Dolar Bergerak Liar di Tiga Benua: Dari Blue Argentina hingga Peso Meksiko yang Tertekan
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Pergerakan nilai tukar dolar kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan global pada awal pekan ini. Dari pasar informal Buenos Aires hingga meja transaksi di Ciudad de México dan Bogotá, mata uang Amerika Serikat itu menunjukkan dinamika yang berbeda-beda, mencerminkan beragamnya tekanan ekonomi yang dihadapi negara-negara berkembang. Investor dan pelaku usaha kini mencermati setiap pergerakan dolar sebagai indikator penting stabilitas ekonomi domestik masing-masing negara.
Di Argentina, otoritas moneter menerapkan kebijakan yang cukup longgar sejak April 2025, di mana masyarakat dapat membeli valuta asing tanpa batasan di bank-bank resmi. Kurs dolar resmi yang dikendalikan Banco Central (BCRA) dibuka setiap hari kerja pukul 10.00 waktu setempat, mengikuti jam operasional perbankan. Namun, di samping kurs resmi, pasar tetap mengenal dolar blue, yaitu kurs informal yang menjadi acuan banyak warga Argentina dalam bertransaksi sehari-hari.
Pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, dolar blue di Ciudad de Buenos Aires diperdagangkan pada level 1.540 peso untuk pembelian dan 1.560 peso untuk penjualan. Sepanjang tahun berjalan, kurs ini tercatat naik sekitar 30 peso atau setara 1,96 persen. Sepanjang tahun ini, dolar blue sempat menyentuh 1.400 peso pada April, lalu merangkak naik ke 1.430 peso pada Mei, 1.515 peso pada Juni, dan bertahan di kisaran 1.555 hingga 1.560 peso pada Juli, Agustus, dan September. Pola ini menunjukkan bahwa meski fluktuatif, tekanan terhadap peso Argentina cenderung stabil dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, di Meksiko, peso justru menunjukkan performa yang lebih kuat terhadap dolar. Pada penutupan perdagangan Senin, peso menguat 0,39 persen ke level 18,4326 unit per dolar, berdasarkan data Banco de México. Sepanjang sesi, kurs bergerak dalam rentang 18,41 hingga 18,45 unit. Penguatan ini ditopang oleh melemahnya indeks dolar sebesar 0,15 persen ke 101,99 poin, serta minimnya agenda ekonomi yang dapat mengguncang pasar.
Analis menilai pernyataan Presiden Federal Reserve, Kevin Warsh, turut menenangkan pelaku pasar. Ia enggan merinci hasil rapat bank sentral pada 27 Oktober mendatang, tetapi menegaskan perlunya data ekonomi tambahan sebelum memutuskan arah suku bunga. Sikap tersebut menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga bulan ini dari 27 persen menjadi 15 persen. Di sisi lain, pernyataan Presiden Claudia Sheinbaum mengenai kesiapan dialog dengan pemerintahan Donald Trump terkait revisi perjanjian dagang T-MEC juga memberikan sentimen positif bagi peso.
Meski demikian, gambarannya tidak sepenuhnya cerah. Peso Meksiko tercatat telah mengalami pelemahan selama enam pekan berturut-turut, dengan penutupan Jumat di level 18,4895 unit per dolar, depresiasi harian 0,51 persen, dan penurunan mingguan 0,54 persen. Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi dan aktivitas ekonomi dari Inegi untuk menentukan arah berikutnya. Ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga di Meksiko dan Amerika Serikat disebut menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan peso.
Berbeda lagi dengan Kolombia. Pada pembukaan perdagangan Senin, dolar Amerika Serikat diperdagangkan dengan Tasa Representativa del Mercado (TRM) sebesar 3.174,67 peso Kolombia, menurut Banco de la República. Angka ini menunjukkan pemulihan beberapa poin dibanding laporan 16 Oktober 2026, menandakan dolar kembali menguat terhadap mata uang lokal. Seperti biasa, rumah-rumah penukaran valas di berbagai kota menetapkan harga beli dan jual secara independen, sehingga masyarakat disarankan membandingkan kurs sebelum bertransaksi karena harga jual umumnya lebih tinggi daripada harga beli.
Dinamika di tiga negara ini menggambarkan betapa kompleksnya peran dolar dalam perekonomian global. Bagi Argentina, keberadaan dua kurs mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan kebutuhan devisa dengan stabilitas moneter. Bagi Meksiko, penguatan peso ditopang ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di Amerika Serikat. Sementara bagi Kolombia, pergerakan dolar sangat memengaruhi sektor ekspor seperti kopi, minyak, dan bunga, yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi Meksiko, hasil rapat The Fed pada 27 Oktober, serta perkembangan negosiasi dagang kawasan. Ketiga faktor ini berpotensi menentukan apakah dolar akan terus menguat atau justru melemah terhadap mata uang negara-negara berkembang. Bagi investor dan pelaku usaha, pemantauan harian terhadap pergerakan kurs menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko nilai tukar. Fluktuasi yang terjadi pada awal pekan ini menegaskan bahwa dolar tetap menjadi barometer utama yang tidak bisa diabaikan dalam setiap pengambilan keputusan ekonomi.
