Bournemouth Bangkit: Di Gregorio Terpinggir, Evanilson Bersinar, Milan Menanti
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Klub Bournemouth tengah menjadi pusat perhatian dalam sepekan terakhir. Di tengah gegap gempita kemenangan penting, terselip kisah kiper pinjaman Michele Di Gregorio yang nasibnya di Bournemouth kian tak jelas. Sang pemain didatangkan dari Juventus pada musim panas lalu dengan status pinjaman berbayar plus opsi pembelian, namun hingga kini ia baru tampil sekali, yakni di ajang Carabao Cup melawan Lincoln City. Pelatih Marco Rose konsisten memilih kiper asal Serbia, Djordje Petrovic, sebagai pilihan utama di bawah mistar.
Situasi ini mengingatkan pada pengalaman Christos Mandas. Kiper asal Yunani itu juga dipinjamkan ke Bournemouth pada musim 2025-26, tetapi tidak mendapat kesempatan bermain hingga Desember sebelum akhirnya kembali ke Lazio pada Januari. Menurut laporan Corriere dello Sport, kemungkinan Di Gregorio pulang lebih awal ke Italia mulai menguat, dengan Bologna berada di barisan terdepan. Bologna yang tengah mencari tambahan pemain untuk Januari bisa mengincar kiper kelahiran 1997 tersebut untuk memperkuat lini belakang dan memberi opsi baru kepada Raffaele Palladino, yang baru beberapa pekan lalu menggantikan Domenico Tedesco. Faktor teknis turut menjadi pertimbangan karena Di Gregorio sudah mengenal Palladino, yang pernah melatihnya di Monza pada musim 2022/23 dan 2023/24.
Di sisi lain, performa Bournemouth di lapangan justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Kemenangan 2-0 atas Sunderland di Vitality Stadium pada 18 Oktober 2026 menjadi kemenangan perdana The Cherries di Premier League musim ini. Penyerang asal Brasil, Evanilson, menjadi bintang dengan catatan satu gol dan satu assist. Ia juga menjadi aktor di balik kartu merah bek Sunderland, Kevin Danso, setelah pelanggaran sebagai pemain terakhir. Evanilson mencatatkan rating 9,4 dari Flashscore dan terpilih sebagai Premier League Player of the Week. Sepanjang laga, ia menorehkan 11 sentuhan di kotak penalti Sunderland, menciptakan satu peluang besar, dan memenangkan sembilan duel.
Kemenangan atas Sunderland melengkapi pekan sempurna bagi Bournemouth setelah sebelumnya mengalahkan Sturm Graz 3-0 di laga kandang pertama mereka di kompetisi Eropa sepanjang 127 tahun sejarah klub. Laga melawan wakil Austria itu disaksikan oleh jumlah penonton kandang tertinggi sejak 1989. Dua kemenangan beruntun dengan dua clean sheet ini pun mengembalikan faktor positif yang sempat hilang. Marco Rose dan staf pelatih berharap pekan ini menjadi titik balik keberuntungan tim.
Selanjutnya, Bournemouth akan menjamu raksasa Italia AC Milan di ajang Europa League pada Kamis mendatang. Laga ini disebut-sebut sebagai derby rossonero karena adanya keterkaitan warna merah-hitam antara kedua klub. Meski akan kehilangan dua pemain muda berbakat, Alex Scott dan Junior Kroupi, Bournemouth tetap dianggap lawan berbahaya karena memiliki gaya permainan mapan dan konsisten mencetak talenta baru setiap tahun, seperti Semenyo yang kini di Manchester City, Zabarnyi di PSG, dan Huijsen di Real Madrid. Milan datang dengan modal kepercayaan diri setelah menunjukkan perkembangan pesat, namun The Cherries bisa menikmati laga tanpa tekanan berlebih sebelum bertandang ke markas Manchester United pada akhir pekan.
Kisah Di Gregorio dan kebangkitan Bournemouth menjadi dua sisi mata uang yang menarik disimak. Bagi Di Gregorio, Januari bisa menjadi kesempatan untuk membangun kembali kariernya di Serie A bersama Bologna, mengikuti jejak Mandas yang membuktikan bahwa minimnya kesempatan bermain di Inggris bisa cepat membuka jalan pulang. Sementara bagi Bournemouth, rentetan hasil positif ini menjadi modal berharga menghadapi jadwal berat melawan Milan dan Manchester United. Jika mampu mempertahankan momentum, bukan tidak mungkin The Cherries melangkah lebih jauh di kompetisi Eropa dan memperbaiki posisi di klasemen Premier League.
