Azerbaijan di Pusaran Gejolak: Dari Piala Dunia U-15 hingga Retaknya Poros Baku-Ankara
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Nama azerbaijan kembali mencuat dalam pemberitaan internasional, bukan hanya karena prestasi olahraga, tetapi juga dinamika geopolitik yang kian memanas. Dalam sepekan terakhir, negara di kawasan Kaukasus Selatan ini menjadi tuan rumah berbagai peristiwa penting, mulai dari turnamen sepak bola usia dini hingga pertemuan tingkat tinggi organisasi regional. Namun, di balik gemerlapnya Baku sebagai pusat kegiatan internasional, tersimpan ketegangan diplomatik yang mengubah peta kekuatan di kawasan.
Piala Dunia dan Festival U-15 FIFA 2026 resmi digelar di Baku, Azerbaijan, pada 22 hingga 30 Oktober. Ajang perdana ini menjadi panggung bagi talenta muda dari berbagai belahan dunia. Timnas Indonesia U-15 turut ambil bagian dan ditempatkan di Grup G bersama Portugal, Bangladesh, Burundi, Fiji, dan Wales. Skuad Garuda Muda diasuh Furqon Alkatiri, mantan pelatih Persija U-20. Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyambut baik inisiatif FIFA tersebut. “Ini merupakan langkah besar FIFA untuk meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap sepak bola sekaligus memperkuat pembinaan talenta muda sejak usia dini,” ujarnya. Turnamen ini menggunakan format 8 lawan 8 dengan durasi dua kali 20 menit, diawali babak kualifikasi round-robin.
Sementara itu, di dunia sepak bola klub Eropa, Borussia Dortmund harus menempuh perjalanan melelahkan ke Azerbaijan. Setelah kalah 0-1 di Bodø, Norwegia, dan bermain imbang 0-0 di Berlin, tim asuhan pelatih anyar ini menghadapi Sabah di Baku. Total sekitar 11.300 kilometer telah mereka tempuh dalam tujuh hari. Kiper timnas Swiss, Gregor Kobel, berharap Dortmund bisa mengakhiri pekan berat dengan kemenangan. Laga lain yang tak kalah menarik adalah bentrokan Paris Saint-Germain melawan Barcelona, di mana PSG yang diperkuat peraih Ballon d’Or Ousmane Dembélé telah mencetak sepuluh gol di dua laga awal Liga Champions, sedangkan Barcelona sembilan gol. Sejarah pertemuan kedua tim seimbang, namun PSG unggul dalam lima pertemuan terakhir, termasuk kemenangan 4-1 di Camp Nou pada April 2024.
Di ranah diplomasi, Menteri Luar Negeri Sri Lanka Vijitha Herath menyelesaikan kunjungan resmi dua hari ke Baku. Ia memimpin delegasi negaranya pada KTT ke-7 Conference on Interaction and Confidence Building Measures in Asia (CICA) yang digelar 15 Oktober 2026 di bawah kepemimpinan Azerbaijan. KTT tersebut dihadiri kepala negara, wakil presiden, dan menteri luar negeri dari 28 negara anggota. Dalam pidatonya, Herath menekankan pentingnya konektivitas, transformasi digital, dan kemitraan yang lebih erat untuk integrasi ekonomi kawasan. KTT ditutup dengan adopsi Deklarasi Baku, penerimaan Laos sebagai anggota penuh, perpanjangan kepemimpinan Azerbaijan untuk 2026-2028, dan penunjukan Sultan Hajiyev sebagai Sekretaris Jenderal CICA. Herath juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah mitra, termasuk Azerbaijan, Bahrain, Tajikistan, Turki, dan Palestina, serta mengunjungi perusahaan energi SOCAR.
Namun, di balik citra Azerbaijan sebagai tuan rumah yang ramah, hubungan Baku dengan Ankara justru mengalami keretakan tajam. Larangan penggunaan hijab di sekolah-sekolah Azerbaijan memicu protes internal dan bentrokan diplomatik yang tak terduga dengan Turki. Konflik ini mengungkap perubahan radikal arah geopolitik Azerbaijan yang kini lebih condong ke Amerika Serikat, Israel, dan Inggris. Hubungan dengan Rusia juga memanas setelah insiden penembakan pesawat Azerbaijan di Grozny pada Desember 2024 oleh sistem pertahanan udara Rusia. Meski konflik sempat diredakan melalui pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, kepercayaan belum pulih sepenuhnya. Aliyev bahkan terang-terangan menyebut hanya Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai satu-satunya negara adidaya.
Ketegangan dengan Turki memuncak ketika delegasi Azerbaijan menolak meninggalkan aula PBB saat pidato Benjamin Netanyahu, dan badan negara Azerbaijan menuduh Turki diam-diam berdagang dengan Israel. Penasihat Erdogan mengkritik larangan hijab, dan partai berkuasa Azerbaijan membalas bahwa formula “dua negara, satu bangsa” tidak memberi hak untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri. Sementara itu, hubungan dengan Iran juga memburuk. Teheran mengecam jalur transportasi Trump, mendukung protes anti-larangan hijab, dan menuduh Aliyev membantu “Zionis”. Azerbaijan kini seolah berada dalam lingkaran ketegangan dengan semua tetangga besarnya: Rusia, Iran, Turki, bahkan Georgia.
Di sisi lain, penegakan hukum dalam negeri Azerbaijan terus berjalan. Jaksa penuntut umum telah menuntut tujuh orang yang berbasis di Turki karena diduga menyerukan pengambilalihan kekuasaan secara paksa dan menghasut kebencian agama. Pengadilan Distrik Binagadi Baku memerintahkan penangkapan mereka secara in absentia dan memasukkan mereka ke daftar pencarian internasional. Tuduhan mencakup Pasal 281.2 (seruan publik berulang untuk pengambilalihan kekuasaan secara paksa), Pasal 283.2.1 (menghasut kebencian agama), dan Pasal 167-3.1 (menyiapkan, menyimpan, dan menyebarkan materi ekstremisme agama). Para tersangka disebut membuat pernyataan di media sosial antara 25 September dan 18 Oktober 2026.
Dengan segala dinamika yang ada, Azerbaijan membuktikan diri sebagai aktor penting di kawasan yang tidak bisa diabaikan. Dari lapangan hijau Piala Dunia U-15 hingga meja perundingan CICA, dari hiruk-pikuk bursa transfer sepak bola Eropa hingga ketegangan diplomatik dengan Turki dan Iran, Azerbaijan terus menjadi sorotan. Bagaimana Baku menavigasi tekanan internal dan eksternal akan menentukan stabilitas Kaukasus Selatan dan hubungannya dengan kekuatan-kekuatan besar dunia. Yang jelas, Azerbaijan bukan lagi sekadar negara penyeimbang; ia kini berada di garis depan pergulatan geopolitik yang semakin kompleks.
