Radja Nainggolan Buka Suara: Menyesal Pilih Belgia, Kini Jadi Pembuka Jalan Bintang Eropa ke Liga Indonesia
Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Nama Radja Nainggolan kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Mantan gelandang tim nasional Belgia berdarah Batak Toba itu mengungkap penyesalan mendalam atas keputusan besarnya di masa lalu: memilih membela Belgia ketimbang Indonesia. Pengakuan tersebut ia sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan media Belgia, Het Nieuwsblad, pada 8 Oktober 2026, yang langsung menggema hingga ke tanah air.
Dalam usia yang kini menginjak 38 tahun, Radja Nainggolan menilai dirinya berpeluang menjalani karier internasional lebih panjang sekaligus meraih popularitas dan peluang komersial lebih besar seandainya dahulu memperkuat skuad Garuda. “Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain tim nasional Indonesia,” ujarnya, dikutip dari pernyataannya kepada media Belgia tersebut.
Alasan di Balik Pilihan yang Kini Disesali
Nainggolan mengaku tidak pernah benar-benar mempertimbangkan Indonesia pada awal karier internasionalnya karena belum mengenal negara asal ayahnya. Keterbatasan informasi itulah yang membuatnya mantap membela Belgia, negara tempat ia lahir dan tumbuh sebagai pesepak bola. Ia mengantongi 30 caps bersama timnas Belgia dan sempat menjadi andalan di lini tengah AS Roma serta Inter Milan.
Namun, seiring bertambahnya usia, pandangannya berubah. Ia mulai menyadari besarnya potensi yang bisa ia dapatkan jika memilih Indonesia. Menurut Radja Nainggolan, popularitas sepak bola Indonesia dapat memberikan keuntungan bagi citra dirinya, termasuk membuka peluang setelah pensiun. Ia bahkan menyinggung dukungan sponsor dari merek-merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex yang dinikmati sejumlah pemain yang memperkuat Indonesia.
Selain peluang finansial, Nainggolan terkesan dengan antusiasme suporter sepak bola Indonesia. Ia menilai dukungan fanatik suporter menjadi salah satu daya tarik yang membuat pengalaman bermain untuk timnas Indonesia berpotensi jauh berbeda.
Jalan Berliku Menuju Liga Indonesia
Kisah Radja Nainggolan di Indonesia bermula dari rencana pensiun setelah membela klub Italia SPAL pada 2023. Rencana itu berubah setelah Ketua Umum PSSI saat itu, Erick Thohir, mengundangnya menjadi duta Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia. Pengalaman dua pekan sebagai duta rupanya melatarbelakangi keputusannya kembali bermain secara profesional di tanah air.
Menariknya, ia sempat berkeinginan membela Persija Jakarta atau Bali United. Namun, perjalanan kariernya justru membawanya ke Bhayangkara FC pada November 2023. “Ternyata tim polisi yang butuh saya,” ujarnya menggambarkan kepindahan yang tak terduga itu. Ia menetap setengah musim dan mencetak satu gol serta tiga assist dari 10 laga resmi, sekaligus berjanji memberikan yang terbaik agar Bhayangkara bertahan.
Soal nilai kontrak, Radja Nainggolan secara terbuka membeberkan bahwa ia menerima bayaran hingga Rp 6 miliar atau sekitar 400 ribu Euro untuk masa kerja sekitar enam bulan. Angka fantastis itu menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan publik.
Membuka Pintu bagi Bintang Keturunan Lainnya
Kehadiran Radja Nainggolan di Liga Indonesia disebut-sebut menjadi pembuka jalan bagi pemain-pemain Eropa berdarah Indonesia lainnya. Setelahnya, sejumlah nama menyusul, seperti Jordy Wehrmann yang bergabung dengan Madura United pada Juli 2024, adiknya Jasey Wehrmann yang dikontrak klub yang sama jelang musim 2025/26, serta Jordy Tutuarima yang diresmikan sebagai pemain Persis Solo pada Januari 2025.
- Radja Nainggolan: Bhayangkara FC (November 2023), 1 gol dalam 10 laga.
- Jordy Wehrmann: Madura United (Juli 2024), alumni akademi Feyenoord.
- Jasey Wehrmann: Madura United (2025/26), pemain asing pertama di Elite Pro Academy.
- Jordy Tutuarima: Persis Solo (Januari 2025), bek kiri berdarah Maluku.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kasta tertinggi sepak bola Indonesia terus memikat pemain asing yang memiliki garis keturunan tanah air. Mereka menjembatani karier Eropa dengan akar budaya mereka, sekaligus memperkaya kompetisi domestik dengan pengalaman bertaraf internasional.
Kisah Radja Nainggolan menjadi cermin betapa pilihan karier internasional tak selalu soal prestasi semata. Ada dimensi emosional, peluang komersial, dan ikatan darah yang perlahan muncul ke permukaan. Penyesalan yang ia ungkapkan justru membuka kesadaran baru bagi generasi pemain keturunan berikutnya untuk lebih jeli mempertimbangkan akar mereka. Bagi sepak bola Indonesia sendiri, kehadiran sosok seperti Nainggolan, meski singkat, telah meninggalkan jejak yang mengubah lanskap dan daya tarik Liga Indonesia di mata dunia.
