Inflasi AS Melonjak ke 3,6 Persen, Peluang Kenaikan Suku Bunga Federal Reserve System Desember Semakin Nyata
Kalimantan Update – 30 Oktober 2026 | Inflasi Amerika Serikat kembali mencuri perhatian pasar global. Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,5 persen pada September 2026, sementara tingkat tahunannya melesat ke 3,6 persen dari 3,4 persen pada Agustus. Angka ini jauh di atas target 2 persen yang dicanangkan federal reserve system, sehingga memperkuat spekulasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Data yang dirilis Biro Analisis Ekonomi (BEA) Departemen Perdagangan AS itu sejalan dengan ekspektasi ekonom, namun tetap menjadi sinyal waspada bagi pasar keuangan.
Kenaikan inflasi terutama didorong oleh lonjakan harga bensin dan barang energi lainnya. Konsumen tercatat mengeluarkan tambahan 45,7 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu akibat harga energi yang tetap tinggi, seiring berlanjutnya ketegangan geopolitik di Iran. Transportasi, perumahan, utilitas, serta jasa makanan dan akomodasi juga menyumbang kenaikan, meski dengan nilai di bawah 20 miliar dolar AS per sektor. Sementara itu, inflasi inti PCE—yang mengecualikan harga pangan dan energi yang mudah berubah—naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan, naik dari 3,0 persen pada Agustus. Angka revisi Agustus juga dinaikkan dari 0,2 persen menjadi 0,3 persen.
Keputusan Federal Reserve pada Rabu (28/10/2026) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen. Keputusan itu diambil melalui voting 10-2, dengan dua anggota dissenting. Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak dipengaruhi oleh pemilihan midterm AS yang akan datang. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi masih “kuat”, investasi modal kokoh, dan penciptaan lapangan kerja berjalan seiring pertumbuhan angkatan kerja. Namun, ia mengakui inflasi masih sekitar satu poin persentase di atas target dan hanya menunjukkan kemajuan terbatas dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam konferensi pers, Warsh menyatakan bahwa kondisi keuangan dan kredit mulai mengetat bagi sebagian bisnis dan rumah tangga, seperti yang diharapkan setelah kenaikan suku bunga pada September. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi agar kenaikan harga di sektor tertentu tidak menyebar ke seluruh perekonomian. “Kami mulai melihat perubahan kondisi keuangan dan kredit; mereka telah mengetat bagi beberapa bisnis dan rumah tangga, seperti yang kami perkirakan,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa federal reserve system tetap waspada terhadap risiko inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam pernyataannya menyebut bahwa aktivitas ekonomi berkembang pesat, belanja domestik tetap resilien, dan produktivitas tumbuh kuat. Meski demikian, komite mencatat inflasi masih elevated dan berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2 persen secara tepat waktu. “Komite akan memberikan stabilitas harga,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Pasar kini menanti data ekonomi berikutnya untuk mengukur arah kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi terus melampaui ekspektasi.
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS sempat turun saat pelaku pasar mencerna prospek suku bunga Fed dan peluang kenaikan pada Desember. Namun, data inflasi yang lebih tinggi dari target memperkuat ekspektasi bahwa federal reserve system akan mengambil langkah pengetatan lebih lanjut. Ekonom memperkirakan bahwa jika inflasi tidak segera mereda, Fed dapat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember. Hal ini tentu akan mempengaruhi biaya pinjaman global, aliran modal, dan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara keseluruhan, lonjakan inflasi September menjadi ujian bagi kredibilitas federal reserve system dalam menjaga stabilitas harga. Meski suku bunga ditahan untuk sementara, sinyal pengetatan lanjutan semakin jelas. Pelaku pasar, pelaku usaha, dan rumah tangga di seluruh dunia perlu mencermati perkembangan data inflasi dan pernyataan pejabat Fed dalam beberapa pekan ke depan, karena keputusan Desember akan sangat bergantung pada apakah tekanan harga terus mereda atau justru semakin membara.
