Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN demi Kemandirian Teknologi Nasional
Kalimantan Update – 22 Oktober 2026 | Upaya Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN menjadi sorotan dalam gelaran Peruri Digital Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 21–22 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan sejumlah pejabat, pelaku industri, dan akademisi untuk mendorong penguasaan teknologi semikonduktor, pengembangan talenta dalam negeri, serta penyelarasan bisnis badan usaha milik negara (BUMN) di sektor teknologi informasi. Langkah Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN dinilai krusial mengingat ketergantungan Indonesia pada impor chip masih sangat tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menilai industri semikonduktor nasional masih tertinggal dibandingkan Malaysia. Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan chip dalam negeri dipenuhi melalui impor. Kondisi itu, kata dia, menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak lebih cepat.
“Sampai sekarang mungkin 100% semikonduktor kita masih impor semua. Jadi memang kita masih tertinggal, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus berlari. Bukannya tidak mungkin, karena negara tetangga kita Malaysia saja sudah bisa,” ujar Brian dalam acara tersebut.
Pernyataan itu menegaskan bahwa agenda Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN bukan sekadar wacana jangka pendek. Diperlukan peta jalan yang jelas, investasi riset, serta kolaborasi lintas sektor agar Indonesia mampu mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat keamanan siber nasional.
Ketergantungan Impor dan Urgensi Kemandirian
Semikonduktor menjadi komponen fundamental bagi hampir seluruh perangkat digital, mulai dari telepon pintar, komputer, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan. Ketika pasokan chip bergantung sepenuhnya pada negara lain, Indonesia rentan terhadap gejolak rantai pasok global, fluktuasi harga, dan tekanan geopolitik. Oleh karena itu, penguasaan teknologi chip menjadi bagian tak terpisahkan dari kedaulatan digital.
Dalam konteks inilah Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN diposisikan sebagai langkah strategis. Perum Peruri, yang selama ini dikenal sebagai percetakan uang dan dokumen keamanan negara, didorong memperluas perannya ke sektor teknologi tinggi. Pengalaman dalam pengamanan dokumen dan sistem keamanan menjadi modal awal untuk mengembangkan kapabilitas di bidang keamanan siber dan teknologi chip.
Brian menekankan bahwa percepatan pengembangan industri berteknologi tinggi harus melibatkan perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Talenta dalam negeri perlu disiapkan sejak dini melalui pendidikan vokasi, program magang, hingga riset terapan yang berorientasi pada kebutuhan pasar.
Penyelarasan Bisnis Digital Antar-BUMN
Selain penguatan industri chip, forum tersebut menyoroti pentingnya penyelarasan bisnis digital di lingkungan BUMN. Selama ini, berbagai BUMN menjalankan inisiatif digital secara terpisah, sehingga berpotensi menimbulkan duplikasi, inefisiensi, dan kesenjangan standar keamanan. Melalui Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN, diharapkan tercipta ekosistem digital yang terintegrasi, aman, dan saling mendukung.
Penyelarasan itu mencakup beberapa aspek penting:
- Standarisasi infrastruktur teknologi informasi dan keamanan siber antar-BUMN.
- Berbagi sumber daya dan kapabilitas untuk mengurangi biaya pengembangan.
- Pengembangan talenta digital bersama melalui pelatihan dan sertifikasi.
- Harmonisasi tata kelola data dan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.
- Kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dan industri semikonduktor global.
Dengan langkah tersebut, BUMN di sektor teknologi informasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi kekuatan kolektif yang mampu mempercepat transformasi digital nasional.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Membangun industri chip bukan pekerjaan mudah. Diperlukan investasi besar, sumber daya manusia berkualitas, serta ekosistem pendukung yang matang. Namun, peluangnya juga terbuka lebar seiring meningkatnya permintaan global terhadap semikonduktor dan tumbuhnya industri kendaraan listrik serta perangkat pintar.
Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi antara lain keterbatasan anggaran riset, minimnya jumlah tenaga ahli di bidang mikroelektronika, serta persaingan dengan negara-negara yang telah lebih dulu membangun industri serupa. Untuk itu, strategi Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN perlu disertai insentif fiskal, kemitraan internasional, dan program beasiswa bidang teknik elektro serta fisika material.
Pemerintah juga didorong mempercepat regulasi yang mendukung pengembangan industri semikonduktor, termasuk kemudahan perizinan, akses pembiayaan, dan perlindungan kekayaan intelektual. Sinergi antara kementerian, BUMN, swasta, dan akademisi menjadi kunci keberhasilan.
Di sisi lain, keberhasilan penyelarasan bisnis digital BUMN dapat menjadi contoh bagi sektor lain. Jika ekosistem ini berjalan baik, layanan publik berbasis digital akan semakin efisien, aman, dan terpercaya. Masyarakat pun akan merasakan dampak langsung berupa kemudahan akses layanan dan perlindungan data yang lebih baik.
Secara keseluruhan, agenda Peruri Perkuat Industri Chip dan Selaraskan Bisnis Digital BUMN mencerminkan tekad pemerintah untuk tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen dan inovator. Dengan komitmen kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan talenta yang berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat posisinya dalam peta industri teknologi global. Langkah ini bukan hanya tentang chip, tetapi tentang masa depan kedaulatan digital bangsa.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak
