Danantara Buka 54 Kerja Sama Strategis dan Putar Dividen BUMN Rp 200 Triliun, Sinyal Transformasi Raksasa Ekonomi Indonesia
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Danantara Indonesia kembali menjadi sorotan setelah menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, pada Senin (26/10/2026). Forum yang berlangsung selama tiga hari, 26 hingga 28 Oktober 2026, ini menargetkan pembentukan 54 kerja sama strategis yang mempertemukan kebutuhan industri nasional dengan teknologi, riset, dan investasi global. Langkah ini menegaskan posisi danantara sebagai mesin baru penggerak investasi dan inovasi Tanah Air.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dalam sambutannya menyebut forum ini melibatkan lebih dari 30 rektor perguruan tinggi, perusahaan teknologi internasional, BUMN, serta lembaga riset dan inovasi. Ia menegaskan setiap nota kesepahaman yang ditandatangani harus memiliki tindak lanjut terukur, bukan sekadar dokumen formal.
“Setiap kesepakatan tersebut harus menghasilkan kerja nyata dan hasil yang terukur,” ujar Brian di hadapan peserta forum.
DTIIF 2026 memprioritaskan enam sektor industri. Di sektor kecerdasan buatan dan infrastruktur digital, pemerintah membuka peluang kolaborasi peneliti Indonesia dengan ARM, Microsoft, Google, dan Amazon Web Services. Sektor energi mendorong kerja sama pengembangan pasokan listrik yang lebih murah dan andal, termasuk bagi wilayah kepulauan. Sektor transportasi menyoroti kolaborasi pengembangan teknologi perkapalan yang lebih efisien. Adapun sektor lain yang menjadi fokus mencakup riset dan inovasi industri hingga pengembangan sumber daya manusia.
Putar Dividen BUMN Rp 200 Triliun
Di kesempatan yang sama, Chief Operating Officer Danantara Indonesia yang juga Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa Danantara Asset Management (DAM) akan memutar dividen perusahaan-perusahaan BUMN untuk diinvestasikan kembali melalui PT Danantara Investment Management (DIM).
“Jadi, tahun ini paling tidak kami akan memberikan Rp200 triliun atau setara kurang lebih US$12 miliar kepada Pak Pandu dan Pak Sigit,” ucap Dony.
Pandu merupakan Chief Investment Officer Danantara Indonesia, sedangkan Sigit Puji Santosa menjabat Chief Technology Officer. Keduanya berperan menginvestasikan dividen dari perusahaan pelat merah. Dony menuturkan, investasi danantara bersumber dari dividen BUMN, sehingga tata kelola perusahaan harus dijalankan dengan benar. Karena itu, danantara melibatkan Jamdatun, Jamintel, BPK, BPKP, dan KPK dalam pengawasan.
Pada tahun buku 2026, danantara menargetkan laba bersih sebesar Rp360 triliun. Angka tersebut merupakan laba nyata setelah perseroan melakukan impairment Rp135 triliun selama 18 bulan dan memangkas kerugian. Setelah transformasi, laba bersih konsolidasian BUMN tumbuh 200%.
“Dalam 18 bulan, ini merupakan restrukturisasi perusahaan yang terbesar di dunia, di mana sebanyak 1.074 perusahaan kami restrukturisasi. Pada akhirnya, akan tersisa 250 perusahaan,” jelas Dony.
Beasiswa dan Program Sosial
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menargetkan penyaluran dana filantropi minimal US$100 juta atau sekitar Rp1,66 triliun setiap tahun kepada pemerintah Indonesia melalui Danantara Indonesia Trust. Dalam peringatan satu tahun lembaga tersebut di Jakarta, Minggu (25/10/2026), Rosan menyebut dana difokuskan untuk pendidikan, kesehatan, serta air bersih dan sanitasi.
Ada tiga inisiatif utama, yakni Asa Nusantara di bidang pendidikan, Air Setara di bidang air bersih dan sanitasi, serta Bakti Sehat Nusantara di bidang kesehatan. Khusus Asa Nusantara, danantara menyediakan beasiswa bagi 800 mahasiswa S1 dan vokasi setiap tahun di bidang STEM dan ilmu kesehatan, bekerja sama dengan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin. Prioritas diberikan kepada mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah, wilayah 3T, pedesaan, daerah terdampak bencana, generasi pertama, dan penyandang disabilitas.
Program Air Setara bersama Plan Indonesia menyasar 156 desa di Timor Tengah Selatan, Manggarai, dan Belu, NTT, dengan target sekitar 230 ribu penerima manfaat dari 60 ribu rumah tangga.
Merger Garuda-Pelita Air Masih Menunggu
Soal rencana penggabungan Garuda Indonesia dan Pelita Air, Dony menegaskan danantara belum akan melakukannya dalam waktu dekat. Kedua maskapai perlu memperbaiki kinerja dan menuntaskan transformasi bisnis terlebih dahulu.
“Belum, karena kalau dimerger kan kondisinya belum betul-betul baik dua-duanya, nanti jadi beban. Jadi kita perbaiki dulu, yang Garudanya harus betul-betul sukses dulu melakukan transformasi terhadap bisnisnya,” pungkasnya.
Rangkaian langkah ini menunjukkan danantara tengah membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat, mulai dari restrukturisasi BUMN, investasi berbasis teknologi, hingga program sosial berkelanjutan. Keberhasilan eksekusi di lapangan akan menjadi penentu apakah target ambisius tersebut dapat terwujud dan memberi dampak nyata bagi perekonomian nasional.
