Asos Hacked: Data Jutaan Pelanggan Bocor, Peretas Kirim Notifikasi Menakutkan
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Insiden asos hacked mengguncang dunia ritel mode daring setelah penyerang siber berhasil mengakses data pribadi pelanggan dan mengirimkan notifikasi menakutkan langsung melalui aplikasi resmi Asos. Perusahaan yang berbasis di Inggris itu akhirnya mengonfirmasi kebocoran data pada 8 Oktober 2026, mengakui bahwa pihak yang tidak berwenang telah mengakses platform pihak ketiga yang digunakan untuk komunikasi pelanggan dan memperoleh nama serta informasi kontak.
Kasus asos hacked pertama kali terungkap pada 6 Oktober ketika pengguna di seluruh Inggris menerima pesan push tak resmi dari aplikasi Asos. Notifikasi tersebut ditujukan kepada petugas perlindungan data dan tim TI perusahaan, menyatakan bahwa instans Snowflake milik Asos telah “sepenuhnya dikompromikan” dan mengancam akan membocorkan data kecuali perusahaan menghubungi mereka. Banyak pelanggan membagikan tangkapan layar pesan tersebut di media sosial, memicu kepanikan luas.
Menurut laporan BBC News, informasi yang dicuri mencakup nama, alamat rumah, nomor telepon, alamat email, hingga catatan profil pelanggan termasuk riwayat pencarian di situs web. Asos memiliki sekitar 16,5 hingga 17 juta pelanggan di seluruh dunia, namun perusahaan belum mengungkap berapa banyak yang terdampak. Meski demikian, Asos menegaskan bahwa detail kartu pembayaran dan kata sandi tidak ikut terekspos.
Modus Serangan: Rekayasa Sosial dan Kredensial Karyawan
Penyerang yang menyebut diri mereka sebagai Xuanye Group atau Xuanyewen berhasil masuk dengan menyamar sebagai kontak tepercaya dan meyakinkan seorang karyawan Asos untuk menyerahkan kredensial login. Teknik ini dikenal sebagai rekayasa sosial (social engineering), yaitu manipulasi psikologis untuk mendapatkan akses tidak sah. Kredensial tersebut kemudian digunakan untuk mengakses informasi yang tersimpan di platform pihak ketiga.
Peretas mengklaim telah mengakses lingkungan Snowflake yang terkait dengan Asos. Namun, Snowflake membantah tuduhan tersebut. Juru bicara perusahaan penyimpanan data berbasis cloud itu menyatakan bahwa masalah ini sama sekali tidak disebabkan oleh kerentanan, kelemahan, cacat, atau kesalahan konfigurasi pada layanan, platform, maupun lingkungan internal Snowflake. Pihaknya menegaskan bahwa insiden asos hacked bukan disebabkan oleh Snowflake.
Menariknya, kelompok peretas kemudian mengklaim menggunakan platform bernama Simon AI yang dibangun di atas Snowflake untuk mengakses data. Hingga kini, belum jelas apakah akun Snowflake yang terdampak mengaktifkan autentikasi multifaktor dan bagaimana peretas bisa mengakses sistem notifikasi push Asos.
Respons Asos dan Langkah Perlindungan Pelanggan
Asos bergerak cepat dengan membatasi akses peretas, menyelidiki insiden, dan bekerja sama dengan penasihat serta otoritas terkait. Perusahaan mengirimkan email permintaan maaf kepada pelanggan atas notifikasi push tidak sah yang berisi tautan eksternal, dan mengimbau agar pesan tersebut diabaikan serta tidak diklik.
Perusahaan juga mengingatkan pelanggan untuk tetap berhati-hati terhadap potensi phishing yang memanfaatkan data yang telah bocor. Berikut langkah-langkah yang disarankan bagi pelanggan yang mungkin terdampak:
- Jangan mengklik tautan apa pun dari notifikasi atau pesan mencurigakan.
- Waspadai email, telepon, atau pesan yang mengaku dari Asos dan meminta data pribadi.
- Ganti kata sandi akun Asos dan aktifkan autentikasi multifaktor.
- Pantau transaksi keuangan dan laporkan aktivitas mencurigakan.
- Gunakan kata sandi unik untuk setiap layanan daring.
BBC menemukan bahwa dampak insiden ini ternyata lebih buruk dari yang pertama kali diungkap. Data yang bocor mencakup profil rinci jutaan pengguna, sehingga risiko penyalahgunaan identitas dan penipuan menjadi sangat tinggi. Kasus asos hacked menjadi pengingat keras bahwa rantai pasokan digital, termasuk layanan pihak ketiga, menjadi titik lemah yang kerap dieksploitasi aktor jahat.
Dampak Lebih Luas bagi Industri Ritel Daring
Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber terhadap perusahaan ritel besar. Para ahli keamanan menilai bahwa kombinasi antara rekayasa sosial dan akses ke platform data terpusat menciptakan celah berbahaya. Perusahaan dituntut tidak hanya memperkuat perimeter pertahanan, tetapi juga melatih karyawan agar waspada terhadap manipulasi psikologis.
Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi mengenai jumlah pasti korban maupun tuntutan dari kelompok peretas. Otoritas terkait di Inggris terus memantau perkembangan kasus ini.
Insiden asos hacked menunjukkan bahwa keamanan siber bukan lagi sekadar urusan teknologi, melainkan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem digital. Pelanggan diimbau tetap tenang, mengikuti panduan resmi, dan tidak memberi ruang bagi peretas untuk memperoleh keuntungan lebih jauh dari data yang telah mereka curi.
