Irak di Pusat Gejolak Global: Dari Rencana Serangan Israel hingga Penangkapan Gembong Narkoba
Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Irak kembali menjadi sorotan dunia dalam sepekan terakhir. Negara di kawasan Timur Tengah itu muncul dalam berbagai peristiwa penting, mulai dari rencana kontroversial Israel yang disebut-sebut akan mengubah peta keamanan regional, penangkapan seorang warga negara Swedia yang diduga mengendalikan jaringan narkotika internasional, hingga studi energi yang menempatkan Jerman di bawah Irak. Dinamika ini menunjukkan bahwa Irak bukan sekadar negara pascakonflik, melainkan aktor yang terus memengaruhi keseimbangan geopolitik dan keamanan lintas benua.
Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan tengah mematangkan rencana operasi militer besar terhadap Iran menjelang pemilihan umum. Laporan Financial Times dan New York Times menyebutkan bahwa rencana tersebut mencakup serangan terhadap fasilitas nuklir, sistem rudal, kapasitas drone, hingga infrastruktur energi Iran. Sejumlah analis menilai langkah ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik domestik, tetapi juga merupakan bagian dari strategi keamanan jangka panjang yang tidak bergantung pada hasil pemilu. Menariknya, dalam perdebatan ini nama Irak kembali disebut sebagai pembanding. Seorang pengamat mengingatkan bahwa eskalasi semacam ini bisa memunculkan “gambaran serupa dengan Irak pada 1991”, merujuk pada operasi militer besar yang mengguncang kawasan.
Peneliti dari Iran Araştırmaları Merkezi (İRAM), Oral Toğa, menilai bahwa rencana serangan Israel memang nyata dan telah disusun secara militeristik. Namun, menurutnya, jadwal operasi lebih ditentukan oleh Washington, bukan Jerusalem. “Serangan direncanakan setelah pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November. Tiga kapal induk AS baru akan lengkap di kawasan pada awal November. Selain itu, malam di Iran semakin panjang hingga akhir Desember, yang menyulitkan deteksi pesawat penyerang,” ujarnya. Toğa menambahkan bahwa posisi Netanyahu dan para pesaingnya terhadap Iran relatif sama, sehingga siapa pun yang menang, arah kebijakan Israel terhadap Teheran tidak akan berubah. Dalam konteks ini, Irak menjadi contoh historis bagaimana intervensi militer di kawasan dapat menimbulkan dampak berkepanjangan.
Sementara itu, di bidang penegakan hukum, otoritas Irak menangkap seorang warga negara Swedia berusia 34 tahun yang telah buron secara internasional selama hampir setahun. Pria tersebut diduga kuat mengendalikan seluruh perdagangan kokain di Kristinehamn dan wilayah Värmland timur, Swedia. Penangkapan dilakukan atas inisiatif kepolisian Irak, dan pria itu kini menunggu proses ekstradisi ke Swedia. Kasus ini mengungkap bahwa Irak, yang selama ini lebih dikenal karena isu keamanan dan politik, juga menjadi simpul jaringan kejahatan lintas negara. Sebanyak 21 orang telah divonis dalam jaringan narkotika besar yang terkait dengan tersangka, termasuk tuduhan persiapan tindak pidana berbahaya dan pemerasan. Seorang warga negara Turki berusia 52 tahun masih dalam status buron dan diduga berperan sebagai perantara narkotika.
Dari sisi energi, sebuah studi yang dirilis Adam Smith Institute menempatkan Jerman pada posisi 69 dari 187 negara dalam hal keamanan pasokan energi. Ironisnya, Jerman berada di bawah Irak, Bosnia dan Herzegovina, serta Kirgistan. Studi tersebut menilai keamanan energi berdasarkan ketersediaan listrik, keragaman sumber energi, keamanan impor, dan kemampuan finansial. Jerman unggul dalam keragaman sumber dan kemampuan membayar, tetapi sangat lemah dalam ketersediaan listrik, menempati peringkat 180 dari 187. Penilaian ini tidak menghitung energi angin dan matahari sebagai sumber yang dapat dikendalikan setiap saat, sehingga negara dengan porsi energi terbarukan tinggi seperti Jerman menerima skor rendah. Data yang digunakan berasal dari tahun 2024, dan survei di Bavaria menunjukkan bahwa 48 persen perusahaan mengalami pemadaman listrik singkat yang berdampak ekonomi. Fakta bahwa Irak berada di atas Jerman dalam indeks ini menjadi cermin betapa kompleksnya persepsi tentang ketahanan energi global.
Selain itu, kisah kemanusiaan dari Irak turut mewarnai pemberitaan. Didar, seorang warga Irak yang kini tinggal di Ludwigshafen, Jerman, mengenang masa kecilnya saat baru tiba di Stendal. Ia merasakan keterasingan dan putus asa karena tidak memahami bahasa. Namun, bantuan seorang tetangga bernama Mary mengubah hidupnya. Mary membantu keluarga Didar belajar bahasa Jerman, mengerjakan pekerjaan rumah, dan memahami budaya setempat. Hubungan itu berlangsung lebih dari 30 tahun. Ketika suami Mary meninggal pada 2010, Didar dan keluarganya yang saat itu kembali tinggal di Irak datang menghibur Mary. Kini mereka hidup terpisah, tetapi tetap menjaga komunikasi. Kisah ini menunjukkan sisi lain Irak yang jarang terekspos: manusia dengan ikatan emosional lintas negara yang melampaui narasi konflik.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, terlihat bahwa Irak memiliki peran multidimensional dalam dinamika global. Isu keamanan regional, peredaran narkotika internasional, ketahanan energi, hingga kisah kemanusiaan semuanya bertautan. Ketegangan Israel-Iran yang terus memanas dapat berdampak pada stabilitas Irak, sementara penangkapan gembong narkoba menunjukkan kerja sama lintas negara yang semakin erat. Di sisi lain, posisi Irak dalam indeks energi global menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dan kebijakan energi memiliki implikasi luas. Semua mata akan terus tertuju pada Irak, negara yang selalu menarik untuk dibicarakan.
