Thomas Sugiarto Oentoro Pimpin Garuda Indonesia, Lanjutkan Transformasi Maskapai Nasional
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Thomas Sugiarto Oentoro resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Kamis, 8 Oktober 2026. Penunjukan Thomas Sugiarto Oentoro ini menjadi tonggak penting bagi maskapai pelat merah tersebut dalam melanjutkan agenda transformasi yang tengah berjalan, mencakup penguatan kinerja keuangan, pemulihan armada, peningkatan pendapatan, serta keberlanjutan bisnis maskapai nasional.
Dalam RUPSLB tersebut, Thomas Sugiarto Oentoro menggantikan Glenny H. Kairupan yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama. Glenny sendiri melanjutkan mandatnya sebagai Komisaris Utama, menggantikan Fadjar Prasetyo. Sebelumnya, Thomas telah menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Garuda sejak Oktober 2025, sehingga pergantian kepemimpinan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan transformasi yang sudah berjalan.
Rekam Jejak dan Latar Belakang Profesional
Perjalanan karier Thomas Sugiarto Oentoro di lingkungan Garuda Indonesia bukanlah hal yang baru. Sebelum menjabat sebagai Wakil Direktur Utama, ia merupakan Komisaris Independen Garuda Indonesia pada periode 2023–2024. Pengalaman di tingkat pengawasan dan pengurusan tersebut memberinya perspektif yang komprehensif mengenai proses pembenahan serta tantangan yang dihadapi perusahaan.
Sebelum bergabung dengan jajaran Direksi Garuda, Thomas menjabat sebagai Chief Risk Officer di Indonesia Investment Authority (INA) pada 2024–2025. Perjalanan kariernya juga mencakup posisi Vice President Mezzanine Capital Unit di OCBC dan Managing Director di KV Asia Capital. Dari sisi pendidikan, Thomas menempuh studi bidang keuangan di NYU Stern School of Business dan meraih gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business.
Latar belakang investasi dan manajemen risiko yang dimiliki Thomas Sugiarto Oentoro dinilai sangat relevan dengan kebutuhan Garuda sebagai maskapai padat modal. Pemulihan armada dan pengembangan jaringan memerlukan keselarasan keputusan keuangan, operasional, dan komersial agar tambahan kapasitas turut memperkuat pendapatan serta arus kas perusahaan.
Penguatan Jajaran Direksi dan Komisaris
Bersamaan dengan penunjukan Thomas, susunan pengurus Garuda Indonesia diperkuat oleh sejumlah profesional dengan pengalaman internasional, baik di jajaran direksi maupun dewan komisaris. Posisi Direktur Komersial diisi oleh Alan McIntyre, yang memiliki pengalaman sebagai Executive Manager Strategy di Qantas Group serta Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar.
Pada jajaran Dewan Komisaris, Jaan Albrecht dan Trey Urbahn ditunjuk sebagai Komisaris Independen. Jaan memiliki rekam jejak sebagai CEO Saudia Airlines, Austrian Airlines, dan Star Alliance. Sementara itu, Trey berpengalaman dalam peran penasihat dan pengawasan di sejumlah perusahaan penerbangan, termasuk Spirit Airlines, Etihad Airways, serta TAP Air Portugal.
Pengalaman dari dalam industri penerbangan nasional juga hadir melalui Eric Ferdinand Sofyal sebagai Direktur Operasi. Ia sebelumnya menjabat Direktur Operasi Citilink dan menduduki sejumlah posisi operasional di Garuda Indonesia. Sementara itu, Dina Sandri Fani mengisi posisi Direktur Human Capital & Corporate Service dengan pengalaman pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan nasional dan internasional.
Kinerja Keuangan dan Operasional Semester I 2026
Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan sebesar 1,80 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang semester I 2026, meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS, sementara laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT tumbuh 12,7 persen menjadi 74 juta dolar AS.
Perbaikan tersebut berlangsung di tengah kenaikan beban avtur sebesar 43,6 persen. Pertumbuhan pendapatan dan penyusutan kerugian menunjukkan kemajuan pemulihan bisnis di tengah tekanan biaya yang masih tinggi. Dari sisi operasional, armada operasional Garuda Indonesia Group mencapai 104 pesawat hingga akhir Juni 2026.
Ketersediaan pesawat menjadi penopang penguatan jaringan Garuda dan Citilink, peningkatan frekuensi penerbangan, serta pemenuhan permintaan perjalanan. Capaian semester pertama merupakan hasil kerja kolektif manajemen dan karyawan, dengan Thomas sebagai bagian dari jajaran pimpinan saat itu.
Tantangan dan Agenda ke Depan
Susunan pengurus yang baru diharapkan memperkuat pelaksanaan agenda transformasi melalui pengelolaan likuiditas, pengendalian biaya, peningkatan produktivitas armada, dan konsistensi layanan. Dengan agenda penyehatan yang masih berlanjut, tantangan kepemimpinan Thomas Sugiarto Oentoro adalah menerjemahkan momentum pemulihan menjadi perbaikan keuangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing Garuda sebagai maskapai nasional.
Dalam kerangka tata kelola, direksi menjalankan pengurusan perusahaan, sementara dewan komisaris melakukan pengawasan dan memberikan nasihat. Seluruh pengurus dituntut mengedepankan kepentingan perusahaan, menjaga profesionalisme, dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan mandatnya sesuai ketentuan yang berlaku. Nilai tambah pengalaman internasional juga perlu diwujudkan melalui alih pengetahuan dan pengembangan talenta nasional.
Berikut susunan Direksi Garuda Indonesia setelah RUPSLB:
- Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
- Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
- Direktur Operasi: Eric Ferdinand Sofyal
- Direktur Teknik: Mukhtaris
- Direktur Komersial: Alan McIntyre
- Direktur Human Capital & Corporate Service: Dina Sandri Fani
- Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills
Sementara susunan Dewan Komisaris setelah RUPSLB yakni Komisaris Utama Glenny H. Kairupan; Komisaris Sugito Anjasmoro; Komisaris Chairal Tanjung; Komisaris Independen Mawardi Yahya; Komisaris Independen Jaan Albrecht; dan Komisaris Independen Trey Urbahn.
Dengan komposisi pengurus yang baru, Garuda Indonesia berada di titik krusial dalam perjalanan transformasinya. Kepemimpinan Thomas Sugiarto Oentoro bersama jajaran direksi dan komisaris diharapkan mampu menjaga momentum pemulihan, memperkuat fondasi keuangan, serta membawa maskapai nasional ini terbang lebih tinggi di tengah persaingan industri penerbangan global yang semakin dinamis.
