Harga BBM Dunia Melonjak, Pertamina Justru Tahan Harga: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kalimantan Update – 01 November 2026 | Perhatian publik terhadap harga bahan bakar minyak di Indonesia kembali mengemuka pada awal November 2026. Di tengah gejolak harga minyak mentah dunia yang menembus level di atas USD 100 per barel, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, resmi memutuskan untuk mempertahankan tarif BBM bersubsidi maupun non-subsidi pada tingkat yang sama seperti periode Oktober 2026. Keputusan ini berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia sejak Minggu, 1 November 2026.
Kebijakan penahanan harga tersebut diambil sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional serta daya beli masyarakat. Langkah ini menjadi sorotan mengingat dinamika pasar energi global tengah memanas, terutama akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Daftar Harga BBM Pertamina per 1 November 2026
Mengacu pada daftar harga yang berlaku di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, berikut rincian harga BBM Pertamina yang tidak mengalami perubahan:
| Jenis BBM | Kategori | Harga per Liter |
|---|---|---|
| Pertalite | Subsidi | Rp 10.000 |
| Biosolar | Subsidi | Rp 6.800 |
| Pertamax | Nonsubsidi | Rp 15.950 |
| Pertamax Green 95 | Nonsubsidi | Rp 19.150 |
| Pertamax Turbo | Nonsubsidi | Rp 19.600 |
| Dexlite | Nonsubsidi | Rp 23.700 |
| Pertamina Dex | Nonsubsidi | Rp 25.200 |
Perlu dicatat bahwa harga di daerah lain dapat berbeda karena adanya komponen pajak bahan bakar kendaraan bermotor yang berlaku di masing-masing wilayah. Pertamina juga menegaskan bahwa harga BBM subsidi akan dipertahankan hingga akhir 2026 sesuai kebijakan pemerintah.
Minyak Dunia Cetak Rekor Baru
Keputusan menahan harga bahan bakar minyak di Indonesia berbanding terbalik dengan pergerakan harga minyak mentah global. Pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, kontrak minyak Brent pengiriman Desember ditutup naik 2,4 persen atau US$ 2,76 menjadi US$ 117,64 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi di US$ 118. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2,08 persen ke US$ 104,12 per barel.
Sepanjang Oktober 2026, harga Brent tercatat naik 13,6 persen, sedangkan WTI bertambah 15,2 persen. Lonjakan ini dipicu oleh potensi eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk insiden serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz. Menurut UKMTO, layanan keamanan maritim Inggris, kapal tanker tersebut terkena perangkat peledak yang dipasang dari sebuah perahu kecil. Selat Hormuz merupakan jalur laut utama bagi pasokan minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk.
Wakil Presiden Senior Bidang Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler, menyatakan bahwa para pedagang akan tetap fokus pada arus minyak dari Timur Tengah serta kemungkinan eskalasi oleh pasukan AS dan sekutunya. Pasar berjangka minyak sendiri tidak melakukan perdagangan reguler pada hari Minggu, sehingga angka tersebut merupakan harga penutupan terakhir.
Harga BBM di SPBU Swasta Ikut Stabil
Stabilitas harga bahan bakar minyak di Indonesia juga tercermin di sejumlah SPBU swasta. Shell, Vivo, dan BP-AKR belum mengumumkan kenaikan maupun penurunan harga per 1 November 2026. Untuk kelompok SPBU swasta, BP 92 dan Vivo Revvo 92 masing-masing dijual Rp 16.130 per liter, sedangkan BP Ultimate dan Vivo Revvo 95 berada di level Rp 19.330 per liter. Adapun BP Ultimate Diesel, Vivo Primus Plus Diesel, dan Shell V-Power Diesel tercatat Rp 25.420 per liter.
Meski demikian, terdapat catatan tersendiri pada produk Shell V-Power Diesel yang dilaporkan mengalami penyesuaian menjadi Rp 27.620 per liter, naik Rp 2.200 dari harga sebelumnya. Shell menyatakan bahwa harga yang tercantum mengacu pada peraturan pemerintah yang berlaku. Sejumlah varian bensin Shell seperti Shell Super, V-Power, dan V-Power Nitro+ juga masih belum tersedia dalam daftar harga yang dilaporkan media.
Pemerintah Jaga Subsidi di Tengah Tekanan APBN
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meski harga minyak mentah dunia terus meningkat. Pemerintah terus mencermati perkembangan Indonesian Crude Price (ICP) yang berpotensi menambah beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bahlil menjelaskan bahwa rata-rata harga ICP saat ini tercatat sekitar USD 92 per barel, berada di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang ditetapkan sekitar USD 70 per barel. Selisih tersebut membuka peluang pemerintah untuk menambah anggaran subsidi energi. Adapun ICP untuk September 2026 ditetapkan sebesar US$ 112,81 per barel oleh Kementerian ESDM, meningkat US$ 23,38 dibandingkan Agustus.
Perubahan harga minyak mentah dunia memang tidak otomatis langsung menaikkan harga bahan bakar minyak di Indonesia. Harga eceran juga dipengaruhi kebijakan pemerintah, biaya pengadaan dan distribusi, nilai tukar rupiah, serta keputusan penetapan harga masing-masing operator.
Kesimpulan
Dinamika harga bahan bakar minyak di Indonesia pada awal November 2026 menunjukkan gambaran yang kontras dengan pasar global. Meski minyak Brent dan WTI mencetak kenaikan signifikan akibat ketegangan di Timur Tengah, pemerintah dan Pertamina memilih menahan harga demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Kebijakan ini tentu membawa konsekuensi pada beban subsidi di APBN, sehingga pengawasan terhadap pergerakan ICP dan nilai tukar rupiah akan menjadi kunci dalam beberapa bulan mendatang. Bagi masyarakat, kepastian harga hingga akhir 2026 setidaknya memberikan ruang napas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
