Binance Kehilangan Rp114 Triliun dalam Peretasan Terbesar Sepanjang Sejarah Kripto, Kecurigaan Mengarah ke Korea Utara
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | Binance, bursa kripto terbesar di dunia, menjadi korban peretasan berskala masif yang mengejutkan industri keuangan digital. Dalam insiden yang terjadi pada 29 Oktober 2026 pukul 20.05 UTC atau 30 Oktober 2026 pukul 03.05 WIB, hacker berhasil menguras dana senilai sekitar USD 6,3 miliar atau setara Rp114 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS). Peristiwa ini langsung mencuri perhatian global, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya sedang menyelidiki kemungkinan keterlibatan Korea Utara dalam serangan tersebut.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 30 Oktober, Trump mengungkapkan bahwa Binance telah memberitahunya bahwa mereka berharap dapat memulihkan dana yang dicuri dan situasi sudah sebagian besar terkendali. “Kami masih memeriksa apakah Korea Utara berada di balik serangan ini. Kita lihat saja nanti,” ujar Trump. Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap uang digital, membandingkannya dengan cek kertas tradisional karena masyarakat tidak lagi dapat melihat uang secara fisik.
Pihak Binance bergerak cepat. Melalui pernyataan resmi yang ditandatangani dua Co-CEO, Yi He dan Richard Teng, perusahaan menegaskan akan menanggung seluruh kerugian akibat pencurian tersebut. “Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Perusahaan telah menyiapkan dana lebih dari USD 6,34 miliar (sekitar Rp114,1 triliun) yang berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan kas perusahaan. Sekitar USD 5 miliar di antaranya sudah tersedia dalam bentuk mata uang kripto yang sama dengan yang dicuri, meliputi USDC, USDT, Bitcoin, Ethereum, dan BNB. Sisanya sekitar USD 1,3 miliar sedang dibeli melalui pasar dan perjanjian over-the-counter (OTC).
Richard Teng dalam sebuah video menjelaskan bahwa investigasi awal mengarah pada laptop seorang engineer DevOps yang telah disusupi. Namun, penyelidikan lanjutan menemukan sejumlah titik pembobolan tambahan. “Serangan ini tidak dilakukan oleh satu orang saja. Para hacker berhasil melewati kontrol internal dan menghapus jejak mereka seiring waktu,” kata Teng. Ia menambahkan bahwa serangan menyasar dompet digital Binance yang terhubung ke internet. Meski demikian, Binance menegaskan tidak pernah menggunakan dana nasabah untuk menutup kerugian.
Hingga saat ini, sekitar USD 3 miliar atau hampir setengah dari total dana yang dicuri telah berhasil dibekukan oleh mitra platform, dan upaya pembekuan lainnya masih terus berlanjut. Binance juga mengumumkan rencana pemulihan penarikan dana secara bertahap. Dalam pembaruan kedua pada 30 Oktober, perusahaan menargetkan penarikan dapat dimulai kembali dalam waktu sekitar 34 jam, dengan catatan layanan harus melewati pengujian ketat terlebih dahulu. “Kami berharap pengguna dapat melakukan penarikan sebelum tenggat waktu Minggu, atau dalam 40 jam,” ujar Teng. Binance juga akan menerbitkan laporan proof of reserves pada Senin untuk verifikasi publik atas asetnya.
Dari sisi atribusi, firma analisis blockchain TRM Labs menilai dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa serangan ini merupakan karya kelompok hacker TraderTraitor yang berafiliasi dengan Pyongyang. FBI sebelumnya telah mengaitkan kelompok yang sama dengan pencurian USD 1,5 miliar dari platform Bybit pada Februari 2025. Meski demikian, Binance sendiri belum secara resmi menamai pelaku. FBI mengaku telah mengetahui insiden ini dan sedang bekerja sama dengan mitra publik dan swasta untuk memahami skala serangan, menilai dampak potensial, serta mengoordinasikan langkah investigasi. Sementara itu, Kementerian Kehakiman AS belum mengonfirmasi adanya penyelidikan resmi, namun mengingatkan bahwa Binance tetap wajib bekerja sama dengan penegak hukum sesuai kesepakatan plea bargain pada 2023.
Di sisi lain, pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ) melalui akun X miliknya memberikan komentar awal yang singkat: “Ini memang terlihat seperti peretasan terhadap Binance.” Ia juga menegaskan bahwa dana pengguna aman dan menyatakan tidak ada teknologi yang 100 persen aman. Komentar-komentar CZ menjadi catatan publik yang menggambarkan bagaimana insiden ini berkembang.
Dampak pasar pun terasa. Harga Bitcoin sempat turun 3,7 persen dalam 24 jam menjadi USD 76.930 pada pukul 20.40 GMT, meski pasar secara umum tidak dalam kondisi panik. Analis dari platform Prancis Coinhouse, Stéphane Ifrah, menilai dampaknya “sangat, sangat terbatas”. Namun, Ketua CFTC Michael Selig menyoroti masalah mendasar: “Masalah sebenarnya adalah platform offshore yang tidak diatur, yang tidak memiliki pengamanan yang sama dengan pasar keuangan di Amerika Serikat.”
Dengan skala kerugian yang mencapai Rp114 triliun, peretasan Binance ini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah industri kripto, melampaui insiden Bybit. Langkah cepat Binance untuk menanggung seluruh kerugian dan membekukan sebagian dana patut diapresiasi, namun insiden ini menjadi pengingat keras akan kerentanan infrastruktur keamanan siber di sektor keuangan digital, terutama yang beroperasi lintas yurisdiksi. Publik kini menantikan hasil investigasi resmi, termasuk konfirmasi keterlibatan Korea Utara, serta pemulihan penarikan dana yang aman bagi para pengguna.
