Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | Jakarta – Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] kembali menjadi sorotan publik. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026), Rizal, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai, menghadapi pertanyaan tajam dari jaksa penuntut umum KPK. Jaksa M Takdir Suhan menanyakan isi lubuk hati terdalam Rizal terkait penyesalan atas kasus suap yang menjeratnya. “Kami ingin ya tadi, lubuk hatinya terdakwa yang menyampaikan apa tadi? Penyesalan apa itu?” tanya jaksa. Rizal pun mengakui adanya suap yang mengalir ke bawahannya, terutama dari John Field, pemilik PT Blueray Cargo.
Dalam kesaksiannya, Rizal mengklaim telah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap bawahannya. Namun, ia mengaku tidak pernah menyangka praktik suap bisa terjadi. “Saya memonitor dan evaluasi dari hasil kegiatan kita dan begitu kita lihat setiap kita evaluasi saya merasa itu tidak mungkin akan terjadi hal seperti yang dilakukan oleh John Field kepada anggota saya, karena nggak ada gunanya dia ngabrit-ngabrit duit, nggak ada gunanya. Untuk apa mereka ngasih duit kalau semua perlakuannya sama? Equal treatment itu prinsip saya,” ujar Rizal. Meski demikian, ia menyadari pengawasannya belum optimal. “Ya mungkin yang saya sesalkan kenapa itu juga masih terjadi, itu, Pak Jaksa. Bagi saya, itu mungkin saya memang belum optimal untuk melakukan pengawasan secara melekat ke bawahan ke bawahan saya sehingga itu bisa terjadi,” tambahnya.
Jaksa kemudian menyinggung soal posisi Rizal yang diduga menjadi ‘bumper’ dalam kasus ini. Pertanyaan itu muncul untuk menguji sejauh mana keterlibatan Rizal dalam melindungi praktik ilegal di instansinya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban tegas dari Rizal terkait tuduhan bumper tersebut. Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] juga mengungkap bahwa pembelian alat podcast oleh Rizal bertujuan untuk memperbaiki citra Bea Cukai yang terpuruk. Alat tersebut dibeli menggunakan anggaran instansi, namun jaksa menduga ada penyalahgunaan wewenang.
Dalam persidangan, terungkap bahwa Rizal berupaya membangun narasi positif melalui podcast internal. Ia berharap media tersebut dapat mengembalikan kepercayaan publik terhadap Bea Cukai. Namun, upaya itu justru menjadi bumerang karena kasus suap John Field terus mencuat. John Field sendiri telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman, yang memperkuat dugaan adanya aliran suap ke oknum pegawai Bea Cukai. Rizal mengakui bahwa fakta persidangan menunjukkan suap benar-benar terjadi. “Berarti memang ada suap yang diberikan, kan begitu,” akunya.
Kasus ini menjadi pukulan telak bagi institusi Bea Cukai yang tengah berbenah. Publik menuntut transparansi dan akuntabilitas. Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] menjadi pengingat bahwa upaya pencitraan tanpa perbaikan sistem hanya akan sia-sia. Jaksa KPK terus menggali peran Rizal, termasuk kemungkinan keterlibatannya dalam mengatur aliran dana suap. Kuasa hukum Rizal belum memberikan komentar resmi terkait pertanyaan jaksa soal ‘bumper’.
Pengamat antikorupsi menilai kasus ini harus menjadi momentum reformasi total di Bea Cukai. Mereka menyoroti pentingnya pengawasan melekat dan sistem whistleblowing yang efektif. Sementara itu, Rizal dalam persidangan tampak berusaha menampilkan diri sebagai pemimpin yang peduli citra instansi. Namun, jaksa tetap fokus pada bukti-bukti suap yang melibatkan bawahannya. Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya.
Dalam konteks pemberantasan korupsi, kasus ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan citra tidak cukup hanya dengan alat podcast atau kampanye media. Diperlukan komitmen nyata untuk membersihkan institusi dari praktik suap. Rizal sendiri mengaku menyesal dan merasa pengawasannya belum optimal. Ia berjanji akan kooperatif menjalani proses hukum. Namun, publik menunggu apakah pengadilan akan mengungkap aktor intelektual di balik suap yang melibatkan John Field.
Sebagai penutup, sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] menyisakan pertanyaan besar tentang integritas institusi. Kasus ini harus menjadi pelajaran bahwa pencitraan tanpa perbaikan tata kelola hanya akan menjadi topeng yang cepat atau lambat akan tersingkap. Penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pejabat yang mencoba menutupi kelemahan sistem dengan pembelian alat podcast. Masyarakat berharap vonis adil bagi semua pihak yang terlibat.
Penulis: Syaifullah, Oktavianus A
Editor: Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber: Liputan langsung sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat

