Udang Windu Kukar Tembus Pasar Amerika dan Eropa, Produktivitas Tambak Jadi PR Besar
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Komoditas Udang Windu Kukar Tembus Pasar Amerika dan Eropa menjadi salah satu kabar menggembirakan bagi sektor perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Udang windu yang selama ini menjadi primadona petambak lokal terbukti mampu menembus pasar internasional, meski di sisi lain masih menyisakan pekerjaan rumah besar terkait produktivitas budi daya yang belum optimal.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengungkapkan bahwa udang windu masih memiliki pasar ekspor yang sangat menjanjikan. Selain Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, komoditas tersebut juga dipasarkan ke Inggris hingga Jepang.
“Udang windu kita sudah memiliki pasar di Eropa. Ke Amerika, Eropa, termasuk Inggris, kemudian kadang-kadang ke Jepang,” ungkap Muslik di Tenggarong, Senin (19/10/2026).
Produktivitas Tambak Masih Rendah
Meski memiliki pasar ekspor yang jelas, produktivitas tambak udang di Kukar masih tergolong rendah. Muslik menyebutkan bahwa rata-rata produksi tambak saat ini hanya sekitar 50 kilogram per hektare. Angka ini tentu sangat jauh bila dibandingkan dengan potensi maksimal yang bisa dicapai melalui pengelolaan yang lebih modern.
Rendahnya produktivitas tersebut tidak terlepas dari pola budi daya yang masih mengandalkan sistem tradisional. Petambak umumnya menggunakan tanggul dan pintu air, kemudian menebar benih tanpa pemberian pakan tambahan secara intensif. Pengelolaan tambak juga bergantung sepenuhnya pada pasang surut air, sehingga hasil produksi belum maksimal, terutama untuk udang windu yang membutuhkan waktu pemeliharaan lebih panjang.
“Udang windu umumnya baru dapat dipanen paling cepat sekitar enam bulan hingga satu tahun. Sementara itu, hasil panen tambak yang lebih sering diperoleh petambak biasanya berupa udang binti dan jenis ikan lainnya,” jelasnya.
Sebagai perbandingan, sistem budi daya intensif mampu menghasilkan produksi yang jauh lebih tinggi. Pada komoditas udang vaname, produktivitasnya dapat mencapai lima hingga delapan ton per hektare. Perbedaan yang sangat signifikan ini menunjukkan betapa besarnya ruang perbaikan yang tersedia bagi para petambak udang windu di Kukar.
“Kita sebenarnya juga ingin mencoba jenis vaname. Namun, di wilayah tertentu kita masih berpegang pada udang windu karena sudah memiliki pasar,” tuturnya.
Komoditas Ekspor Lainnya
Selain udang windu, Kukar juga memiliki sejumlah komoditas perikanan lain yang dipasarkan ke luar negeri. Di antaranya kepiting, kerang dara yang dikirim ke Thailand dan Hong Kong, serta ikan betutu yang memiliki pasar di Singapura, Taiwan, dan Hong Kong.
Muslik menyebutkan, khusus ikan betutu, permintaannya cenderung meningkat pada musim tertentu, seperti menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, ketersediaan ikan tersebut kini semakin terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara permintaan pasar dan kelestarian sumber daya.
Keberhasilan Udang Windu Kukar Tembus Pasar Amerika dan Eropa tentu tidak lepas dari kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas produk perikanan daerah. Hal ini menjadi modal berharga yang harus dijaga dan dikembangkan melalui perbaikan tata kelola budi daya, pendampingan teknis bagi petambak, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Harapan Peningkatan Pendapatan Pembudi Daya
Muslik menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan usaha perikanan dan kebutuhan masyarakat. Dengan pasar ekspor yang sudah tersedia, peningkatan produktivitas dan pengelolaan budi daya diharapkan dapat memperkuat posisi udang windu Kukar sekaligus meningkatkan pendapatan para pembudi daya.
“Kami terus memantau perkembangan usaha perikanan dan kebutuhan masyarakat. Dengan pasar ekspor yang sudah tersedia, peningkatan produktivitas dan pengelolaan budi daya diharapkan dapat memperkuat posisi udang windu Kukar sekaligus meningkatkan pendapatan pembudi daya,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, kabar Udang Windu Kukar Tembus Pasar Amerika dan Eropa merupakan peluang emas yang perlu disikapi dengan serius. Di satu sisi, capaian ini membuktikan bahwa produk perikanan daerah mampu bersaing di kancah global. Di sisi lain, rendahnya produktivitas tambak menjadi pengingat bahwa tanpa perbaikan sistem budi daya, peluang tersebut berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pembudi daya, dan pelaku usaha menjadi kunci. Modernisasi tambak, pemberian pakan yang lebih terukur, serta pendampingan berkelanjutan perlu menjadi prioritas agar komoditas unggulan ini tidak hanya mampu menembus pasar internasional, tetapi juga memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat Kutai Kartanegara.
