Tragedi Balita Tewas di Hotel Mesra Samarinda: DPRD Desak Standar Keamanan Ramah Anak

Foto: Istimewa

Tragedi Balita Tewas di Hotel Mesra Samarinda: DPRD Desak Standar Keamanan Ramah Anak

Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Insiden memilukan yang menimpa seorang balita perempuan berusia tiga tahun berinisial RK setelah terjatuh dari balkon lantai lima hotel mesra samarinda di Jalan Pahlawan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Rabu (14/10/2026), langsung menyita perhatian publik dan DPRD Kota Samarinda. Peristiwa yang terjadi di hotel mesra samarinda tersebut tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga membuka ruang evaluasi serius terhadap standar keselamatan fasilitas penginapan, khususnya bagi tamu yang membawa anak-anak. Sorotan terhadap hotel mesra samarinda pun semakin menguat seiring desakan berbagai pihak agar pengelola hotel memperketat prosedur keamanan.

Berdasarkan keterangan sementara kepolisian, saat kejadian korban berada di dalam kamar bersama adiknya, sementara kedua orang tuanya sedang menikmati sarapan di restoran hotel. Belum diketahui secara pasti bagaimana korban bisa terjatuh dari lantai lima bangunan. Korban kemudian ditemukan di area bawah bangunan dan langsung dievakuasi oleh ayahnya untuk dibawa ke rumah sakit. Suasana haru menyelimuti lokasi kejadian ketika sang ayah menangis di hadapan jasad anaknya yang telah dibungkus kain putih.

Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Asriadi, menyatakan bahwa petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap rangkaian peristiwa tersebut. Penyelidikan masih berjalan untuk memastikan penyebab pasti insiden di hotel mesra samarinda itu.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyampaikan duka mendalam atas musibah tersebut. Ia menilai insiden ini harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pengelola hotel agar aspek keselamatan anak mendapat perhatian serius, bukan sekadar mengutamakan kenyamanan tamu.

“Kami sangat berduka atas musibah ini. Keselamatan anak harus menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Sri Puji, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, hotel merupakan fasilitas penginapan yang digunakan berbagai kalangan, termasuk keluarga yang membawa bayi dan balita. Karena itu, pengelola perlu memastikan setiap fasilitas memiliki sistem pengamanan yang memadai untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Sri Puji secara khusus menyoroti area balkon, jendela, dan kolam renang sebagai titik-titik yang perlu mendapat perhatian ekstra.

Ia mendorong pengelola hotel mesra samarinda dan seluruh hotel lain di Samarinda mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP), termasuk sistem pengunci pintu balkon, ketinggian dan kerapatan pagar pembatas, serta akses menuju area berbahaya bagi anak. Beberapa aspek yang dinilai perlu diperketat antara lain:

  • Sistem pengunci otomatis pada pintu balkon yang sulit dijangkau anak.
  • Ketinggian dan kerapatan pagar pembatas balkon sesuai standar keselamatan.
  • Pembatasan akses anak menuju area berisiko seperti kolam renang dan tangga terbuka.
  • Pemberian informasi keselamatan kepada tamu saat proses check-in.
  • Imbauan tertulis di dalam kamar mengenai potensi bahaya di lingkungan penginapan.

“Keselamatan anak harus menjadi bagian wajib dari SOP hotel, bukan sekadar fasilitas tambahan. Sistem pengaman balkon perlu dipastikan benar-benar aman bagi anak-anak,” tegas Sri Puji.

Selain pembenahan fasilitas, ia meminta manajemen hotel memberikan informasi keselamatan kepada tamu, terutama keluarga yang membawa anak kecil. Imbauan tertulis di dalam kamar maupun penjelasan singkat saat check-in dinilai dapat membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya. Meski demikian, Sri Puji menegaskan bahwa pengawasan orang tua tetap memiliki peran penting. Anak berusia tiga tahun masih membutuhkan pendampingan orang dewasa, terlebih ketika berada di kamar yang memiliki akses menuju balkon.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keselamatan anak di ruang publik, termasuk hotel, menuntut kolaborasi antara pengelola, tamu, dan pemerintah daerah. Pengelola hotel mesra samarinda diharapkan segera melakukan pembenahan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga, sementara orang tua diminta lebih waspada saat menginap bersama anak di bawah umur.

Sebagai kesimpulan, tragedi yang menimpa balita di hotel mesra samarinda menjadi momentum penting bagi seluruh industri perhotelan di Samarinda untuk menempatkan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Evaluasi SOP, penguatan fasilitas pengaman, serta edukasi kepada tamu harus dilakukan secara berkelanjutan. DPRD Kota Samarinda menegaskan komitmennya untuk mengawal penerapan standar keamanan ramah anak, agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber: Kutaipanrita.id, iNews.id

Tags: