Pesan Terakhir Yadi Timo Dua Hari Sebelum Berpulang: 'Saatnya Kamu Hidup Mandiri'
Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Aktor senior Yadi Timo meninggal dunia pada 16 Oktober 2026 di usia 66 tahun, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para penggemarnya. Kepergian Yadi Timo bukan hanya kehilangan bagi dunia seni peran, tetapi juga kehilangan sosok ayah yang begitu dicintai oleh keluarganya. Di tengah kesedihan itu, sebuah percakapan yang terjadi hanya dua hari sebelum almarhum berpulang justru menjadi kenangan paling menyakitkan sekaligus paling berharga bagi sang putri.
Melalui akun Instagram @d3vpp_, putri Yadi Timo dan Eva Rahmawati membagikan sejumlah foto kenangan bersama sang ayah. Potret-potret tersebut merekam perjalanan kebersamaan mereka, mulai dari masa kecil hingga momen-momen hangat saat menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Bersama unggahan itu, sang putri menuliskan ungkapan kehilangan sekaligus penghormatan terakhir untuk sosok yang disebutnya sebagai pahlawan dalam hidupnya.
“Superhero in my lifeee, we all lovee uu bapaaak, banyak yg sayaang bapak, yg doain bapak, bapak banyak banget jadi manfaat bagi semua orang, semua ngerasa kehilangan, apalagi mamah, dan aku,” tulisnya penuh haru.
Namun, di antara banyaknya kenangan indah, ada satu percakapan yang kini terasa begitu berarti. Saat Yadi Timo hendak bekerja dan sang putri harus tinggal sendirian di rumah, almarhum sempat mengingatkan anaknya agar mulai membiasakan diri untuk mandiri. Nasihat itu mungkin terdengar seperti pesan orang tua pada umumnya. Akan tetapi, tak ada yang menyangka bahwa dua hari setelah percakapan tersebut, Yadi Timo justru berpulang untuk selamanya.
“Kemarin pas bapak kerja dan ninggalin aku sendirian, bapak bilang, emang udh seharusnya aku mandiri dan bisa sendiri ngelakuin semua hal, terus ternyata, 2 hari kemudian, bapak udah ninggalin aku,” lanjutnya.
Kini, pesan terakhir Yadi Timo itu menjadi pegangan bagi sang putri untuk menghadapi kenyataan pahit. Di tengah rasa kehilangan yang masih begitu kuat, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani kehidupan secara mandiri, sebagaimana yang diharapkan sang ayah. Ia juga menyampaikan doa agar almarhum tidak lagi merasakan sakit dan dapat beristirahat dengan tenang, serta berharap ayahnya tetap menjaganya dari tempat terbaik di sisi Tuhan.
Penyebab Kepergian dan Momen Terakhir
Sahabat dekat Yadi Timo, Denpus, mengungkapkan bahwa almarhum meninggal dunia akibat serangan jantung. Menurutnya, Yadi sempat berkumpul dengan beberapa koleganya di salah satu kantor rumah produksi sebelum kejadian nahas itu terjadi. Setibanya di rumah sekitar pukul 22.30 WIB, almarhum langsung terkena serangan jantung dan sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, tim medis menyatakan bahwa Yadi Timo sudah meninggal dunia di perjalanan.
Denpus juga mengungkapkan bahwa selama hidupnya, Yadi Timo memiliki riwayat gula darah tinggi. Kondisi tersebut membuatnya harus menjaga pola makan dan menerapkan gaya hidup sehat. Meski terbilang rutin memeriksakan kadar gula darahnya, almarhum disebut sulit dinasihati karena sangat mencintai makanan. “Sebagai sahabat, kami sering mengingatkan, ‘Ayo, makanya dijaga’ karena gula darah yang cukup tinggi,” ujarnya.
Impian yang Tak Sempat Terwujud
Selain dikenal sebagai aktor yang humoris dan menyenangkan, Yadi Timo ternyata menyimpan mimpi besar di balik layar. Denpus mengungkapkan bahwa almarhum tengah mempersiapkan diri untuk terlibat dalam sebuah produksi yang dijadwalkan mulai syuting pada awal bulan berikutnya. Uniknya, Yadi Timo tidak berencana tampil sebagai aktor, melainkan ingin mencoba peran di balik layar sebagai bagian dari tim produksi.
“Dia lagi pengin sebagai aktor mungkin lelah juga kali ya, beliau juga pengin suatu saat dia pengin ada punya PH, production house. Bercita-cita seperti itu,” kata Denpus saat ditemui usai menghadiri pemakaman Yadi Timo di TPU Dreded, Kelurahan Empang, Bogor Selatan.
Persahabatan Denpus dan Yadi Timo terjalin sejak mereka sama-sama menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Yadi merupakan mahasiswa angkatan 1988, sedangkan Denpus angkatan 1986. Keduanya sama-sama memiliki latar belakang teater, dan Yadi kemudian memulai kariernya di panggung teater hingga akhirnya menembus industri perfilman layar lebar melalui film Petualangan Sherina pada 1998.
Denpus mengenang momen tiga hari sebelum kepergian Yadi Timo, ketika almarhum sempat mengajak dirinya berkumpul dan menikmati kopi bersama di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Ajakan itu belum bisa dipenuhi karena Denpus memiliki jadwal syuting yang padat. “Aktor yang baik, sahabat yang menyenangkan. Ada beberapa sakit atau penyakit, tapi beliau enggak menunjukkan itu ketika kita lagi sama-sama main atau lagi sama-sama ngopi bareng,” kenangnya.
Dalam pertemuan terakhir bersama rekan-rekannya di kantor rumah produksi, Yadi Timo disebut masih aktif mengajak teman-temannya datang dan menikmati kebersamaan. Ia bahkan masih sempat bernyanyi dan bercanda seperti biasa. Bagi Denpus, momen tersebut seolah menjadi cara almarhum untuk berpamitan, meski tak sempat bertemu langsung.
Kepergian Yadi Timo meninggalkan duka yang mendalam, namun juga meninggalkan warisan berupa karya, kebaikan, dan pesan tentang kemandirian yang akan selalu dikenang oleh keluarga serta para sahabatnya.
