Jembatan Krueng Pelang Capai Progres 60 Persen, Target Beroperasi November 2026
Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Aceh Tengah terus menunjukkan kemajuan signifikan. Jembatan Krueng Pelang Capai Progres 60 Persen secara fisik, menandai tonggak penting dalam proyek yang ditargetkan mulai berfungsi pada November 2026 mendatang. Jembatan yang terletak di Desa Mulie Jadi, Kecamatan Silih Nara ini menjadi salah satu proyek strategis yang dikebut untuk mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik antardaerah.
Proyek senilai Rp56 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini dirancang sebagai infrastruktur penghubung utama antara Kecamatan Silih Nara dan Rusip Antara. Dengan progres yang telah mencapai 60 persen, Jembatan Krueng Pelang Capai Progres 60 Persen menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan konektivitas di wilayah pedalaman Aceh.
Jembatan sepanjang 55 meter dengan lebar 9,9 meter tersebut dirancang memiliki kapasitas struktural yang mumpuni. Konstruksi ini mampu menahan kendaraan berbobot lebih dari 30 ton, sehingga sangat ideal untuk dilalui truk-truk pengangkut hasil pertanian dan logistik. Keberadaan jembatan ini diharapkan dapat memperlancar pergerakan komoditas dari sentra-sentra produksi pertanian menuju pasar-pasar di Nagan Raya hingga Pidie.
Pejabat Pembuat Komitmen 3.2 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Chandra Irawan, menyampaikan bahwa pengerjaan struktur baja jembatan mendekati tahap penyelesaian. Dari total 11 segmen yang direncanakan, sembilan segmen telah terpasang dengan baik. Dua segmen lainnya masih harus diselesaikan sebelum tahap pengecoran lantai jembatan dapat dilakukan.
“Pemasangan struktur baja menjadi fokus utama saat ini. Kami menargetkan seluruh segmen selesai dalam waktu dekat agar proses pengecoran lantai dapat segera dimulai,” ujar Chandra Irawan dalam keterangannya.
Pencapaian Jembatan Krueng Pelang Capai Progres 60 Persen ini tidak lepas dari kerja keras seluruh pihak yang terlibat. Meskipun demikian, tantangan geografis dan cuaca di wilayah Aceh Tengah menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar target penyelesaian pada November 2026 dapat terpenuhi.
Selain sebagai penghubung antarkecamatan, jembatan ini juga memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat setempat. Petani dan pelaku usaha logistik akan merasakan manfaat langsung berupa waktu tempuh yang lebih singkat dan biaya distribusi yang lebih efisien. Selama ini, akses jalan yang terbatas sering menjadi kendala dalam pengangkutan hasil bumi.
Pemerintah daerah berharap pembangunan Jembatan Krueng Pelang dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di kawasan pedalaman. Dengan konektivitas yang lebih baik, arus barang dan jasa akan semakin lancar, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara bertahap.
Masyarakat Desa Mulie Jadi dan sekitarnya menyambut positif pembangunan ini. Mereka berharap jembatan dapat segera digunakan, terutama untuk mengangkut hasil pertanian seperti kopi, sayur-mayur, dan komoditas lainnya ke pasar yang lebih luas.
Dengan capaian Jembatan Krueng Pelang Capai Progres 60 Persen, proyek ini diprediksi akan terus berlanjut sesuai jadwal. Pengawasan kualitas dan ketepatan waktu menjadi prioritas agar jembatan dapat berfungsi optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Aceh Tengah.
Sebagai kesimpulan, pembangunan Jembatan Krueng Pelang yang telah mencapai progres 60 persen merupakan langkah nyata dalam meningkatkan infrastruktur konektivitas di Aceh Tengah. Dukungan anggaran APBN sebesar Rp56 miliar, kapasitas beban yang besar, serta target operasional pada November 2026 menjadi indikator keseriusan pemerintah. Keberhasilan proyek ini diharapkan tidak hanya memperlancar distribusi logistik dan hasil pertanian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Silih Nara, Rusip Antara, hingga Nagan Raya dan Pidie.
