Real Valladolid Tumbang di Menit 94: Drama Kontroversial yang Bikin Zorrilla Terdiam
Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Real Valladolid harus menelan pil pahit di hadapan pendukungnya sendiri. Dalam laga pekan ke-10 LaLiga Hypermotion yang digelar di Stadion José Zorrilla, Minggu (18/10/2026), tim berjuluk Pucela itu kalah 2-3 dari Eldense melalui gol dramatis di menit ke-94. Kekalahan ini menjadi yang kedua bagi Real Valladolid di kandang musim ini, sekaligus membuyarkan momentum kebangkitan yang tengah mereka bangun.
Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak awal. Real Valladolid membuka keunggulan pada menit ke-24 lewat sundulan kepala Adrián Arnu, memanfaatkan umpan silang Julien Ponceau dari sisi kiri. Gol tersebut sempat membangkitkan optimisme, namun justru memicu reaksi balik dari Eldense. Jorge Rastrojo menyamakan kedudukan pada menit ke-41 setelah memanfaatkan bola liar di depan gawang, sebelum Aingeru Olabarrieta membalikkan keadaan menjadi 1-2 tepat sebelum turun minum.
Gol kedua Eldense lahir dari rangkaian kesalahan di lini belakang Real Valladolid. Pablo Tomeo gagal mengantisipasi bola keluar dari gawang, lalu Trilli membiarkan lawan merebut bola dan berhadapan satu lawan satu dengan kiper Álvaro Aceves. Blunder berlapis itu menjadi sorotan tajam dalam evaluasi pascapertandingan.
Memasuki babak kedua, Real Valladolid tampil lebih agresif. Namun petaka datang pada menit ke-72 ketika Víctor Jr menerima kartu kuning kedua setelah melanggar lawan saat berusaha merebut kembali bola. Bermain dengan sepuluh orang, Pucela justru mampu menyamakan kedudukan lewat sundulan Víctor Barberá pada menit ke-82, memanfaatkan situasi sepak pojok. Zorrilla bergemuruh, dan harapan untuk setidaknya meraih satu poin kembali menyala.
Sayang, harapan itu pupus di menit ke-94. Mariano Carmona melepaskan diri dari penjagaan Tomeo dan menaklukkan Aceves untuk kali ketiga. Gol tersebut memastikan tiga poin bagi Eldense dan meninggalkan luka mendalam bagi Real Valladolid.
Pelatih Fran Escribá mengakui kekalahan ini sangat menyakitkan. “Sangat menyakitkan, tetapi tidak ada pilihan lain selain bangkit karena dalam lima hari kami akan bertanding lagi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya segera melupakan hasil buruk ini dan fokus pada laga berikutnya melawan Granada di kandang lawan, Jumat (23/10/2026).
Di sisi lain, ada catatan positif bagi lini serang Real Valladolid. Arnu kini memimpin daftar pencetak gol tim dengan empat gol, seluruhnya tercipta di Zorrilla. Penyerang muda itu mencetak gol ke gawang Córdoba, dua gol ke Albacete, dan satu ke Eldense. Ia mengungguli Juanmi Latasa yang baru mengoleksi tiga gol. Sementara itu, Barberá menyamai torehan Ponceau dengan dua gol. Secara keseluruhan, tujuh pemain telah menyumbang gol bagi Real Valladolid, dengan total 14 gol ditambah satu gol bunuh diri lawan, menjadikan 15 gol di liga. Menariknya, 57,1 persen gol tim musim ini lahir dari sundulan kepala.
Meski demikian, masalah konsistensi masih menghantui. Performa pemain seperti Thiago Ojeda yang jauh menurun dibanding laga melawan Albacete, serta sifat angin-anginan Ponceau yang sempat memberi asis tetapi kemudian menghilang, menjadi pekerjaan rumah bagi Escribá. Kekalahan ini menempatkan Real Valladolid pada posisi yang menuntut pembenahan cepat, terutama dalam disiplin bertahan dan pengambilan keputusan di momen krusial.
Dengan jadwal padat yang menanti, Real Valladolid tidak punya waktu lama untuk meratapi hasil ini. Laga melawan Granada akan menjadi ujian karakter sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa kekalahan dramatis di Zorrilla hanyalah sebuah kecelakaan, bukan awal dari tren buruk yang lebih panjang.
