terhadap infrastruktur digital, strategi ekspansi kredit, dan dinamika pasar modal saling memengaruhi kepercayaan publik terhadap sektor keuangan. Ketika akses ke bank terganggu oleh konflik, atau ketika rumor akuisisi mengguncang harga saham, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat dan investor.
Pada akhirnya, ketahanan sektor perbankan bergantung pada tiga hal: infrastruktur teknologi yang tangguh, tata kelola risiko yang disiplin, dan pengawasan regulator yang ketat. Baik di Rusia, India, maupun Indonesia, bank tetap menjadi urat nadi ekonomi yang harus dilindungi dari gangguan fisik maupun digital. Tanpa stabilitas di sektor ini, kepercayaan publik terhadap sistem keuangan akan mudah goyah, dan dampaknya bisa meluas jauh melampaui ruang lingkup perbankan itu sendiri.
Penulis: Oktavianus A
Editor: Rudi Hamdani
Sumber Berita: NBC News, CBC, Stockbit Sekuritas, VIVA, dan laporan pasar modal terkait.
