Purbaya Yudhi Sadewa Diprediksi Kembali ke Pemerintahan, Kursi Gubernur BI Jadi Sorotan
Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Nama Purbaya Yudhi Sadewa kembali mencuat dalam peta politik nasional. Mantan Menteri Keuangan yang menjabat pada periode 8 September 2025 hingga 14 September 2026 itu diprediksi tidak akan lama berada di luar lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Isu yang berkembang, Purbaya Yudhi Sadewa berpeluang mengisi posisi strategis sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Prediksi itu disampaikan oleh Syahganda Nainggolan, aktivis politik senior yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI. Dalam diskusi bersama jurnalis senior Darmawan Sepriyossa yang tayang di Forum Keadilan TV pada 18 September 2026, Syahganda menilai pencopotan Purbaya dari kursi Menteri Keuangan bukan karena penilaian buruk dari Presiden. Menurutnya, Prabowo justru mengapresiasi capaian Purbaya selama sekitar satu tahun menjalankan tugas.
“Pak Prabowo tidak memberikan penilaian negatif kepada Pak Purbaya. Bisa saja dipanggil kembali,” tegas Syahganda. Ia menambahkan bahwa langkah pencopotan lebih berkaitan dengan manajemen konflik untuk meredam instabilitas, terutama setelah sejumlah kebijakan Purbaya yang dinilai agresif dalam membongkar praktik kejahatan oligarki, menertibkan skandal pajak korporasi besar, serta menolak intervensi lembaga keuangan global.
Jika benar ditarik kembali, Syahganda menilai Bank Indonesia adalah posisi yang paling sesuai dengan kapasitas Purbaya Yudhi Sadewa. Pengalaman sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi modal penting. Selama di LPS, Purbaya disebut telah mengidentifikasi berbagai persoalan di sektor perbankan, termasuk bank-bank yang dinilai perlu dibenahi atau ditutup.
“Problematika perbankan kita ke depan ini banyak, karena banyak bank yang masih tambal sulam. Selama Pak Purbaya di LPS, dia sudah mengidentifikasi mana bank-bank atau lembaga keuangan lainnya yang sudah sepantasnya ditutup atau dibenahi,” ungkap Syahganda.
Selain itu, Purbaya dianggap memahami betul seluk-beluk Bank Indonesia. Menurut Syahganda, penempatan Purbaya di bank sentral berpotensi diterima baik karena ia bukan figur politisi yang gemar membangun pencitraan atau melakukan manuver publik untuk kepentingan Pemilu 2029.
Dinamika politik menjelang 2029 turut mewarnai isu ini. Riset Great Institute menyebut popularitas Purbaya meningkat tajam setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan. Pada Januari, ratingnya bahkan disebut melampaui Kang Dedi Mulyadi (KDM). Program pengaduan masyarakat “Lapor Pak Purbaya” membuat karakter blak-blakannya semakin dikenal publik. Namun, momentum itu meredup setelah muncul larangan menggunakan nama pribadi pada program kementerian. Meski begitu, Syahganda menilai rating Purbaya tetap tinggi hingga sekarang.
Di sisi lain, selama menjabat Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa juga menaruh perhatian pada sektor pendidikan. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, ia meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Surabaya, Jawa Timur. Sekolah yang dibangun di atas lahan 6,6 hektare itu memiliki kapasitas sekitar 370 siswa dengan konsep pendidikan terintegrasi SD, SMP, dan SMA, dilengkapi asrama. Nilai kontrak pembangunan tercatat Rp3,52 triliun, dengan pagu anggaran Rp3,82 triliun dan realisasi Rp3,21 triliun.
“Saya diperintah Presiden menyediakan anggaran Sekolah Rakyat. Belajarnya yang semangat ya, biar jadi menteri, biar jadi orang kaya,” ujar Purbaya kepada para siswa. Kunjungan itu menegaskan komitmen pemerintah mendukung pembiayaan pendidikan.
Purbaya juga sempat menjadi sasaran hoaks. Sebuah unggahan di Facebook menarasikan ia meminta izin rakyat untuk menyewa hacker dan membobol data anggaran DPR. Faktanya, Purbaya hanya memanggil peretas dalam negeri untuk menguji keamanan sistem Coretax, bukan menyerang atau membocorkan data lembaga negara. Perbaikan Coretax pun tidak menggunakan anggaran tambahan APBN selain gaji staf IT.
Dengan rekam jejak di LPS, kementerian keuangan, dan perhatian pada tata kelola, wacana penempatan Purbaya Yudhi Sadewa di Bank Indonesia semakin menguat. Publik menanti apakah Presiden Prabowo benar-benar akan menarik kembali mantan Menkeu tersebut ke posisi strategis, mengingat tantangan sektor perbankan dan keuangan ke depan yang tidak ringan.
Penulis: Syaifullah, Oktavianus A
Editor: Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Warta Ekonomi, Headline.co.id, Koran Kota, ANTARA
