Futsal Indonesia vs Brazil: Kekalahan Telak di Brasil Jadi Cermin Perjuangan Menuju 10 Besar Dunia
Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Laga futsal Indonesia vs Brazil menjadi pembuka yang pahit sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi Timnas Futsal Indonesia dalam ajang VI Copa das Nacoes de Futsal 2026 yang berlangsung di Max Rosenmann Arena, Sao Jose dos Pinhais, Parana, Brasil, pada 12-18 Oktober 2026. Dalam pertandingan penyisihan Grup A, skuad Garuda harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 0-3. Kekalahan pada laga futsal Indonesia vs Brazil tersebut menjadi awal dari rangkaian hasil kurang memuaskan yang harus diterima pasukan asuhan Hector Souto sepanjang turnamen.
Turnamen yang diikuti enam negara ini dibagi ke dalam dua grup. Grup A dihuni Brasil, Indonesia, dan Tanjung Verde, sementara Grup B berisi Jepang, Peru, dan Afghanistan. Setelah takluk dari Brasil, Indonesia kembali menelan kekalahan 0-2 dari Tanjung Verde pada laga terakhir penyisihan grup. Dua kekalahan beruntun itu menempatkan Indonesia di peringkat ketiga klasemen akhir grup, sehingga gagal melaju ke semifinal.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang untuk memperbaiki posisi melalui pertandingan perebutan peringkat kelima melawan Peru, yang menempati dasar klasemen Grup B. Namun, harapan itu pupus setelah skuad Garuda kalah tipis 1-2. Gol semata wayang Indonesia dalam laga tersebut dicetak oleh Yogi Saputra. Dengan hasil itu, Indonesia menutup kiprahnya di Brasil tanpa mengoleksi satu poin pun dari tiga pertandingan.
Sementara itu, Brasil tampil sebagai juara setelah menghancurkan Afghanistan dengan skor 6-0 di partai final. Pada perebutan peringkat ketiga, Jepang menundukkan Tanjung Verde dengan skor 3-1. Dominasi tim-tim Amerika Selatan dan Asia dalam turnamen ini menunjukkan betapa kerasnya persaingan di level internasional, termasuk ketika berbicara tentang laga futsal Indonesia vs Brazil yang menjadi tolok ukur kualitas.
Sekretaris Jenderal Federasi Futsal Indonesia (FFI), Budi Setiawan, menegaskan bahwa apa pun hasil yang diperoleh tetap menjadi bagian dari pengembangan tim untuk menembus posisi 10 besar dunia. Menurutnya, masih banyak aspek yang perlu dibenahi untuk mendapatkan tim yang diharapkan, mulai dari kualitas permainan, kesiapan tim, hingga efektivitas program pembinaan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga atas dukungan moral, program, dan khususnya pendanaan.
Budi mengungkapkan bahwa program keberangkatan ke Brasil tidak akan terlaksana tanpa dukungan penuh dari PSSI sebagai induk organisasi sepak bola dan futsal, serta Kemenpora RI. FFI pada tahun ini menerima dana APBN sekitar Rp20 miliar, dan keberangkatan ke Brasil merupakan bagian dari penggunaan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan, baik dari sisi perencanaan program, mata anggaran, realisasi, prosedur, administrasi, maupun pencapaian target. Ia juga berterima kasih kepada Erick Thohir sebagai Menpora sekaligus Ketua Umum PSSI, serta Sekjen PSSI Yunus Nusi yang membantu pendampingan proses administrasi APBN futsal.
Dari sisi pelatih, Hector Souto menilai hasil di Brasil sebagai bagian dari proses perkembangan tim. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa berharap datang dari Asia lalu langsung mengungguli semua tim di Amerika Selatan. Meski baru menjadi runner-up Piala Asia 2026, timnya harus memahami posisi saat ini dan terus bekerja membangun ekosistem futsal yang lebih baik. Souto menyebut timnya mampu bertahan secara konsisten saat menghadapi Brasil, mengontrol permainan melawan Tanjung Verde, dan mengendalikan pertandingan saat melawan Peru.
Pengalaman di Spanyol dan Brasil dinilai memperkenalkan sekitar 15 hingga 20 pemain pada standar futsal tertinggi. Souto juga mengingatkan pentingnya tidak mempertukarkan hasil akhir dengan performa, serta mengajak semua pihak melihat perkembangan tim sejak Agustus 2024 hingga kini. Evaluasi detail-detail kecil yang membuat perbedaan akan menjadi fokus untuk memperbaiki kesalahan di masa depan.
Bagi publik futsal Tanah Air, laga futsal Indonesia vs Brazil bukan sekadar catatan kekalahan, melainkan cermin jarak kualitas yang harus dikejar. Hasil di Brasil menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi FFI, pelatih, dan pemain untuk merancang program yang lebih matang. Dengan pembinaan berkelanjutan, dukungan anggaran yang transparan, serta pengalaman bertanding melawan tim kelas dunia, ambisi menembus 10 besar dunia tetap terbuka lebar. Perjalanan masih panjang, dan setiap kekalahan harus diubah menjadi pijakan untuk bangkit.
