Lo Kheng Hong Pegang 5,67% Saham ABMM, RUPSLB Gonjang-Ganjing Direksi Emiten Tambang
Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pasar modal Tanah Air. Pria yang kerap dijuluki Warren Buffett dari Indonesia itu tercatat menggenggam 5,67% saham PT ABM Investama Tbk (ABMM) per 30 September 2026, menjadikan emiten pertambangan dan energi tersebut salah satu favorit di portofolio sahamnya.
Kepemilikan Lo Kheng Hong itu menjadi perhatian ketika ABMM menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 15 Oktober 2026. Rapat yang berlangsung secara elektronik pada pukul 14.00-15.00 WIB tersebut memiliki agenda utama perubahan susunan anggota direksi perseroan.
Meski digelar secara elektronik, mekanisme rapat tetap menghadirkan sejumlah pihak secara fisik di Jakarta Selatan, mulai dari pimpinan rapat, anggota direksi, anggota dewan komisaris, notaris, hingga lembaga atau profesi penunjang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pergantian direksi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Latar Belakang Pergantian Direksi
Perubahan susunan direksi tersebut dilakukan untuk memenuhi ketentuan anggaran dasar perseroan dan POJK No. 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik. RUPSLB ini berkaitan erat dengan pengunduran diri Haris Mustarto dari jabatannya sebagai anggota direksi ABMM, yang permohonannya telah diterima oleh perseroan.
Bagi pasar, langkah korporasi ini menjadi sinyal bahwa ABMM tengah merapikan struktur manajemennya. Pergantian direksi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan strategi bisnis emiten di sektor pertambangan dan energi yang dikenal sangat dinamis, terlebih di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Kepercayaan Lo Kheng Hong terhadap ABMM bukan tanpa alasan. Investor senior itu dikenal konsisten memilih saham berbasis nilai dengan fundamental kuat dan valuasi yang menarik. Kepemilikan 5,67% saham menjadikan posisinya cukup signifikan untuk ikut mengawal arah kebijakan perseroan, termasuk dalam momen pergantian direksi seperti saat ini.
Dividen Rp 97 per Saham
Selain soal pergantian direksi, ABMM juga memiliki catatan positif dari sisi pembagian keuntungan. Perseroan akan membagikan dividen untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 97 per saham. Kebijakan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang mengutamakan imbal hasil, termasuk Lo Kheng Hong yang dikenal loyal pada emiten-emiten dengan arus kas sehat.
Pembagian dividen tersebut menegaskan komitmen ABMM dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Di saat banyak emiten menahan kas untuk ekspansi, langkah ABMM membagi dividen menunjukkan kondisi keuangan yang relatif stabil dan kemampuan perseroan menghasilkan laba.
| Informasi Kunci | Keterangan |
|---|---|
| Kepemilikan Lo Kheng Hong | 5,67% saham ABMM per 30 September 2026 |
| Agenda RUPSLB | Perubahan susunan anggota direksi |
| Alasan pergantian | Pengunduran diri Haris Mustarto |
| Dividen tahun buku 2025 | Rp 97 per saham |
Dampak bagi Investor
Bagi investor ritel, jejak Lo Kheng Hong di ABMM kerap menjadi rujukan dalam mengambil keputusan investasi. Sosoknya dikenal sebagai investor yang sabar dan berorientasi jangka panjang, sehingga kepemilikannya di sebuah emiten sering dianggap sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek perusahaan.
Namun, pengamat pasar mengingatkan bahwa keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis fundamental dan profil risiko masing-masing investor. Pergantian direksi, pembagian dividen, dan perubahan komposisi kepemilikan saham merupakan dinamika yang perlu dicermati secara menyeluruh, bukan sekadar mengikuti langkah satu tokoh.
Dengan kombinasi kepemilikan Lo Kheng Hong, agenda RUPSLB, dan pembagian dividen, ABMM berada di titik perhatian pasar. Langkah korporasi yang diambil perseroan dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi penentu apakah kepercayaan investor senior tersebut terus berlanjut.
Secara keseluruhan, kisah Lo Kheng Hong dan ABMM menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menyimpan daya tarik bagi investor berbasis nilai. Pergantian direksi melalui RUPSLB menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang sehat, sementara dividen Rp 97 per saham menjadi bukti nyata manfaat bagi pemegang saham. Bagi publik, dinamika ini menjadi pembelajaran bahwa kepemilikan saham jangka panjang yang didasari riset mendalam kerap membuahkan hasil, sejalan dengan prinsip yang selama ini dipegang Lo Kheng Hong.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber: CNBC Indonesia, Liputan6
