Krisis Maut Udinese: Enam Kekalahan Beruntun, Posisi Runjaic di Ujung Tanduk dan Bayang-Bayang Pioli
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Krisis yang melanda Udinese kian memasuki fase genting. Kekalahan 0-2 dari AC Milan pada laga Serie A di Dacia Arena, Minggu malam waktu setempat, menjadi pukulan keenam berturut-turut yang diderita tim berjuluk Bianconeri tersebut. Hasil ini menempatkan Udinese di posisi penalti klasemen dengan koleksi empat poin, setara dengan Fiorentina dan Parma, sekaligus membuka peluang besar bagi pergantian pelatih di kursi kepelatihan.
Dua gol kemenangan Milan lahir dari kaki Christian Pulisic pada babak pertama dan Hutchinson di paruh kedua. Rossoneri tampil mendominasi hampir sepanjang pertandingan, bahkan mampu tampil solid meski kehilangan enam pemain karena cedera. Bagi Milan, tambahan tiga poin ini mengangkat mereka ke peringkat keempat, menyamai perolehan poin Roma di posisi ketiga. Sementara bagi Udinese, laga ini menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya performa tim di tengah tekanan kompetisi.
Runjaic Menolak Bicara dengan Manajemen
Di tengah badai kritik, pelatih Kosta Runjaic memilih menahan diri. Usai laga, ia menegaskan bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas situasinya dengan pihak klub. “Ini bukan momen terbaik untuk berbicara dengan manajemen. Kami kalah dan kami kecewa. Saya melihat tim yang penuh semangat dan berjuang,” ujarnya kepada DAZN.
Runjaic mengakui timnya kesulitan setelah kebobolan gol pertama dengan mudah. Meski demikian, ia menilai anak asuhnya telah mengambil langkah yang benar untuk keluar dari kesulitan. “Kami harus sedikit berbicara dan keluar dari masalah ini bersama-sama. Milan tahu cara mengelola keunggulan,” tambahnya. Pernyataan ini justru memunculkan spekulasi bahwa posisinya semakin tidak aman, terlebih manajemen Udinese dikabarkan tengah mengevaluasi situasi secara menyeluruh.
Pioli Muncul sebagai Kandidat Pengganti
Sejumlah laporan menyebut nama Stefano Pioli sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Runjaic. Keputusan final diperkirakan akan diambil dalam waktu dekat oleh manajemen klub. Bila benar terealisasi, pergantian pelatih ini menjadi upaya penyelamatan agar Udinese tidak semakin terpuruk dalam zona degradasi yang kini mengintai.
Evaluasi Performa Para Pemain
Dari sisi individu, penampilan para pemain Udinese menuai catatan kritis. Kiper Okoye mendapat nilai rendah karena kesalahan dalam proses gol kedua Milan. Lini belakang yang dihuni Abankwah, Kabasele, Palma, dan Vojvoda dinilai kesulitan mengantisipasi agresivitas lawan. Di lini tengah, Piotrowski tampil tanpa bobot dan ditarik keluar pada akhir babak pertama, sementara Kamara menjadi satu-satunya pemain yang benar-benar memberikan perlawanan dengan segudang tanggung jawab.
Di kubu Milan, Ruben Amorim menyambut kemenangan ini dengan penuh kebanggaan. Ia menilai timnya tampil kompetitif dan agresif sesuai instruksi, meski harus bermain tanpa sejumlah pemain inti. Amorim juga menyoroti perkembangan Bartesaghi, yang menurutnya perlu meningkatkan aspek defensif dan duel satu lawan satu, namun memiliki kualitas umpan silang serta kecepatan yang menjanjikan.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Pertanyaan besar kini menghantui publik Friuli: apakah Runjaic masih mendapat kepercayaan untuk memimpin Udinese keluar dari krisis, ataukah manajemen akan mengambil langkah drastis? Dengan empat poin dari sejumlah laga dan tren negatif yang belum terputus, waktu bagi Udinese untuk bangkit semakin sempit. Laga-laga berikutnya akan menjadi penentu apakah tim ini mampu menghindari ancaman degradasi atau justru semakin terbenam.
Krisis di Udinese bukan sekadar soal hasil di atas lapangan, melainkan juga soal mentalitas dan kepercayaan diri yang terkikis. Enam kekalahan beruntun adalah alarm keras bagi seluruh elemen klub. Tanpa perubahan signifikan, baik di level taktik maupun kepemimpinan, perjalanan musim ini berpotensi berakhir dengan skenario terburuk. Kini bola berada di tangan manajemen untuk menentukan arah masa depan klub.
