Rupiah Indonesia Terpuruk di Rp18.045, Gubernur BI Beberkan Jurus Penyelamat di Tengah Badai Global
Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Nilai tukar rupiah indonesia kembali menjadi sorotan setelah ditutup melemah ke level Rp18.045 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Pelemahan 45 poin atau 0,25 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp18.000 itu menandai tekanan baru bagi mata uang Garuda yang sepanjang hari bergerak di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Meski demikian, pelemahan rupiah indonesia terjadi di tengah kondisi indeks dolar AS (DXY) yang justru turun 0,20 persen ke posisi 101,575. Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan greenback, melainkan kombinasi sentimen global yang masih menghantui pasar keuangan domestik.
Tekanan Eksternal yang Tak Kunjung Reda
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah indonesia dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Pada 20 Oktober 2026, kurs tercatat di level Rp17.985 per dolar AS atau melemah 0,61 persen secara point-to-point dibandingkan akhir September 2026.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” jelas Destry.
Ketegangan di Timur Tengah turut memicu lonjakan harga minyak mentah Brent sekitar 2,59 persen menjadi US$111,64 per barel. Kenaikan ini menambah kekhawatiran investor terhadap pasokan energi global dan memperberat posisi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah indonesia.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar kini menanti keputusan suku bunga tiga bank sentral utama dunia pekan depan, yakni Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ). The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember masih menjadi perhatian.
Respons BI dan Keputusan Suku Bunga
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate pada level 5,75 persen, seraya menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5 persen. Keputusan ini sejalan dengan perkiraan inflasi 2026 yang tetap rendah dan terkendali dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai keputusan tersebut turut memengaruhi pergerakan kurs. Pada Rabu, 21 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen ke Rp18.022 per dolar AS. Namun, meredanya tekanan di pasar saham domestik menahan pelemahan agar tidak semakin dalam.
Destry menegaskan komitmen BI menjaga stabilitas rupiah indonesia dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter. Langkah yang disiapkan antara lain memperkuat insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas.
“Insentif tidak hanya untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional kepada BI, tetapi juga diberikan kepada transaksi Local Currency Transaction (LCT) ke negara mitra, sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik,” pungkasnya.
Jejak Sejarah Mata Uang Bangsa
Di balik dinamika kurs hari ini, rupiah indonesia memiliki perjalanan panjang sebagai simbol kedaulatan. Sebelum rupiah hadir, Indonesia lebih dulu menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang resmi berlaku sebagai alat pembayaran sah pada 30 Oktober 1946.
Penerbitan ORI menjadi langkah penting untuk menunjukkan kedaulatan bangsa, sebab masyarakat sebelumnya masih menggunakan berbagai mata uang, termasuk uang pendudukan Jepang dan uang De Javasche Bank. Kini, ORI tak lagi berlaku dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan ekonomi Indonesia.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah indonesia ke level Rp18.045 per dolar AS mencerminkan besarnya tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian nasional. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter AS yang ketat, hingga lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang menekan kurs.
Meski begitu, Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah jurus melalui insentif investasi portofolio asing, pendalaman pasar valas, dan penguatan transaksi local currency. Dengan langkah tersebut, diharapkan imbal hasil aset rupiah tetap menarik dan stabilitas rupiah indonesia dapat terjaga di tengah gejolak pasar keuangan global yang belum menunjukkan tanda mereda.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber: CNBC Indonesia, IDN Times, Warta Ekonomi, Kementerian Keuangan
