Operasi SAR Ditutup, Beatrix Dive Master Jakarta Masih Hilang di Labuan Bajo
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Operasi SAR ditutup, Beatrix dive master Jakarta masih hilang di Labuan Bajo [titlebase] menjadi kabar duka yang menyelimuti dunia pariwisata bahari Indonesia. Veronica Beatrix Jessica, perempuan berusia 23 tahun asal Jakarta yang berprofesi sebagai dive master, hingga hari kesepuluh pencarian belum juga ditemukan setelah kapal pinisi KM Feronia tenggelam di perairan Pulau Tatawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, secara resmi menutup operasi pencarian pada Kamis malam, 22 Oktober 2026, di posko SAR gabungan Pelabuhan Marina Labuan Bajo.
Keputusan penutupan operasi diambil setelah Tim SAR Gabungan melaksanakan berbagai upaya pencarian selama sepuluh hari dan melakukan evaluasi menyeluruh. “Berdasarkan hasil evaluasi terhadap seluruh upaya pencarian yang telah dilaksanakan, kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan KM Feronia maupun korban yang masih dinyatakan hilang. Setelah mempertimbangkan seluruh hasil operasi dan melakukan evaluasi bersama, Operasi SAR resmi kami tutup pada hari kesepuluh,” ujar Fathur Rahman. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penutupan ini tidak berarti status korban tidak akan berubah. Apabila di kemudian hari terdapat informasi atau tanda-tanda yang mengarah pada penemuan korban, operasi SAR akan dibuka kembali. “Tetap kita akan melaksanakan pemantauan maupun pencarian yang dilaksanakan secara mandiri. Kalau memang adanya korban ataupun adanya kapal yang mengalami kecelakaan tersebut, operasi SAR kita akan kembali buka,” jelasnya.
Insiden nahas itu bermula ketika KM Feronia, kapal tradisional phinsi pengangkut penumpang wisata dengan Gross Tonnage (GT) 51, berlayar dari Pelabuhan Marina menuju Dermaga Pulau Rinca pada 13 Oktober 2026. Kapal melintasi pusaran arus, kemudian miring, terbalik, dan akhirnya tenggelam. Kapal tersebut membawa 30 orang atau person on board (POB), terdiri atas 5 anak buah kapal (ABK) dan 25 penumpang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 orang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, sementara satu penumpang, Veronica Beatrix Jessica, masih dinyatakan hilang. Operasi SAR ditutup, Beatrix dive master Jakarta masih hilang di Labuan Bajo [titlebase] pun menjadi sorotan publik, mengingat Jessica merupakan instruktur aktivitas penyelaman puluhan wisatawan di kapal yang tenggelam tersebut.
Jessica diketahui bekerja di perusahaan penyelaman bernama Dive Tribe di Labuan Bajo. Ia telah bekerja di Labuan Bajo sejak sekitar lima tahun lalu, namun baru sebulan lebih bekerja di Dive Tribe. Sebelumnya, ia bekerja di sebuah perusahaan kapal pinisi di Labuan Bajo. Ibunda Jessica, Anastasia Daisy, mengenang sosok anak keduanya sebagai pribadi pemberani dan menyukai tantangan sejak kecil. “Jessica itu anak yang waktu pertama kali kami tinggalkan itu punya kemauan yang keras, mencoba sesuatu yang baru. Sekali lagi di Labuan Bajo ini dan memang cenderung anaknya itu suka tantangan,” ujar Daisy saat ditemui di posko SAR gabungan, Senin, 19 Oktober 2026.
Daisy menuturkan, Jessica awalnya tinggal bersama kakaknya di Labuan Bajo. Saat kakaknya melanjutkan pendidikan, Jessica memilih tetap tinggal di Labuan Bajo. “Ketika ada kesempatan kakaknya untuk sekolah, jadi dia kami tanya bagaimana dengan kamu Jess? Tapi dia jawab bahwa dia mau tinggal di sini dan ingin bekerja aja. Itu yang pertama kali dia ada di Labuan Bajo. Tapi memang anaknya pemberani dan kami tahu itu udah dari dia kecil,” tuturnya. “Kami cukup berserah sebetulnya sama Tuhan bahwa dia itu ada di dalam penjagaan Tuhan. Saya rasa anak ini juga cukup bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Dia mau bekerja dan dia pasti bekerja dengan baik,” tandas Daisy. Keluarga korban sempat mengikuti operasi pencarian selama lima hari terakhir dan menggelar doa di lokasi kapal tenggelam.
Selama sepuluh hari operasi, Tim SAR Gabungan yang berjumlah ratusan personel telah mengerahkan berbagai peralatan canggih. Pada hari kelima, pencarian diperluas hingga 50 mil laut dari lokasi kejadian. Unsur TNI AL dari KRI Satran Pulau Fani (PFN-731) Koarmada II yang bertolak dari Surabaya tiba di lokasi dan langsung bergabung. Tim dibagi ke dalam sembilan Search and Rescue Unit (SRU) yang menyisir permukaan laut menggunakan sejumlah kapal dan perahu. Penyisiran juga dilakukan oleh RIB Pos SAR Manggarai Barat bersama keluarga korban di sekitar Pulau Padar Utara, Pulau Serai, dan Pulau Mawan.
Pencarian bawah air dioptimalkan dengan mengerahkan sonar multibeam dari Distrik Navigasi Kupang, side scan sonar Koarmada II TNI AL Surabaya, serta Remotely Operated Vehicle (ROV) milik PT Famindo. Pada hari kesepuluh, ROV diturunkan beberapa kali untuk memeriksa dasar laut pada kedalaman sekitar 80 hingga 84 meter. Namun, tim menghadapi sejumlah kendala teknis, antara lain hilangnya sinyal ROV dan tersangkutnya perangkat pada tali jangkar. Meskipun demikian, upaya pencarian terus dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi lapangan dan keselamatan personel. Hingga operasi ditutup, tidak ada tanda-tanda keberadaan bangkai KM Feronia maupun korban.
Operasi SAR ditutup, Beatrix dive master Jakarta masih hilang di Labuan Bajo [titlebase] meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan korban. Meski operasi resmi berakhir, harapan akan ditemukannya Jessica belum sepenuhnya pupus. Aparat dan tim SAR akan terus melakukan pemantauan mandiri, dan siap membuka kembali operasi jika ada informasi baru. Peristiwa ini juga menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam aktivitas wisata bahari, terutama di kawasan Taman Nasional Komodo yang memiliki arus laut cukup kuat. Pemerintah dan operator wisata diharapkan terus meningkatkan standar keselamatan demi mencegah terulangnya musibah serupa di masa depan.
