Kalimantan Update – 22 Oktober 2026 | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan hasil kajian terbaru yang menyoroti dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap siswa di Indonesia. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026), DEN Sebut MBG Berdampak Positif terhadap Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa. Temuan ini menjadi angin segar bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui intervensi gizi di sekolah.
Anggota DEN Mochamad Firman Hidayat menjelaskan bahwa kajian tersebut dilakukan melalui modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang disusun bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lainnya. Modul ini mulai diterapkan sejak September 2025 dengan cakupan seluruh wilayah Indonesia. “Salah satu pertanyaannya adalah melihat bagaimana outcome dari program MBG ini terhadap absensi siswa di sekolah, semangat belajarnya, dan rasa laparnya. Jadi terlepas dari segala kekurangan yang dialami program MBG ini, kami melihat temuannya cukup menarik,” ujar Firman.
Hasil kajian menunjukkan bahwa siswa penerima MBG tercatat lebih jarang absen dibandingkan dengan siswa yang belum menerima program tersebut. Perbedaan ini bahkan terlihat cukup signifikan pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah atau desil pertama. “Bahkan sebenarnya gapnya cukup besar, terutama di Desil-1 yang paling miskin. Jadi ketika dia non-penerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah, dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya,” imbuh Firman.
Selain kehadiran siswa, kajian DEN juga menemukan hubungan antara kualitas menu MBG dan semangat belajar anak. Berdasarkan hasil kajian, sebanyak 95 persen siswa penerima MBG yang menilai kualitas menu sangat baik menyatakan bahwa semangat belajar mereka meningkat. Sebaliknya, ketika kualitas menu dinilai buruk, persentase siswa yang merasakan peningkatan semangat belajar menurun secara signifikan. “Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah,” ungkap Firman.
Temuan tersebut menjadi salah satu masukan DEN kepada Presiden Prabowo untuk mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan program MBG. Di samping kualitas menu, pemerataan distribusi penerima manfaat juga menjadi perhatian. Berdasarkan data Susenas periode September, Firman mengatakan distribusi penerima MBG masih cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan dengan perdesaan. “Artinya perlu ada prioritas yang lebih baik, terutama untuk daerah 3T, daerah pedesaan, dan masyarakat miskin. Karena sekali lagi tadi studi kita menunjukkan bagaimana program ini sebenarnya mampu menurunkan absensi siswa ke sekolah dan meningkatkan semangat belajar dan mengurangi rasa lapar mereka di sekolah,” pungkas Firman.
Kajian DEN ini menegaskan bahwa DEN Sebut MBG Berdampak Positif terhadap Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa. Namun, masih terdapat tantangan dalam hal pemerataan dan kualitas menu yang perlu segera diatasi. Pemerintah diharapkan dapat menindaklanjuti rekomendasi ini dengan memperluas jangkauan program ke daerah 3T dan meningkatkan kualitas menu agar manfaatnya semakin optimal.
Sebagai informasi, program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Dengan adanya temuan ini, diharapkan program MBG dapat terus dievaluasi dan disempurnakan sehingga memberikan dampak yang lebih besar bagi generasi penerus bangsa. DEN Sebut MBG Berdampak Positif terhadap Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa menjadi bukti bahwa intervensi gizi di sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan partisipasi belajar.
Ke depan, DEN akan terus memantau perkembangan program MBG melalui modul Susenas yang telah disusun. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, program MBG tidak hanya sekadar memberikan makanan gratis, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia.
Secara keseluruhan, kajian ini memberikan gambaran bahwa program MBG memiliki potensi besar untuk meningkatkan kehadiran dan semangat belajar siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, perbaikan kualitas menu dan pemerataan distribusi menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara merata. Pemerintah diharapkan segera menindaklanjuti rekomendasi DEN ini demi tercapainya tujuan program MBG secara optimal.

